Menyedihkan, Begini Pandangan Pengamat tentang Golkar di Masa Airlangga Hartanto

Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso
31 Juli 2019 09:47 WIB Lalu Rahadian News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Pakar politik Satyo Purwanto menilai kualitas Partai Golkar menurun menjadi parpol medioker. Anggapan ini muncul karena turunnya elektabilitas Golkar di Pemilu 2019.

Menurutnya, Golkar selama ini merupakan parpol yang diperhitungkan dalam setiap pemilu dan konsolidasi politik. Namun, kondisi itu tak ditemukan lagi sejak Golkar dipimpin Ketua Umum Airlangga Hartanto.

"Seharusnya Golkar yang berada di posisi kedua di Pileg, dia seharusnya bisa menentukan arahnya ke mana. Kapasitas Golkar itu bukan kelas medioker," kata Satyo dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (30/7/2019).

Perolehan suara Golkar di Pileg 2019 menurun dibanding Pileg 2014. Pada pemilu lima tahun lalu, partai beringin ini mendapat 14,7% suara dan menjadi peraih suara terbanyak kedua.

Akan tetapi, suara Golkar merosot hingga 12,31% pada Pileg 2019. Perolehan itu di bawah suara PDI Perjuangan yang meraih 19,33% dan Gerindra dengan 12,57%.

Menurut Satyo, penurunan citra dan suara Golkar diakibatkan salah satunya oleh kurangnya kecakapan Airlangga dalam menjalankan tugas sebagai Ketua Umum. Dia menganggap harusnya Airlangga bisa memimpin kader-kader Golkar untuk melakukan manuver dan punya nilai tawar kuat.

Karena menurunnya elektabilitas dan kualitas Golkar, maka Satyo menganggap wajar jika kader Golkar akhirnya mengevaluasi kepemimpinan Airlangga.

"Golkar harusnya bisa mengusung kader untuk menjadi ketum dan menuju partai besar. Hari ini yang masuk sebagai partai besar justru Gerindra. Harusnya ketum Golkar ini levelnya sama dengan PDIP dan Gerindra," ujarnya.

Sebagai catatan, selain rendah, suara Golkar di Pileg 2019 juga berada di bawah target.

Sebelum Pileg 2019, Airlangga sempat menyerukan target agar partainya meraih 110 kursi di DPR RI hasil Pemilu tahun ini. Namun, dengan perolehan saat ini, Golkar diprediksi hanya bisa mendapat 85 kursi.

Sumber : bisnis.com