Dedi Mulyadi Sebut Jika Munaslub Diajukan, Ada yang Kesengsem Urusan Kabinet

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi - Istimewa
24 Juni 2019 14:17 WIB Wisnu Wage Pamungkas News Share :

Harianjogja.com, BANDUNG--Desakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar merupakan manuver sejumlah pihak mengincar jatah kursi Menteri di Pemerintahan Jokowi-Maruf. Demikian disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Ia mengatakan saat ini tidak ada hal mendesak yang membuat Partai Golkar harus segera menggelar Munas.

Tidak ada peristiwa politik yang dihadapi Golkar saat ini, yang ada tentang menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi tentang pilpres dan pileg,” kata Dedi saat dihubungi, Senin (24/6/2019).

Peristiwa lain yakni menunggu perumusan dan penetapan kabinet yang merupakan hak prerogatif presiden. Termasuk memilih tokoh Golkar yang memiliki kapasitas dan jabatan untuk menjadi menteri.

“Munas itu agenda pembicaraan Golkar menghadapi 2024. Karena bicaranya lima tahun ke depan tidak mesti tergesa-gesa Bulan Oktober,” ujar Dedi.

Karena itu, munas yang dalam jadwal baru akan digelar Desember 2019 menurutnya tinggal dipatuhi seluruh pihak secara normal.

“Kalau ingin Bulan Oktober berarti ada pihak-pihak yang kesengsem memiliki peran politik di Bulan Oktober hubungannya dengan presiden, urusan kabinet,” kata Dedi.

Desakan Munas

Menurut Dedi indikasi tersebut menunjukan desakan munas berasal dari urusan elite dan orang per orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kondisi Partai Golkar saat ini.

“Bukan murni urusan kepartaian,” ujarnya.

Terkait alasan sejumlah pihak yang menuding Airlangga gagal mempertahankan 91 kursi Golkar di DPR RI sebagai alasan perlunya Munaslub, Dedi menilai alasan tersebut tidak melihat kondisi riil Golkar menjelang Pileg 2019.

“Golkar empat kali munas, Pak Airlangga jadi ketua umum ketika Golkar dalam kondisi sangat terpuruk,” kata dia.

Menurutnya Airlangga mampu memimpin Golkar meraih 85 kursi saat partai tersebut mendapat citra negatif kasus Setya Novanto dan Idrus Marham dan kasus hukum lain, bahkan survei memprediksi kursi Golkar di bawah dua digit.

“Justru kami menilai raihan 85 kursi dalam situasi berat seperti ini masih raihan yang bagus,” ujarnya.

Dedi mengaku kondisi ini dirasakan saat dirinya mengkampanyekan Golkar di lapangan. Namun, meski pada situasi konsolidasi yang terbilang pendek, Golkar masih bisa menunjukan hasil di Pileg 2019.

“Sangat berat, tidak ada electoral effect dari pilpres, opini negatif, 85 kursi itu sudah baik,” tegas Dedi.

Pihaknya juga menegaskan urusan munas maupun munaslub merupakan urusan dapur Golkar. Para pihak yang berhak membicarakan hal ini menurutnya terbatas hanya pada Dewan Pembina, DPD Golkar tingkat I dan II dan Ketua Umum.

 

Sumber : Bisnis.com