Kecelakaan Maut Avanza Vs Bus Rosalia di Semarang Diduga karena Human Error

Ilustrasi garis polisi. - www.witf.org
24 Juni 2019 04:47 WIB Imam Yuda Saputra News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG — Kecelakaan maut antara mobil Toyota Avanza berpelat nomor B 157 NIK dan bus Rosalia Indah di Jl. Raya Boyolali-Salatiga, Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (23/6/2019) dini hari yang menewaskan tujuh orang diduga karena human error.

Kapolres Semarang, AKBP Adi Sumirat, menyebut dugaan sementara penyebab kecelakaan itu saat ini masih dalam proses penyelidikan. Meski demikian, pihaknya menduga kecelakaan itu disebabkan sopir Avanza, M. Imam Sholahudin, 44, warga Warung Jati Timur II/59 RT 006/RW 004, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, mengantuk.

“Dugaan sementara kami, sopir mobil mengantuk hingga menyebabkan kecelakaan,” ujar Adi kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Minggu siang.

Berdasarkan laporan kepolisian, kecelakaan lalu lintas yang terjadi sekitar pukul 02.50 WIB berawal saat mobil Avanza yang bermuatan 8 orang penumpang itu melaju dari arah Boyolali menuju Salatiga. Sesampainya di lokasi kejadian, tiba-tiba mobil nampak oleng ke sebelah kanan hingga melewati markah jalan atau lajur kendaraan dari arah yang berlawanan.

Nahas bagi penumpang mobil Avanza itu. Dari arah berlawanan melaju Bus Rosalia Indah berpelat nomor AD 1451 DF yang dikendarai Budi Priyanto, 49, warga Perum Suka Makmur RT 004/RW 010, Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.

Alhasil, benturan antara kedua kendaraan itu pun tak terhindari. Akibat kecelakaan itu, tujuh orang yang berada di mobil Avanza tewas, termasuk sopir. Sementara satu penumpang lainnya, mengalami luka-luka dan saat ini menjalani perawatan di RSUD Salatiga. Korban yang masih dirawat di RSUD Salatiga itu, yakni Muhammad Nuruddinillah, 17, yang mengalami luka di bagian kepala.

“Sedangkan untuk sopir bus, saat ini masih kita tahan untuk menjalani proses pemeriksaan,” imbuh Kapolres Kabupaten Semarang.

Sumber : JIBI/Solopos