100.230 Orang di Jawa Dilanda Kekeringan, Terbanyak di Gunungkidul

Warga mengambil air dari sumur sawah di Dusun Ngasem, Monggot, Gundih, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (3/9/2018). - Antara/Yusuf Nugroho
23 Juni 2019 17:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sebagian wilayah Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), dan DIY mulai mengalami kekeringan. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rita Rosita mengatakan sedikitnya 100.230 warga sudah terpapar dampak kekeringan.

"BPBD setempat telah mengirimkan air bersih ke beberapa wilayah untuk menangani kekeringan," kata dia melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Rita mengatakan di DIY, kekeringan terjadi di 57 desa di Gunungkidul dan dialami 24.166 kepala keluarga atau 85.000 jiwa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah mengirimkan 900.000  liter air bersih ke wilayah Girisubo, Rongkop, Tepus, dan Paliyan.

"Di Jawa Tengah, kekeringan terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Cilacap, yaitu Kewungetan dan Patimuan. Sebanyak 3.984 kepala keluarga atau 14.253 jiwa terdampak," kata dia.

BPBD Kabupaten Cilacap telah mengirimkan 24 mobil tangki yang masing-masing berkapasitas 5.000 liter air bersih ke Desa Ujung Manik, Desa Sidamukti, Dusun Gendiwung Cagak, dan Dusun Langenkepuh.

Kekeringan di Jawa Timur terpantau di Desa Trosono, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Sebanyak 287 kepala keluarga atau 977 jiwa terdampak situasi yang disebabkan musim kemarau tersebut.

"Kekeringan telah dilaporkan sejak Senin (17/6/2019) lalu sehingga telah diantisipasi BPBD Kabupaten Magetan dengan mengirimkan air bersih," kata dia.

Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana (Pastigana) BNPB memperkirakan awal musim kemarau pada 2019 umumnya akan terjadi pada Mei, Juni, dan Juli dengan persentase sekitar 83%. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2019 dengan presentase 53%.

Sumber : Antara