Pemilu di India Telan Rp122 Triliun

Narendra Modi menyapa para pendukungnya setelah dilantik menjadi Perdana Menteri (PM) India untuk periode kedua di Istana Presiden di New Delhi, India, Kamis (30/5/2019). - Reuters/Adnan Abidi
09 Juni 2019 23:37 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemilu di India pada April sampai Mei lalu menyedot biaya yang sangat besar.  Sebuah studi terbaru oleh Center for Media Studies (CMS) yang berbasis di New Delhi mengungkapkan bahwa pemilu India menelan biaya sebesar US$8,6 miliar atau sekitar Rp122,3 triliun.

Biaya tersebut merupakan akumulasi pengeluaran yang dilakukan oleh partai politik India, para kandidat legislatif, dan badan penyelenggara pemilu. Jumlah ini bisa dibilang sangat fantastis. Sebagai perbandingan, pemilihan umum Amerika Serikat pada 2016 yang mempertemukan Donald Trump dan Hillary Clinton serta pemilihan anggota Kongres menyedot biaya sebesar US$6,5 miliar menurut laporan Open Secrets, sebuah organisasi non-profit asal AS.

Pengeluaran besar selama gelaran pemilu India bisa dipahami. Seperti dikutip CNN pada Minggu (9/6/2019), lebih dari 600 juta penduduk India dari total 900 juta pemilih yang terdaftar menggunakan hak suaranya.

Selain jumlah pemilih yang besar, sekitar 10 juta petugas pemilihan juga dilibatkan. Para petugas ini tersebar di lebih dari satu juta tempat pemungutan suara.

Pemilihan umum India tahun ini kembali menghantarkan Perdana Menteri Narendra Modi dan Partai Bharatiya Janata (BJP) ke tampuk kepemimpinan. Hasil pemilu menunjukkan bahwa BJP dan partai koalisi berhasil mengamankan dua per tiga dari total kursi parlemen.

"Selain popularitas Modi yang menjadi kunci kemenanga, BJP juga memperoleh keuntungan finansial karena membangun basis kampanye yang berpusat pada tema nasionalisme Hindu dan keamanan nasional," demikian bunyi laporan CMS.

Pengeluaran BJP selama kampanye sendiri diperkirakan mencapai 55% dari jumlah total yang dihabiskan untuk pemilu tahun ini atau lebih dari US$4,5 miliar.

Sementara pesaing utama BJP, kelompok oposisi yang dipimpin oleh Rahul Gandhi diperkirakan hanya mengeluarkan biaya sekitar 15% sampai 20% dari nilai total.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia