Presiden Sri Lanka Kritik Penyelidikan Kasus Pengeboman Gereja

Polisi berjaga di Gereja St Anthony's Shrine di Kolombo, Sri Lanka pascaledakan bom yang menewaskan ratusan jiwa, Minggu (21/4/2019) lalu. - Reuters
08 Juni 2019 18:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KOLOMBO--Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengkritik penyelidikan kasus pengeboman Minggu Paskah oleh parlemen, Jumat (7/6/2019). Kritikan itu disampaikan sehari setelah testimoni oleh dua sosok penting yang menuduhnya tidak becus menangani keamanan nasional negara.

Serangan 21 April yang diklaim oleh ISIS menewaskan lebih dari 250 orang meskipun badan intelijen India berulangkali telah memperingatkan pihak berwenang Sri Lanka bahwa ada komplotan yang sedang merencanakan serangan.

Komisi Pemilihan Parlemen, yang dipimpin sekutu rival Perdana Menteri Sirisena, Ranil Wickremesinghe, sedang mendalami serangan guna mengindentifikasi kemungkinan penyimpangan yang membuat militan garis keras menargetkan sejumlah hotel dan gereja.

Pada Kamis, Inspektur Jenderal Kepolisian Pujith Jayasundara di hadapan parlemen mengatakan bahwa Sirisena memintanya untuk bertanggung jawab atas serentetan pengeboman. Ia diminta mundur. Namun, Jayasundara menolak untuk meninggalkan jabatannya meskipun dijanjikan jabatan diplomatik sebagai imbalan.

Mantan menteri pertahanan Sri Lanka, Hemasiri Fernando juga memberikan kesaksian pada Kamis, dengan mengatakan presiden menginstruksikan agar Wickremesinghe didepak dari pertemuan dewan keamanan.

Sirisena belum membahas tuduhan tersebut secara terbuka. Juru bicara pun tidak menanggapi permintaan untuk diminta berkomentar tentang mereka.

Pada Jumat, Sirisena mengatakan kepada pejabat kepolisian bahwa ia menentang penyelidikan tersebut.

"Saya tidak menerima komisi pemilihan dan saya tidak akan mengirim anak buah saya untuk komisi tersebut," kata dia sebelum menggelar rapat darurat kabinet pada Jumat malam.

Sumber : Antara