Penyaluran Elpiji Bersubsidi dengan Biometrik dan E-Voucher Akan Dievaluasi

Ilustrasi
26 Mei 2019 09:37 WIB David Eka Issetiabudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA— Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) telah menyelesaikan seluruh tahap uji coba penyaluran gas LPG 3 kilogram yang dimulai pada 22 April hingga 15 Mei 2019.

Dari uji coba dengan menggunakan skema penyaluran subsidi LPG menggunakan teknologi keuangan biometrik dan voucher elektronik, TNP2K pun melakukan evaluasi.

Kepala Komunikasi dan Kerjasama TNP2K Ruddy Gobel mengatakan penyaluran atau jumlah masyarakat yang melakukan transaksi sampai batas waktu program rata-rata mencapai 84% di seluruh wilayah. Wilayah penyaluran tertinggi di Tomohon sebanyak 96%.

“Keseluruhan tahap sudah selesai dan dilanjutkan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi sampai 23 Mei 2019,” kata Ruddy, dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/5/2019).

Secara umum TNP2K mendapat gambaran atas uji coba penyaluran LPG 3 kilogram (tabung melon) secara tertutup, yakni mekanisme yang diuji coba serta pilihan teknologi yang digunakan dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, masyarakat penerima manfaat cukup mudah dalam melalukan transaksi pembelian, karena hanya membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa memerlukan perubahan perilaku.

Menurut Ruddy diketahui pula bahwa agen/penjual LPG dapat melakukan proses transaksi dengan lancar. Proses transaksi untuk setiap penerima manfaat berlangsung rata-rata dua hingga tiga menit secara keseluruhan mulai dari datang ke toko sampai mengambil LPG.

“Untuk proses verifikasi wajah berlangsung tanpa masalah, tapi untuk penggunaan sidik jari butuh waktu lebih lama,” tambah Ruddy.

Untuk metode verifikasi dengan kode voucher juga berlangsung lancar, tapi sedikit terkendala karena penerima manfaat tidak mengingat nomor PIN.

Dari gambaran uji coba, TNP2K menjumpai kendala antara lain permasalahan sinyal internet di beberapa daerah, kesiapan masyarakat sebagai penerima manfaat untuk melakukan perubahan perilaku.

“Terutama yang menggunakan sistem e-voucher yang mengharuskan menghapal PIN - beberapa masih suka lupa PIN, dan/atau salah mendaftarkan nomor telepon,” kata Ruddy.

Kendala lainnya adalah kesiapan penjual LPG di toko, banyak yang belum sigap melayani dengan proses transaksi, terutama mengikuti SOP transaksi, serta proses sosialisasi dan edukasi yang masih harus ditingkatkan

Pihaknya menyimpulkan penggunaan teknologi keuangan yang dicoba yaitu Biometrik dan E-Voucher dapat menjadi pilihan alternatif penyaluran subsidi termasuk LPG dan cenderung lebih baik dibandingkan dengan menggunakan kartu.

“Dalam waktu dekat akan ada rapat koordinasi yang dipimpin Kemenko PMK untuk melaporkan hasil uji coba dan membahas tahapan lanjutan,” ujar Ruddy.

Sumber : Bisnis.com