Profil Gus Rozin Bangun BPRS untuk UMKM di Sekitar Pesantren
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Ilustrasi terorisme/JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA- Polisi mengungkap penerapan teknologi yang diduga bakal digunakan untuk meledakkan bom oleh terduga teroris yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Eky alias EY, terduga teroris berusia 27 tahun yang dibekuk di Bekasi beberapa hari lalu, memunyai memampuan memodifikasi jenis bom modern bebasis Wifi.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Jumat (10/5/2019).
Selain merakit bom berbahan kimia, ternyata Eky juga sudah menyiapkan rangkaian switching yang sengaja dibuat apabila di Komisi Pemilihan Umum RI terjadi unjuk rasa secara besar-besaran pada 22 Mei 2019.
Dedi menerangkan, tadinya Eky akan memanfaatkan jaringan atau sinyal ponsel sebagai pemantik bom untuk meledak.
Namun, hal itu urung dilakukan Eky lantaran dirinya memperkirakan akan ada alat penghilang sinyal atau jammer pada saat unjuk rasa.
“Diprediksi sama dia ada jammer terhadap ponsel. Jammer bisa dilakukan beberapa pihak sehingga ponsel tak bisa beroperasi maksimal sebagai switching bom," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2019).
Karenanya, kata Dedi, Eky memodifikasi bom dengan mengubah switching menjadi menggunakan Wifi dari yang sebelumnya menggunakan sinyal ponsel. Dengan WIFI tersebut, nantinya Eky meledakan bom dari jarak jauh.
"Dia memodifikasi menggunakan router, dia booster sudah menggunakan Wifi. Kalau Wifi sampai saat ini belum ada jammer yang bisa menghalangi. Apalagi ada booster jammer, bisa memperluas radius dari 200 meter, 500 meter, hingga 1 kilometer," tuturnya.
Namun, Dedi belum bisa memastikan apakah nantinya bom jarak jauh tersebut akan diledakkan secara bersamaan atau satu per satu.
"[Caranya] dengan menaruh beberapa ransel, dia ledakkan dari jarak satu kilometer dari ponsel. Entah satu-satu atau sekaligus. Ini masih dikejar kelompoknya, karena punya kemampuan yang sama.”
Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror meringkus dua terduga teroris pemilik bom pipa yang ditemukan di gerai ponsel Wanky Cell di wilayah Bekasi Utara, Rabu (8/5/2019).
Mereka adalah Eky alias EY (27) yang merupakan pemilik gerai dan Kautsar alias YN (18). Keduanya diringkus pada Rabu (8/5/2019) ditempat yang berbeda.
Karopenmas Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan dua bom pipa yang dirakit oleh pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi, Eky alias EY (27) memiliki daya ledak tinggi.
Daya ledak bom tersebut hampir sama dengan yang meledak di Sibolga, Sumatra Utara beberapa waktu lalu.
Dedi menerangkan, bahan-bahan untuk membuat bom tersebut berasal dari bahan peledak mother of satan atau TATP. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengolah bahan tersebut menjadi sebuah bom.
"Ini lebih dikenal sebagai mother of satan yakni bom setan yang high explosive. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki keahlian, yang bisa merakit bahan bom high explosive," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Polisi mengungkap kematian Triyanto di Pajangan, Bantul, diduga akibat penganiayaan. Tiga orang diamankan dan masih diperiksa.
Prabowo meluncurkan program PLTS 100 GWp. Pemerintah menargetkan 30 GWp terbangun pada 2026 dan seluruh proyek selesai pada 2029.
Bayi perempuan ditemukan hidup terbungkus plastik di bawah pohon mahoni Bandungan. Bayi berbobot 3,1 kg dan diperkirakan baru lahir.
Iran mendesak AS mematuhi nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik. Ghalibaf menegaskan tekanan terhadap Iran tidak akan berpengaruh.
Harga BBM 25 Agustus 2026 masih mengalami perubahan. Simak daftar harga Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo terbaru per liter.