Advertisement
Body Shaming, Remaja Berlomba-Lomba Diet. Bahayakah?
Angka pada timbangan badan jadi indikator bagi seseorang menentukan obesitas - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Saat membahas berat badan secara khusus, remaja juga tidak terhindar dari yang namanya obesitas. Kegemukan dan obesitas menjadi satu persoalan kesehatan, tetapi di sisi lain juga menjadi persoalan psikologi sosial.
Hal ini bisa terjadi karena di kalangan anak remaja sering terjadi body shaming. Kondisi ini terjadi saat sebagian orang mengomentari bentuk tubuh remaja yang dinilai tidak sesuai dengan standar (khususnya yang berhubungan dengan berat badan).
Advertisement
Sayangnya, kejadian body shaming sering terjadi di lingkungan sesama remaja yang belum dewasa pemikiran dan tingkah laku.
Akibat body shaming pada remaja tidak hanya terjadi secara psikologis, tetapi juga fisik. Remaja mulai berlomba untuk melakukan diet demi memperbaiki bentuk tubuhnya.
Persoalannya adalah mereka sering memilih diet yang sembarangan, bahkan diet yang ekstrem untuk mengurangi berat badan.
Menurut dokter spesialis gizi klinik Cindiawaty Josito Pudjiadi dari RS Medistra Jakarta, remaja yang tengah mengalami problem berat badan sebetulnya membutuhkan dukungan yang nyata dari orangtua dan lingkungan.
Pemenuhan gizi yang tepat pada usia remaja merupakan hal krusial yang tidak boleh diabaikan. Gizi yang baik akan menentukan kesehatannya kelak saat dewasa, bahkan di usia tua.
Tidak hanya untuk mengatasi masalah kegemukan atau obesitas, orang tua juga perlu sigap dalam memenuhi kebutuhan gizi anaknya yang berusia remaja.
“Sebaiknya bila ada anak yang kelebihan berat badan, anak perlu dibantu untuk memilih diet yang tepat untuk dirinya,” kata Cindiawaty belum lama ini.
Dia juga menyarankan agar lebih pasti, remaja boleh dibawa berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik sehingga diet dapat disesuaikan dengan kondisi anak.
Jadi, remaja tak lagi memilih makanan atau diet yang tidak tepat untuk anak seusianya.
Hal ini juga terkait dengan kebutuhan remaja yang dinilai berbeda dengan kebutuhan anak-anak dan juga orang dewasa. Sama halnya seperti bayi yang membutuhkan pemenuhan gizi optimal selama 1.000 hari pertama kehidupan, remaja juga membutuhkan pengoptimalan gizi yang sama.
“Perbedaannya hanya jumlah kalorinya, akan tetapi keduanya membutuhkan nutrisi yang lengkap dan seimbang,” kata Cindiawaty.
Gizi yang lengkap dan seimbang itu berarti remaja diberikan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral yang disesuaikan dengan angka kecukupan gizi (AKG).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ngaku Tuhan Kedua, Dukun Cabul di Magetan Setubuhi Istri Pasien
- Vonis Mati Tahanan Palestina oleh Israel Disorot Indonesia
- Kasus Video Profil Desa Karo, Majelis Hakim Bebaskan Amsal Sitepu
- Iran Tolak Gencatan Senjata, Minta Perang Dihentikan Total
- Kondisi Psikologis Aktivis KontraS Andrie Yunus Stabil
Advertisement
Dua Kursi Pejabat Gunungkidul Masih Kosong, Ini Alasannya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Babak I Bolivia vs Irak 1-1, Tiket Piala Dunia Dipertaruhkan
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 1 April 2026
- Pemkot Jogja Tegaskan Larangan Siswa Tanpa SIM Bawa Motor ke Sekolah
- Fenomena Pink Moon Muncul 1-2 April, Bisa Disaksikan Malam Ini
- Kirab HUT Sri Sultan HB X, Malioboro Ditutup Mulai Kamis Pagi
- Ramp Tol Jogja-Solo di Trihanggo Dikebut, Gerbang Tol Segera Dibangun
- Malioboro Ditutup saat Kirab HUT Sultan HB X, Ini Rute Pengalihan Arus
Advertisement
Advertisement




