Advertisement
Defisit Anggaran, Arab Saudi Akan Utang US$31 Miliar atau Setara Rp448,5 Triliun
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA -- Kantor Pengelolaan Utang atau Debt Management Office Arab Saudi mengabarkan rencana penerbitan utang sebesar 118 miliar riyal atau senilai US$31,5 miliar tahun ini. Jumlah kebutuhan utang Saudi setara Rp448,5 triliun. Utang itu akan digunakan untuk menopang defisit anggaran nasional.
Debt Management Office (DMO) yang merupakan bagian dari Kementerian Keuangan Arab Saudi. Jawatan itu menyatakan bahwa negara telah memiliki pinjaman dalam jumlah besar dari periode sebelumnya untuk mengisi kembali kas yang terkuras oleh penurunan harga minyak.
Advertisement
Sampai akhir 2018, negara kerajaan tersebut memiliki sekitar US$150 miliar utang pemerintah yang belum terbayar, sebanyak 54% di antaranya dalam mata uang lokal dan sisanya dalam dolar AS.
Pada Januari, Arab Saudi menerbitkan obligasi internasional sebesar US$7,5 miliar.
"Pendanaan asing tahun ini akan diposisikan sedemikian rupa sehingga Arab Saudi dapat mengamankan sebagian besar pendanaannya pada kuartal pertama untuk mengurangi paparan risiko pasar, serta memungkinkan penerbit, yang terkait dengan pemerintah Saudi, menyentuh pasar tersebut," tulis DMO seperti dikutip melalui Reuters, Minggu (31/3/2019).
Pernyataan itu dikeluarkan beberapa hari sebelum Saudi Aramco, raksasa minyak milik negara, diperkirakan akan menerbitkan obligasi pertamanya di pasar internasional.
DMO menyatakan persyaratan defisit Arab Saudi untuk tahun ini diperkirakan US$35 miliar, yang akan didanai dengan penerbitan utang bersih sekitar US$31,5 miliar, sedangkan sisanya akan berasal dari simpanan pemerintah di bank sentral.
Sampai dengan akhir tahun ini, Arab Saudi berencana untuk menjaga utang outstanding pada kisaran US$181 miliar, atau sesuai dengan 21,7 persen dari produk domestik bruto.
Mereka juga menyampaikan tahun ini akan mencoba untuk menahan eksposur utang pemerintah terhadap risiko suku bunga dengan mengurangi persentase instrumen suku bunga mengambang (floating-rate) dalam portofolionya.
Pada akhir 2018, sebanyak 73% utang Saudi memiliki tingkat bunga tetap dan 27% lainnya memiliki tingkat bunga mengambang. Pada akhir 2019, pemerintah ingin meningkatkan utang dengan suku bunga tetap menjadi 78% dari portofolionya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
- Kapal Thailand Diserang di Selat Hormuz hingga Terbakar
- Friderica Widyasari Sari Terpilih Ketua OJK 2026-2031
Advertisement
THR ASN Gunungkidul Cair, Total Anggaran Rp42,7 Miliar
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Rusia dan Turki Gagas Mediasi, Iran Belum Sepakat Gencatan Senjata
- OPINI: Bulan Puasa Antara Spiritualitas dan Konsumtivisme
- DPR Setujui RUU PPRT Inisiatif untuk Lindungi ART
- Koperasi Desa Merah Putih Bantul Suplai Bahan MBG ke SPPG
- Prabowo Pastikan Stok BBM dan Gas Nasional Tetap Aman
- BNI Safari Ramadan 2026 Jadi Ajang Silaturahmi dan Berbagi
- Mulai 14 Maret Bus Dilarang Masuk Jalan Panembahan Senopati Jogja
Advertisement
Advertisement






