Defisit Anggaran, Arab Saudi Akan Utang US$31 Miliar atau Setara Rp448,5 Triliun

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz berfoto di Riyadh, Arab Saudi 14 Januari 2019. - Reuters
31 Maret 2019 19:17 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Kantor Pengelolaan Utang atau Debt Management Office Arab Saudi mengabarkan rencana penerbitan utang sebesar 118 miliar riyal atau senilai US$31,5 miliar tahun ini. Jumlah kebutuhan utang Saudi setara Rp448,5 triliun. Utang itu akan digunakan untuk menopang defisit anggaran nasional.

Debt Management Office (DMO) yang merupakan bagian dari Kementerian Keuangan Arab Saudi. Jawatan itu menyatakan bahwa negara telah memiliki pinjaman dalam jumlah besar dari periode sebelumnya untuk mengisi kembali kas yang terkuras oleh penurunan harga minyak.

Sampai akhir 2018, negara kerajaan tersebut memiliki sekitar US$150 miliar utang pemerintah yang belum terbayar, sebanyak 54% di antaranya dalam mata uang lokal dan sisanya dalam dolar AS.

Pada Januari, Arab Saudi menerbitkan obligasi internasional sebesar US$7,5 miliar.

"Pendanaan asing tahun ini akan diposisikan sedemikian rupa sehingga Arab Saudi dapat mengamankan sebagian besar pendanaannya pada kuartal pertama untuk mengurangi paparan risiko pasar, serta memungkinkan penerbit, yang terkait dengan pemerintah Saudi, menyentuh pasar tersebut," tulis DMO seperti dikutip melalui Reuters, Minggu (31/3/2019).

Pernyataan itu dikeluarkan beberapa hari sebelum Saudi Aramco, raksasa minyak milik negara, diperkirakan akan menerbitkan obligasi pertamanya di pasar internasional.

DMO menyatakan persyaratan defisit Arab Saudi untuk tahun ini diperkirakan US$35 miliar, yang akan didanai dengan penerbitan utang bersih sekitar US$31,5 miliar, sedangkan sisanya akan berasal dari simpanan pemerintah di bank sentral.

Sampai dengan akhir tahun ini, Arab Saudi berencana untuk menjaga utang outstanding pada kisaran US$181 miliar, atau sesuai dengan 21,7 persen dari produk domestik bruto.

Mereka juga menyampaikan tahun ini akan mencoba untuk menahan eksposur utang pemerintah terhadap risiko suku bunga dengan mengurangi persentase instrumen suku bunga mengambang (floating-rate) dalam portofolionya.

Pada akhir 2018, sebanyak 73% utang Saudi memiliki tingkat bunga tetap dan 27% lainnya memiliki tingkat bunga mengambang. Pada akhir 2019, pemerintah ingin meningkatkan utang dengan suku bunga tetap menjadi 78% dari portofolionya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia