Long-Form: Melongok Kisah Diaspora yang Segan Kembali ke Indonesia

Warga Indonesia yang bermukim di Selandia Baru mengunjungi Pasar Malam yang digelar KBRI Wellington menikmati pertunjukan musik yang ditampilkan di Wellington, Selandia Baru, Minggu (24/12/2018). - Dokumen KBRI Wellington
30 Maret 2019 13:37 WIB Kahfi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Jumlah orang-orang terdidik Indonesia yang berada mancanegara sangat besar. Mereka tersebar, alias menjadi diaspora, di berbagai negara, cukup sukses, dan jika dikumpulkan jumlahnya setara penduduk negara kecil di Eropa. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Kahfi.

Rumah megah itu berada di Long Island, New York, kawasan yang dikenal elite di Amerika Serikat. Bangunan berbentuk joglo mencerminkan kelas sosial pemiliknya, seorang yang berasadl dari Jawa.

Kediaman tersebut sangat mewah untuk ukuran masyarakat AS yang mayoritas hidup di apartemen, mempunyai gapura sekaligus pos keamanan. Halamannya rindang, teduh oleh pepohonan khas Indonesia, mangga, belimbing demak, juga beringin.

Nuansa Jawa bertambah kental berkat keberadaan seperangkat gamelan.  Suatu hari, sejarawan asal Jogja, Kuntowijoyo, bersama istri berkunjung ke rumah tersebut. Pemilik rumah, sebagaimana dikisahkan, memiliki nama Tio Tong Liem.

Tio adalah salah satu nama tokoh dalam novel berjudul Impian Amerika ciptaan Kuntowijoyo. Novel tersebut merupakan salah satu karya sejarawan cum sastrawan itu.

Impian Amerika memuat kisah nyata dari 30 orang perantauan di AS, yang dikemas sebagai novel. Kuntowijoyo berinteraksi dengan para diaspora Indonesia pada era 1980-1990an.

Warga Indonesia yang bermukim di Jerman merayakan 17 Agustus dengan berbagai permainan khas Indonesia di KBRI Berlin pada peringatan 17 Agustus 2018./Istimewa

Tio adalah keluarga keturunan Tionghoa yang lama menetap di luar negeri. Dia pengusaha tembakau dan pabrik rokok di Semarang, Jawa Tengah. Tio sangat mengagungkan budaya Jawa. 

Tio memiliki anak semata wayang bernama Lie. Saban tahun, Lie dikirim ke Indonesia, entah ke Bali ataupun Jogja, hanya untuk mendalami seni tari dan adat istiadat Jawa.

“Orang itu harus mencintai kebudayaan sendiri. Sebab, hanya itulah yang membedakan kita dari orang Amerika, atau Jepang, atau China,” kata Tio kepada tamunya.

Dispora semacam Tio, sebagaimana dikisahkan Kuntowijoyo, jumlahnya sangat banyak. Meski mungkin sudah tinggal lama di luar negeri, mereka masih memendam banyak harapan kembali ke Tanah Air.

Namun, banyak faktor yang menyebabkan diaspora yang sarat pengalaman, keterampilan, maupun keilmuan itu mengurungkan niat kembali ke Indonesia. Dalam kasus Tio, kondisi Indonesia yang pernah dilanda kerusuhan sosial menggetarkan jiwa.

Pada saat terjadi kerusuhan yang bermula di Solo dan menjalar ke kota-kota lain, warga etnis Tionghoa memilih mengungsi secara massal. Termasuk, beberapa keponakan pengusaha rokok itu.

Meski sangat rindu dengan tanah Jawa, Tio cukup puas mengoleksi ragam produk kesenian dan kebudayaan. Untuk kembali bermukim di Indonesia, boleh jadi beratus-ratus kali dipertimbangkannya.

Nasib berbeda dialami Nadia Kamaludin. Perempuan berusia 30 tahun itu merupakan diaspora dari Jepang yang memilih balik kandang.

Didi, sapaan akrabnya, lahir dan sempat merasakan kehidupan masa kecil di Malaysia. Selepas itu, dia merasakan kehidupan bersama keluarga di Australia.

Menginjak usia remaja, barulah Nadia kembali ke Indonesia. Pada akhirnya, Didi melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran (Unpad).

Selepas menyelesaikan kuliah strata satu, dia segera meneruskan program master ke University of Tsukuba di Negeri Sakura. Tak perlu lama, Didi menuntaskan gelar master dan kembali meraih beasiswa untuk program doktoral.

Nadia bermukim di Jepang selama lima tahun. Dalam usia 28 tahun, dia menyabet gelar doktoral pada studi Appropriate Science and Technology for Sustainable Development, University of Tsukuba.

Setelah menamatkan studi, Nadia disekap keraguan. Berbagai tawaran karier di luar negeri pun berdatangan. Anak ketiga dari empat bersaudara itu juga dilirik oleh salah satu perusahaan multinasional Jepang.

“Tawarannya jadi R&D [Research and Development/Riset dan Pengembangan],” kenangnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, beberapa waktu lalu.

Warga Indonesia dan keluarganya yang bermukim di Iran menggelar kegiatan bersama di Teheran, Iran./Istimewa

Datang pula opsi lainnya yang tak kalah menggiurkan. Didi bisa melakoni karier akademik di almamaternya, Tsukuba. Dia diajukan sebagai asisten dosen dan berpeluang menjadi dosen tetap.

Bayaran sebagai asisten pengajar itu mencapai bisa mencapai Rp30 juta per bulan jika dikonversi ke rupiah. Hitungannya, untuk level asisten, Didi diberikan honor 2.000 yen per jam dan dalam sepekan bisa mengajar hingga 40 jam.

Godaan lain adalah berkarier di luar Jepang. Salah satu yang pernah melayangkan surat penawaran yaitu salah satu lembaga riset di Kanada.

“Semuanya cukup oke,” kata Didi.

Namun, rasa rindu keluarga jauh lebih tak terbendung dan dia pun memutuskan pulang ke Indonesia.

Pertimbangan lain, Didi menilai keilmuan yang dipunyai kelak bisa dikembangkan di Tanah Air. Salah satu caranya yaitu kembali pulang ke almamater, jadi staf pengajar di Fakultas Pertanian Unpad.

Honor memang bak bumi dan langit. Jika di Jepang Didi bisa mengantongi puluhan juta rupiah, kini dia harus puas digaji Rp3,5 juta per bulan.

“Karena status kepegawaian, masih dosen tetap non-PNS,” ungkapnya.

Lebih jauh, Didi menganggap wajar pada akhirnya sejawat diaspora yang telah menyelesaikan studi memilih berkarier di luar negeri. Apalagi, dari segi keilmuan, keahlian mereka sangat spesifik dan unik.

Dia menerangkan keahlian ilmu tanah serta perkayuan yang dimilikinya belum dikembangkan secara industri di Indonesia. Jalur akademiknya pun diakui sangat minim dan nyaris dianggap tak diperlukan.

Dunia akademik juga memang dipandang sukar ditembus para diaspora, tak seperti di luar negeri. Didi menuturkan berbagai persoalan administrasi dan birokrasi cenderung menjerat para lulusan luar negeri untuk mengembangkan keilmuannya.

“Belum berbicara infrastruktur penelitian, untuk meraih status dosen pun masih birokratis, berbelit-belit, sehingga orang dibuat menyerah lebih dulu, padahal secara keilmuan orang itu mumpuni. Hal ini banyak dipertimbangkan para diaspora yang enggan pulang,” paparnya.

Sukar Kembali

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko tak membantah sukarnya memboyong pulang diaspora Indonesia, terutama dari kalangan ilmuwan. LIPI menargetkan diaspora ilmuwan yang diminta mudik sebanyak 100 orang per tahun.

Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta./lipi.go.id

Pada realisasinya, LIPI hanya sanggup mendatangkan 30 orang diaspora dalam rentang 3 tahun. Padahal, dia mengatakan menarik pulang diaspora yang berguna bagi pembangunan ekonomi dan ilmu pengetahuan merupakan amanat langsung dari Presiden Joko Widodo.

LIPI menargetkan untuk menarik kembali ilmuwan dengan level karir menengah. Pasalnya, sulit membujuk ilmuwan yang sudah senior.

Para lulusan luar negeri itu telah merampungkan studi selama tiga tahun pascaprogram doktoral. Salah satu bujukan yang mempan, ungkap Handoko, selain penghasilan yang dianggap memadai, para diaspora menginginkan peluang mengembangkan keilmuan yang dimiliki.

“Mereka harus diberikan proyeksi bahwa bisa menghasilkan riset yang baik dan kesinambungan, itu yang mereka inginkan dan kita harus fasilitasi juga,” tambahnya.

Handoko mengaku menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk membawa pulang para diaspora per tahun. LIPI pun secara khusus membentuk “tim pemburu” untuk mendata dan melobi.

“Saya turun langsung mengontak juga agar para diaspora itu yakin,” kenangnya.

Kontribusi Diaspora

Secara statistik, diaspora Indonesia berpotensi memberikan kontribusi yang besar.

Berdasarkan data indonesiandiaspora.com yang dikutip dalam laporan Diaspora Indonesia dan Dwi Kewarganegaraan dalam Perspektif Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia karya Ahmad Jazuli dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Kementerian Hukum dan HAM pada 2017, populasi mereka menyamai jumlah penduduk di Swedia dan Austria.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Wakil Presiden ADB Bambang Susantono (ketiga kiri), CEO Credit Suisse Asia Pacific Helman Sitohang (kedua kiri), Peneliti Lee Kuan Yew School Mulya Amri (kiri), Managing Director of Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor (ketiga kanan) dan Moderator Muhammad Al-Arief (kanan) memberi paparan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7/2017)./ANTARA-Rosa Panggabean

Dari sisi pendapatan, bahkan di AS, pendapatan rata-rata mereka mencapai US$59.000 per tahun. Angka itu melebihi rata-rata pendapatan warga AS yang sebesar US$49.000 per tahun.

Tercatat, dari keseluruhan diaspora yang beragam latar belakang itu, bisa mengirimkan devisa mencapai US$7 miliar atau lebih dari Rp70 triliun. Apalagi, di blantika keilmuan global, diaspora Indonesia cukup berkibar dengan bendera Ilmuwan Indonesia Internasional.

Sebagaimana dituturkan Handoko, keberadaan diaspora dalam formasi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia sangat dibutuhkan. Pasalnya, riwayat pengembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air tampak tak memiliki kesinambungan yang menyeluruh.

Peristiwa hengkangnya ilmuwan Belanda serta tragedi 1965 merupakan kerugian besar bagi dunia keilmuwan. Dua kejadian itu disebut telah mengorbankan banyak ilmuwan yang terputus pembelajarannya.

“Hengkangnya ilmuwan Belanda sebelum kita siap itu memutus mata rantai. Disusul tragedi 1965, banyak yang dicap pengkhianat dibunuh, sedangkan yang sedang studi di luar negeri, jadi eksil,” terangnya.

Tan Malaka pernah berkata, “Belajarlah dari Barat, tetapi jangan jadi peniru, jadilah murid dari Timur yang cerdas.” Namun, jika kembali ke Tanah Air merupakan dilema, di Barat pun ada kehidupan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia