Pernyataan Erdogan atas Tragedi Christchurch Dikecam Australia & Selandia Baru

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters
20 Maret 2019 17:17 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan tentang teror di masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang memancing rekasi keras dari Selandia Baru dan Australia.

Dalam kampanye untuk mendukung Partai AK yang ia pimpin pada Senin (18/3/2019, Erdogan mendeksripsikan penembakan massal yang menewaskan 50 orang itu sebagai bagian kecil dari serangan lebih luas yang ditujukan kepada Turki dan Islam. Erdogan mengancam pihak mana pun yang berniat menyerang Turki.

"Mereka [pelaku teror] mencoba menguji kita dari jarak 16.500 kilometer, dari Selandia Baru, lengkap dengan pesan yang ditujukan untuk kita. Ini bukan aksi individu, ini aksi yang terorganisir," kata Erdogan tanpa menjelaskan maksud pernyataannya, sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (20/3/2019).

Pernyataan Erdogan tak berhenti di sana. Ia pun berjanji akan membuat warga Australia dan Selandia Baru yang memiliki paham ekstremis anti-Muslim merasakan nasib yang sama sebagaimana leluhur mereka yang meninggal dunia dalam Perang Gallipoli.

"Leluhur kalian datang dan menyaksikan kami [rakyat Turki] di sini. Sebagian dari mereka pulang dengan selamat, sementara yang lain kembali dalam peti jenazah. Jika kalian datang dengan niat yang sama, kami akan menghadapi kalian," kata Erdogan.

Lebih dari 8.000 warga Australia dan Selandia Baru tewas dalam pertarungan melawan pasukan Turki di Gallipoli pada 1915 di tengah Perang Dunia I. Setiap tahun, warga Australia dan Selandia baru memperingati gagalnya usaha invasi itu sebagai hari berkabung bagi orang-orang yang gugur dalam perang atau Hari Anzac.

Rangkaian pernyataan Erdogan yang disampaikan saat kampanye dianggap banyak pihak bernuansa politis. Membawa isu teror Christchurch saat kampanye dinilai sebagai usaha Erdogan untuk meraih simpati pemilih muslim terhadap partainya.

CNN melaporkan Erdogan juga sempat menayangkan cuplikan video teror Christchurch saat kampanye. Video yang disiarkan secara langsung oleh pelaku melalui Facebook itu telah dilarang beredar di berbagai platform media sosial.

"Pelaku teror harus membayar semua ini. Jika Selandia Baru tak bisa memberi hukuman setimpal, mau tak mau kami yang akan memberinya hukuman," kata Erdogan.

Pernyataan yang Ofensif

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan komentar Erdogan sangat ofensif dan disampaikan dengan sembrono di tengah situasi yang sangat sensitif. Ia pun telah memanggil Duta Besar Turki untuk Australia guna menindaklanjuti pernyataan tersebut.

"Apa yang disampaikan Erdogan sangat mengecewakan. Saya telah menyampaikan hal itu pada Dubes Turki dan saya tak terima dengan alasan yang digunakan [oleh Erdogan]," kata Morrison.

"Saya akan menunggu respons dari pemerintah Turki sebelum mengambil langkah lebih jauh, namun saya pastikan semua opsi tersedia." 

Sementara, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan Menteri Luar Negeri Winston Peters akan berkunjung ke Turki untuk membahas hal ini.

Ia mengatakan kunjungan Peters ke Turki akan menjadi kesempatan untuk memperjelas posisi situasi usai pernyataan itu dibuat Erdogan.

"Menteri Peters akan melawat ke Turki untuk meluruskan hal ini. Kami akan memastikan Turki mendapatkan gambaran yang jelas tentang Selandia Baru dan juga komunitas muslim di sini," kata Ardern.

Negara yang merasakan aksi teror terburuk dalam sejarah modernnya itu sebelumnya telah memberi teguran keras kepada Erdogan karena sempat menayangkan cuplikan video penembakan di Masjid Al Noor dalam kampanye politiknya.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru secara resmi mengeluarkan protes pada Senin (18/3/2019). Ia mengatakan politisasi aksi keji itu membahayakan masa depan dan keselataman rakyat Selandia Baru di dalam dan luar negeri.

Pelaku teror Christchurch, Brenton Tarrant, 28, adalah seorang warga Australia yang diketahui menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri. Ia diduga kuat sebagai pendukung supremasi kulit putih dan menganut paham ekstremisme sayap kanan.

Dalam manifesto yang ia ungkap sebelum melakukan aksi teror, Tarrant mengungkapkan kebenciannya terhadap kaum imigran dan Muslim. Ia menganggap kelompok ini telah menjajah tanah yang seharusnya dimiliki orang kulit putih alias etnis Kaukasia.

Tarrant pun sempat menyinggung soal Turki. Ia sempat mengutip soal sejarah Hagia Sophia, sebuah museum di Turki yang menjadi simbol penaklukan Kekaisaran Ottoman terhadap Konstatinopel. Tarrant mengatakan museum yang dahulunya merupakan gereja itu suatu saat akan kembali ke tangan umat Kristiani.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia