Profil Teroris di Masjid Selandia Baru, Pemuja Supremasi Kulit Putih & Para Pembunuh

Pria yang diduga sebagai Brenton Tarrant. - Reuters
15 Maret 2019 17:37 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pria berusia 28 tahun asal Australia, Brenton Tarrant, diduga menjadi pelaku penembakan di dua masjid di Selandia Baru. Identitasnya diketahui karena dia menayangkan penembakan brutal tersebut lewat medsos.

Sebagaimana dikutup dari The Guardian, di akun Twitter yang sudah dihapus Tarrant sempat mengunggah beberapa foto menenteng bedil dan menautkan manifesto yang menjadi alasannya menebar teror. Dalam manifesto 74 halaman tersebut, Tarrant mengutip puisi Dylan Thomas. “Do not go gentle into that good night, and then moves onto a rant about white genocide”, yang artinya kurang lebih “Jangan memasuki malam yang baik ini dengan dengan lembut, kemudian mengumpatlah tentang genosida kulit putih.”

Tarrant menggarisbawahi alasan penyerangannya, yakni menebar ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap umat muslim. Dia berasal dari New South Wales dan memberi judul manifestonya dengan The Great Replacement.

Tarrant terinspirasi Darren Osborne, pria yang sudah divonis penjara seumur hidup karena menyerang Masjid Findbury Park di London, Inggris, Juni 2017, dan juga Andres Breivik, teroris yang membunuh puluhan orang di Norwegia, Juli 2011.

“Saya mendukung siapa saja yang menentang genosida etnis dan budaya. Luca Traini, Anders Breivik, Dylan Roof, Anton Lundin Pettersson, Darren Osbourne, dan lain-lain.”

Kalimat itu menyiratkan gagasannya tentang supremasi kulit putih dan sayap kanan.

Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush mengatakan kebrutalan Tarrant telah menewaskan 49 korban. Sebanyak 41 orang ditembak di Deans Avenue.

Mike Bush mengatakan beberapa korban meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit. Satu orang sudah ditahan dan diduga menjadi pelaku penembakan brutal saat umam muslim menunaikan Salat Jumat tersebut. Dia akan menjalani persidangan Sabtu (16/3/2019) besok atas tuduhan pembunuhan. Polisi Selandia Baru sudah menahan empat orang: tiga laki-laki dan satu perempuan.

“Satu orang tidak terlibat dalam penyerangan, dan dua orang lainya masih diselidiki,” kata Bush dikutip dari The Guardian.

Penembakan terjadi di dua masjid di Christchurch. Salah satu masjid yang menjadi lokasi serangan, Al Noor, selama ini dikenal sebagai tempat yang damai dan tenang.

“Ketika khotbah dimulai, Anda bahkan bisa mendengar bunyi jarum yang dijatuhkan di lantai,” ujar satu penduduk setempat, Ramzan.

Penembakan berlangsung sekitar pukul 13.40 waktu setempat seusai salat Jumat.

“Pria itu mulai menyerang di ruang utama. Saya berada di ruang sebelah, jadi saya tidak melihat siapa yang menembak. Saya hanya melihat orang-orang berlarian menuju ruangan saya. Mereka bersimbah darah dan beberapa orang ambruk,” ucap dia.

“Saat itu, saya sadar telah terjadi sesuatu yang amat serius.”