Begini Kondisi Terbaru Seniman Jogja yang Jadi Korban Penembakan di Selandia Baru

Zulfisman Syah - Facebook Zulfirman Syah
18 Maret 2019 20:17 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Zulfirman Syah, seniman Komunitas Seni Sakato Yogyakarta, yang menjadi korban penembakan brutal di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019), sudah membaik. Dia sudah siuman, tetapi masih dirawat di ICU Rumah Sakit Christchurch.

“Alhamdulillah sudah membaik, sudah siuman. Tetapi masih di ICU,” ujar Hendra Yaspita, kakak Zulfirman Syah, kepada Harian Jogja melalui ponsel, Senin (18/3/2019).

Dia mengatakan keluarga Zulfirman di Sumatra Barat akan menjenguk Zulfirman di Selandia Baru pekan ini.

“Insyaallah Rabu [20/3/2019] berangkat.”

Zulfirman lahir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat dan selama ini menetap di DIY sejak kuliah di ISI Jogja pada 1997. Zulfirman sudah dua bulan ini pindah ke Selandia Baru bersama istri dan anaknya yang masih balita.

Istrinya berasal dari Amerika Serikat.

Sebelum boyongan ke Selandia Baru, Zulfirman tinggal di Bugisan Selatan dan Godean. Kemudian dia pindah ke Selandia Baru karena istrinya bekerja di negara itu, juga untuk meneruskan pekerjaannya sebagai pelukis.

Jumat (15/3/2019) lalu, Zulfirman bersama anaknya yang masih balita menjadi salah satu korban penambakan brutal di dua masjid di Selandia Baru. Paru-paru Zulfirman terluka parah dan dia harus menjalani operasi. Sementara, anaknya terkena tembakan di kaki dan sekarang sudah pulih.

Teror penembakan dilakukan oleh  Brenton Tarrant, pria 28 tahun asal Australia. Tarrant disidang pada Sabtu (16/3/2019) dengan dakwaan pembunuhan dan dia akan kembali disidang pada 5 April. Dia bakal diancam hukuman seumur hidup.

Tarrant mulai beraksi pada pukul 13.40 waktu setempat, menyetir mobil menuju Masjid Al Noor. Di masjid ini, dia merangsek masuk masjid dan langsung memuntahkan pelor dari dua bedil yang dia acungkan. Di dalam masjid terdapat sekitar 500 orang. Tarrant menembak satu orang di pintu masjid, dua orang di koridor, dan menyerbu banyak orang di ruangan.

“Dia menembak semua orang. Anak-anak muda, perempuan sepuh. Semua orang,” kata Khaled Al Nobani, salah satu saksi mata, dikutip The Guardian.

Di Masjid Al Noor, Tarrant membunuh 41 orang dan melukai beberapa orang. Teroris yang belakangan diketahui sebagai pemuja supremasi kulit putih ini kemudian membawa mobilnya ke Masjid Linwood di Linwood Islamic Center, tak jauh dari Al Noor. Di sinilah Zulfirman Syah dan anaknya berada.

Tarrant kembali memberongdongkan senjata ke arah kerumunan. Tujuh orang tewas, sedangkan sejumlah orang, termasuk Zulfirman dan anaknya, terluka.

 Satu saksi mata, Syed Mazharuddin kepada New Zealand Herald, mengatakan salah satu pengurus masjid mencoba melawan peneror.

“Salah satu anak muda yang setiap hari di masjid ini mencoba melumpuhkan pelaku dan merebut senapannya. Pelaku kemudian tidak bisa menembak dan dia lari ke arah mobil. Temannya sudah menunggu dan mereka kabur,” ucap Mazharuddin.

Tak lama kemudian, polisi berhasil meringkus Tarrant dan tiga orang lainnya. Tetapi satu orang dilepaskan karena tak terbukti terkait dengan teror ini. Tarrant sempat mengunggah tautan yang mengarah ke manifesto yang dia tulis untuk menunjukkan motivasinya menebar teror. Dalam manifesto itu, Tarrant menulis tentang dendam dan kemarahan karena aksi teror di Eropa, seperti Inggris dan Norwegia, yang dilakukan ekstremis Islam. Tarran juga menyampaikan gagasannya tentang supremasi kulit putih yang sangat rasis.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan 50 korban tewas dalam tragedi ini terdiri atas 41 korban di Masjid Al Noor, tujuh orang di Masjid Linwood, dan dua orang di rumah sakit. Menurut dia, peneror membawa lima senapan saat beraksi.

Ardern menyatakan teror ini adalah hari terkelam dalam sejarah Selandia Baru. Korban luka sudah teridentifikasi dan berasal dari berbagai negara seperti Pakistan, Mesir, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia.

“Sasaran teror ini mungkin imigran, atau pengungsi, tetapi mereka bagian dari kita. Tetapi pelaku jelas bukan bagian dari kita,” ucap Ardern.

Dia menyerukan agar semua pemeluk Islam di Selandia Baru dilindungi. Ardern juga mengajak semua pemimpin di dunia untuk bersimpati dan menunjukkan cinta kepada komunitas muslim di mana pun berada.