Setelah Disebut Menjijikkan, Senator yang Salahkan Imigran Muslim Selandia Baru Ditimpuk Telur

Pesan perdamaian ditempel di New Zealand House di London, Inggris, Jumat (15/3/2019). - Reuters/Tom Jacobs
17 Maret 2019 06:27 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Senator sayap kanan Australia Fraser Anning langsung menuai protes dalam berbagai bentuk akibat pernyataannya yang menyalahkan imigran muslim dalam tragedi Christchurc, Selandia Baru. Kepala botaknya jadi sasaran pelemparan telur oleh remaja 17 tahun.

Insiden ini terjadi saat Anning menggelar konferensi pers di Melbourne, Sabtu (16/3/2019). Ketika Anning berbicara di hadapan jurnalis, bocah berambut kriwil berdiri di belakangnya. Tangan kiri remaja itu memegang ponsel untuk merekam, mengarahkannya ke kepala si senator yang botak. Sementara, tangan kanannya yang menggenggam telur diangkat hingga sebatas tengkuk Anning.

Pluk!!! Telur itu dilemparkan ke kepala belakang Anning dari jarak dekat dan terekam jelas di ponsel di bocah ketika cangkangnya pecah dan isinya menempel di rambut Anning yang tipis.

Si senator kaget, menoleh, dan langsung menjotos muka remaja kriting itu. Dia mencoba meninjunya lagi tetapi si bocah melawan. Beberapa orang melerai sebelum perkelahian yang tidak seimbang terjadi. Bocah pelempar telur itu kemudian dilumpuhkan ramai-ramai, ditahan sebentar, dan sebagaimana dilansir The Washington Post, langsung dibebaskan tanpa uang jaminan.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Australia Scott Morisson sudah melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Anning yang menyalahkan meningkatnya jumlah muslim di Selandia Baru sebagai akar teror penembakan di Christchurch yang menewaskan 49 orang.

“Pernyataan Senator Fraser Anning yang menyalahkan kebijakan imigrasi dalam serangan mematikan oleh teroris ekstremis sayap kanan di Selandia Baru sangat menjijikkan,” ujar Morrison, seperti dikutup The Telegraph, Jumat.

“Pandangan demikian tak punya tempat di Australia, apalagi di Parlemen Australia.”

Fraser Anning menuding meningkatnya jumlah imigran muslim yang berdatangan ke Selandia Baru sebagai penyebab teror di Christchurch.

Saya benar-benar menentang segala bentuk kekerasan dalam komunitas kami, dan saya sepenuhnya mengutuk tindakan si penembak,” ujar Anning sebagaimana dikutip The Telegraph, Jumat.

Meski demikian, Fraser Anning yang dikenal karena retorika-retorikanya yang menyulut emosi audiens, mengatakan nasionalisme tak bisa disalahkan dalam teror di Christchurc. Menurut dia, akar masalah ini adalah kebijakan imigrasi Selandia Baru yang memberi kesempatan datangnya kalangan muslim dari berbagai negara.

“Bagaimana pun juga, yang harus disoroti adalah meningkatnya ketakutan dalam komunitas kami, baik di Australia maupun Selandia Baru, terhadap meningkatnya kehadiran muslim,” ujar dia.

“Seperti biasa, politisi sayap kiri akan menyalahkan aturan penggunaan senjata dan pandangan-pandangan nasionalisme. Tetapi itu semua omong kosong belaka.”

“Penyebab sebenarnya dari pertumpahan darah di Selandia Baru adalah kebijakan imigrasi yang memberi kesempatan kepada muslim-muslim fanatik ke Selandia Baru.”

Fanning mengatakan muslim memang menjadi korban tragedi di Selandia Baru hari ini.

“Tetapi biasanya mereka adalah pelaku.”

Anning hanya mendapat dukungan 19 suara di pemilu sebagai kandidat dari Partai One Nation. Anning kerap mengusung isi antiimigran. Anning bisa menjadi senator karena koleganya ditarik keluar dari Parlemen. Anning meninggalkan Partai One Nation dan kemudian bergabung dengan partai sayap kanan sebelum menjadi politikus independen.

Dia meminta Australia mengembalikan kebijakan Australia putih, yang membatasi kedatangan imigran dari non-Eropa ke Negeri Kanguru sejak 1901. Kebijakan diskriminatif itu sudah dihapus pada awal 1970-an.

Sayap Kanan

Teror di Selandia Baru dilakukan pria berusia 28 tahun asal Australia, Brenton Tarrant. Identitasnya diketahui karena dia menayangkan penembakan brutal tersebut lewat medsos.

Sebagaimana dikutup dari The Guardian, di akun Twitter yang sudah dihapus Tarrant sempat mengunggah beberapa foto menenteng bedil dan menautkan manifesto yang menjadi alasannya menebar teror. Dalam manifesto 74 halaman tersebut, Tarrant mengutip puisi Dylan Thomas. “Do not go gentle into that good night, and then moves onto a rant about white genocide”, yang artinya kurang lebih “Jangan memasuki malam yang baik ini dengan dengan lembut, kemudian mengumpatlah tentang genosida kulit putih.”

Tarrant menggarisbawahi alasan penyerangannya, yakni menebar ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap umat muslim. Dia berasal dari New South Wales dan memberi judul manifestonya dengan The Great Replacement.

Tarrant terinspirasi Darren Osborne, pria yang sudah divonis penjara seumur hidup karena menyerang Masjid Findbury Park di London, Inggris, Juni 2017, dan juga Andres Breivik, teroris yang membunuh puluhan orang di Norwegia, Juli 2011.

“Saya mendukung siapa saja yang menentang genosida etnis dan budaya. Luca Traini, Anders Breivik, Dylan Roof, Anton Lundin Pettersson, Darren Osbourne, dan lain-lain.”

Kalimat itu menyiratkan gagasannya tentang supremasi kulit putih dan sayap kanan.

Kebrutalan Tarrant telah menewaskan 49 orang dan dia terancam penjara seumur hidup.