Terjadi Badai Matahari, Apa Dampak Bagi Indonesia?

Ilustrasi matahari. - Wikipedia
15 Maret 2019 17:47 WIB Lalu Rahadian News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Badai matahari kembali terjadi, Jumat (15/3/2019). Namun fenomena alam ini tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia karena posisi Indonesia yang berada di ekuator menjadi sebab minimnya dampak yang akan timbul dari fenomena alam itu.

Terjadinya badai matahari hari ini diketahui pertama kali dari pengumuman layanan cuaca Inggris, Met Office. Dilansir dari laman Express, Rabu (13/3/2019), Met Office menyebut badai matahari dapat melumpuhkan GPS, sinyal ponsel, dan TV digital.

Dampak-dampak tersebut bisa dikatakan mengerikan bagi manusia di era modern. Bayangkan saja apa jadinya bila dalam beberapa waktu manusia kehilangan sinyal telekomunikasi, GPS, dan TV. Hampir dipastikan kekacauan akan terjadi sesaat.

Tetapi, peneliti sains antariksa Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Rhorom Priyatikanto menyatakan badai matahari merupakan fenomena biasa. Badai matahari muncul akibat adanya flare dan lontaran massa korona di matahari.

Dia mengungkapkan fenomena ini sering terjadi saat puncak aktivitas matahari dan jarang ditemui saat fase minimum seperti sekarang ini. Aktivitas matahari diperkirakan akan kembali memuncak sekitar 2025.

Rhorom menjelaskan saat badai matahari, ada angin surya (solar wind) yang keluar dari matahari ke antariksa. Angin surya keluar lantaran munculnya lubang di atmosfer matahari, atau dikenal dengan sebutan lubang korona.

“Angin surya hampir mirip seperti angin yang kita rasakan sehari-hari, hanya saja banyak berisikan proton dan elektron dengan kerapatan jauh lebih rendah dari angin di atmosfer Bumi,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (15/3/2019).

Keberadaan angin surya itulah yang bisa memicu gangguan di planet-planet yang mengelilingi matahari, termasuk Bumi. Peristiwa itu bisa memicu badai geomagnet skala kecil dan sedang, yakni gangguan pada medan magnet Bumi.

Kejadian inilah yang diperkirakan sejumlah ilmuwan terjadi beberapa hari terakhir. Tetapi, Rhorom memastikan badai kecil itu tidak berdampak signifikan bagi aktivitas manusia dan aset manusia di luar angkasa.

“Pada kasus badai yang lebih kuat [tentu jarang terjadi], gangguan yang ditimbulkan dapat lebih parah seperti kerusakan jaringan transmisi listrik, kerusakan pada satelit, serta gangguan pada ionosfer yang berdampak pada transmisi sinyal satelit [GPS, dan sebagainya],” paparnya.

Masyarakat Indonesia pun dinilai tak perlu khawatir bakal mengalami gangguan dalam beraktivitas akibat badai matahari kali ini. Selain karena kekuatannya tidak besar, badai matahari tersebut juga tak akan mengganggu kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia, lantaran posisi negara ini yang berada di ekuator.

Menurut Rhorom, dampak badai matahari atau geomagnet bisa beragam bagi negara-negara di dunia. Perbedaan dampak dipengaruhi letak negara.

“[Negara] Di lintang tinggi, badai matahari ekstrim bisa memicu arus yang dapat merusak jaringan listrik. Di lintang rendah atau dekat ekuator, proses tersebut hampir tidak terjadi,” ucapnya.

Sumber : bisnis.com