AS Akhirnya Larang Terbang Boeing 737 Max

Pesawat Boeing 737 Max di luar hanggar pabrik Boeing di Renton, Washington, Amerika Serikat. - Reuters
14 Maret 2019 13:47 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Amerika Serikat (AS) menyusul Uni Eropa, China, Indonesia, dan banyak negara lain yang mengandangkan sementara Boeing 737 Max setelah kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines akhir pekan kemarin. Keputusan ini sangat penting karena AS adalag negara tempat pabrik Boeing berada.

Dalam mengambil keputusannya, regulator penerbangan AS Federal Aviation Administration (FAA) mengacu pada data satelit baru dan bukti dari lokasi kecelakaan yang terjadi pada Minggu (10/3/2019) di Ethiopia tersebut.

Ini adalah kedua kalinya bagi FAA untuk menghentikan penerbangan pesawat Boeing dalam enam tahun. FAA juga melarang operasional model pesawat 787 Dreamliner pada tahun 2013 karena masalah dengan baterai.

Kendati demikian, saham Boeing Co. mampu berakhir naik 0,5% di level US$377,14, sekaligus memulihkan sebagian penurunan sebesar lebih dari 3% yang dialami ketika FAA mengumumkan keputusannya.

Menurut Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York, larangan tersebut memberi Boeing waktu untuk mengatasi segala masalah dan tidak menghadapi potensi bencana lain.

“Sepertinya yang terburuk sudah berakhir untuk Boeing. Fakta bahwa (saham itu) tampaknya akan menjadi stabil mengindikasikan apresiasi pasar atasnya,” tambahnya, seperti diberitakan Reuters.

Maskapai-maskapai penerbangan AS yang mengoperasikan 737 MAX, yakni Southwest Airlines Co, American Airlines Group Inc., dan United Airlines, mengatakan tengah berupaya menempatkan penumpangnya pada penerbangan lain.

Southwest diketahui mengoperasikan 34 jet 737 MAX 8, sedangkan American Airlines mengoperasikan 24 MAX 8 dan United Airlines menerbangkan 14 MAX 9. Berbanding terbalik dengan Boeing, saham Southwest turun 0,4%.

“Keputusan ini dibuat sebagai hasil dari proses pengumpulan data dan bukti baru yang dihimpun di lokasi kecelakaan tersebut dan dianalisis hari ini,” terang FAA dalam sebuah pernyataan, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan larangan penerbangan pesawat itu pada Rabu (13/3/2019) waktu setempat.

"Bukti tersebut, bersama dengan data satelit baru yang ada untuk FAA pagi ini, telah mendorong keputusan ini,” lanjut FAA. Larangan tersebut akan tetap berlaku saat FAA menyelidiki segala hal yang berujung pada kecelakaan di Ethiopia.

Boeing, yang telah menyatakan bahwa pesawat-pesawatnya laik untuk terbang, dalam sebuah pernyataan terkini mengutarakan dukungannya atas larangan sementara untuk penerbangan 737 MAX.

"Boeing telah menetapkan, karena kehati-hatian dan guna meyakinkan publik penerbangan tentang keamanan pesawat ini, untuk merekomendasikan kepada FAA penangguhan sementara operasi seluruh armada global pesawat 371 737 MAX,” ungkap Boeing.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tujuan Nairobi yang dioperasikan Ethiopian Airline terhempas ke daratan pada Minggu (10/3), hanya sekitar enam menit setelah lepas landas dari bandara di Addis Ababa, Ethiopia. Tidak ada yang selamat dalam peristiwa ini.

Jenis pesawat tersebut sama dengan tipe maskapai Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Laut Jawa pada 29 Oktober 2018. Pesawat Lion Air juga jatuh tak lama setelah lepas landas dari Jakarta, menewaskan total 189 penumpang dan awak di dalamnya.

Kecelakaan fatal kedua yang terjadi hanya dalam sekitar lima bulan itu meresahkan pelanggan layanan penerbangan udara dan mendorong sejumlah negara mengumumkan untuk menghentikan operasi pesawat jenis itu guna menghindari ancaman kerusakan pada mesin pesawat.

Di antara negara yang telah menghentikan operasinya adalah China, Inggris, Jerman, Prancis, Meksiko, Brasil, Argentina, Turki, Irlandia, Australia, Ethiopia, Afrika, Maroko, Mongolia, juga Indonesia.