Indonesia dan Amerika Serikat Tegaskan Kerja Sama Pemberantasan Tuberkulosis

Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2019 dan Peringatan 70 Tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Minggu (10/3 - 2019).
10 Maret 2019 20:03 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG—Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman serius terhadap ketahanan dan kesehatan global. Indonesia menegaskan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam memberantas penyakit menular dan mematikan ini.

Duta Besar Amerika Serikat Joseph R. Donovan mengungkapkan Indonesia dan Amerika serikat telah bermitra selama 70 tahun. “Dua negara ini sepakat bahwa eliminasi TB harus menjadi prioritas tertinggi. Ini sekaligus menandai 20 tahun kemitraan menanggulangi TB,” katanya dalam peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2019 dan Peringatan 70 Tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Minggu (10/3/2019).

Ia mengatakan TB bisa dicegah, tetapi tetap menjadi penyakit menular mematikan di dunia. Pada  2017, World Health Organization (WHO) memperkirakan 10 juta orang di seluruh dunia terjangkit TB, yang kemudian menyebabkan kematian pada 1,3 juta jiwa. Lebih dari 100.000 jiwa di antara mereka ada di Indonesia.

“Setiap tahun di hari TB, kami saling mengingatkan bahwa TB merupakan ancaman serius terhadap ketahanan kesehatan global. TB butuh perhatian, tindakan mendesak secara terus menerus,” ujar dia.

Menurut dia, peningkatan kesehatan yang nyata membutuhkan upaya global.

Kenyataannya bukan hanya pasien yang menanggung beban penyakit ini, melainkan juga seluruh masyarakat, termasuk pada anggota keluarga yang merawat anggota keluarga yang sakit berbulan-bulan sampai kembali sembuh.

Direktur Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) Indonesia Erin Elizabeth McKee menyebutkan saat ini pemerintah Amerika Serikat merupakan donor terbesar untuk perjuangan internasional melawan TB. AS mendukung upaya anti-TB di lebih dari 50 negara di seluruh duia.

“Melalui upaya ini, kami membantu pemerintahan untuk menyediakan pengobatan TB untuk lebih dari 13 juta orang termasuk lebih dari 300.000 pasien TB yang resisten terhadap beberapa jenis obat,” kata dia.

Di Indonesia, USAID telah memimpin berbagai program untuk penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Mereka memberikan dukungan finansial dan teknis pada Pemerintah. Mereka juga bekerjasama mendeteksi dan memberi pengobatan pada lebih dari 700.000 kasus TB.

“Pengobatan adalah langkah yang sangat penting untuk eliminasi TB, yang diharapkan terjadi di Indonesia dan seluruh dunia pada 2030,” ujar di.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono menegaskan Indonesia bukan hanya berkomitmen, melainkan sudah dan terus melakukan pemberantasan dan pencegahan TB.

Di Indonesia, jumlah kasus TB saat ini mencapai 842.000 dan Pemerintah terus bersungguh-sungguh dengan mitra dan masyarakat melakukan upaya penemuan kasus sekaligus pengobatan secara tuntas untuk pemberantasan.

Investigasi kontak merupakan salah satu upaya melibatkan masyarakat untuk menemukan pasien sampai mampu dan mau minum obat secara teratur sesuai dosis.

Investigasi kontak ini fokus di daerah kumuh perkotaan, serta kelompok masyarakat yang diduga berpotensi penularan seperti sekolah, ponpes, madrasah, lembaga pemasyarakatan dan lainnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebutkan data dari Dinkes Jawa Tengah, pada 2018 kasus TB di provinsi ini mencapai 49.616 kasus, dengan case notification rate 143 per 100.000 penduduk. Penemuan kasus TB di Jawa Tengah dalam lima tahun terakhir trennya cenderung meningkat, tetapi baru mampu mencapai 49% dari estimasi kasus yang ditetapkan secara nasional.

Jawa Tengah kini telah memiliki alat tes yang cepat dalam penegakan diagnosis TB sebanyak 67 unit, tersebar di 35 kabupaten dan kota. “Dorongan harus diberikan dengan perhatian yang penuh dalam masalah ini,” katanya.

Pemprov Jateng, lanjutnya, bekerja sama dengan berbagai pihak. Ibu-ibu PKK dan aktivis PKK didorong karena mereka yang bisa masuk ke keluarga untuk memberikan edukasi, bagaimana agar mengerti dari awal sehingga bisa memberikan tindakan yang benar sesuai aturan yang ada dan sesuai saran dari dokter.

Selain itu, pramuka digerakkan terutama saka bhakti husada, yang akan menjadi juru bicara untuk berkampanye keliling agar semua mengerti dan peduli lalu bisa mencegahnya. Mereka jadi penyuluh yang diharapkan membantu perangi TB.”