Mengapa Reuni PA 212 Tidak Mendongkrak Elektabilitas Prabowo-Sandi? Ini 5 Alasannya

Peserta Reuni 212 padati Monas dan sekitarnya. - Okezone.com/Heru Haryono
20 Desember 2018 05:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan elektabilitas capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin usai kegiatan reuni 212, sebesar 54,2%, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya 30,6%.

Peneliti LSI Adji Alfaraby menjelaskan, ada sekira lima alasan yang reuni 212 tak mampu mendongkrak elektabilitas capres-cawapres nomor urut 02. Pertama, kebanyakan responden yang suka dengan kegiatan itu tak bisa dipengaruhi oleh seruan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab yang menyerukan soal NKRI bersyariah dan ganti presiden.

"Terkait dengan seruan Habib Rizieq untuk mewujudukan NKRI bersyariah, dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebesar 80,2 persen menyatakan lebih pro dengan konsep NKRI yang berdasarkan Pancasila saat ini. Hanya sebesar 12,8 persen dari mereka yang suka dengan reuni 212 yang menyatakan pro dengan NKRI bersyariah," kata dia di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018).

Selanjutnya, usai Reuni 212 ada sebagian massa yang meninggalkan pasangan Prabowo-Sandi.

"Di pemilih yang mengaku berafiliasi dengan FPI dan PA 212, terjadi peningkatan suara signifikan dari pasangan Prabowo-Sandi. Sementara itu, dukungan Prabowo-Sandi di pemilih yang menyatakan berafiliasi dengan NU, Muhammadiyah dan pemilih yang menyatakan tidak berafiliasi dengan ormas manapun mengalami penurunan suara," ujarnya.

Adji menambahkan, alasan ketiga, masyarakat Indonesia merasa puas dengan kinerja Jokowi selama empat tahun terakhir. Sebelum reuni 212, kepuasaan terhadap kinerja Jokowi sebesar 69,4%.

Sementara pada Desember 2018 menunjukan bahwa mereka yang menyatakan puas terhadap kinerja Jokowi mencapai 72,1 persen.

Alasan keempat, ketokohan dari Ma'ruf Amin dinilai masih mumpuni dikalangan pemilih muslim. Mantan Rais Aam PBNU itu mampu meredam isu-isu yang menyerang Jokowi melalui politik identitas.

"Sebesar 65,8 pemilih menyatakan simbol Islam tidak bisa digunakan untuk menggerus dukungan Islam ke Jokowi karena cawapresnya adalah seorang pimpinan ulama. Hanya sebesar 17,4% publik yang menyatakan bahwa simbol Islam bisa menggerus dukungan pemilih terhadap Jokowi," terangnya.

Terakhir, kata Adji, Jokowi itu tak bisa disamakan dengan Ahok yang telah dicap oleh sebagian massa Reuni 212 sebagai seorang penista agama. Sehingga, gerakan itu tak bisa dipakai untuk tidak memilih Jokowi diperhelatan Pilpres 2019 mendatang.

"Sebesar 74,6% menyatakan bahwa gerakan Reuni 212 tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih muslim. Hanya sebesar 14,6%, pemilih yang menyatakan bahwa Reuni 212 bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih muslim," pungkasnya.

Sebagai informasi, survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar +/- 2,8%, dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 respoden seluruh Indonesia dalam rentang waktu 5-12 Desember 2018.

Sumber : Okezone.com