Advertisement
Dukcapil Beri Kemudahan Keluarga Korban Jatuhnya PK-LQP
Anggota Basarnas memindahkan kantung jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018). - ANtara Foto/Akbar Nugroho Guma
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA- Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri RI berikan kemudahan bagi keluarga korban Lion Air JT 610 dengan registrasi PK-LQP mendapatkan akte kematian dengan syarat tertentu.
Dirjen Dukcapil Prof. Zudan Arif Fakrulloh memaparkan dua kategori pemberian akte kematian korban, yakni yang sudah teridentifikasi dan belum.
Advertisement
"Sebagai tindak lanjutnya, Kemendagri memberikan kepastian hukum terhadap korban Lion Air ini. Kita bagi menjadi dua, korban yang telah teridentifikasi dan belum," ujar Zudan di Jakarta, Jumat (16/11/2018).
Pertama, korban yang telah teridentifikasi nanti dari Ditjen Dukcapil melalui Dukcapil daerah akan menerbitkan akte kematiannya berdasarkan surat keterangan kematian dari rumah sakit dengan syarat keluarga korban membawa surat keterangan kematian sesuai dengan alamat KTP korban.
"Apabila korban belum 17 tahun maka sesuai dengan alamat yang ada di Kartu Keluarga," tambahnya.
Yang kedua, bagi korban yg belum teridentifikasi maka dari Dukcapil memerlukan surat keterangan kematian dari maskapai penerbangan yang menjelaskan bahwa korban adalah bagian dari penumpang pesawat tersebut.
Sehingga bisa dipastikan bahwa nantinya yang akan diterbitkan kematiannya benar-benar diyakini sudah meninggal dunia sesuai dengan Perpres 96 tahun 2018 tentang pencatatan kematian dan sesuai dengan UU Penerbangan.
Pihaknya berprinsip untuk membantu, memberikan pelayanan tercepat dan terbaik kepada seluruh keluarga korban.
Untuk mempercepat proses penerbitan akte kematian, maka Zudan akan menerbitkan surat kepada Suku Dinas Dukapil di daerah agar membantu penanganan secara cepat dengan syarat terbaru sesuai Perpres 96.
Isi Perpres96 tentang Pencatatan Kematian Pasal 45 a. Surat kematian; dan b. Dokumen Perjalanan Republik Indonesia bagi WNI bukan Penduduk atau Dokumen Perjalanan bagi Orang Asing.
a. Surat kematian dari dokter atau kepala desa/lurah atau yang disebut dengan nama lain; b. Surat keterangan kepolisian bagi kematian seseorang yang tidak jelas identitasnya; c. Salinan penetapan pengadilan bagi seseorang yang tidak jelas keberadaannya karena hilang atau mati tetapi tidak ditemukan jenazahnya; d. Surat pernyataan kematian dari maskapai penerbangan bagi seseorang yang tidak jelas keberadaannya karena hilang atau mati tetapi tidak ditemukan jenazahnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau e. Surat keterangan kematian dari Perwakilan Republik Indonesia bagi Penduduk yang kematiannya di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Adapun proses identifikasi jenazah akan dilanjutkan hingga 23 November 2018 mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, tim DVI telah berhasil mengindetifikasi 95 korban dari 195 kantong jenazah dengan 666 bagian tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KemenPPPA Soroti Trauma Korban Penjambretan di Sleman
- Ketua KPK Ungkap Pola Baru OTT, Aliran Dana Kini Disamarkan
- Kalah di Pemilu Paruh Waktu 2026 Bisa Bikin Donald Trump Dimakzulkan
- Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas
- Dugaan Tak Profesional, Tim SIRI Kejagung Periksa Sejumlah Kajari
Advertisement
Advertisement
Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 28 Januari 2026, Mulai Pukul 05.00 WIB
- CIA Disebut Bangun Kehadiran Permanen AS di Venezuela
- Harga Cabai Rawit Merah Beringharjo Tembus Rp55.000, Pasar Lain Stabil
- Registrasi Nomor Seluler Baru Wajib Biometrik Mulai 2026
- Pemkot Jogja Genjot Emberisasi Sampah Organik hingga 27,5 Ton per Hari
- Nyeri Neuropatik Kian Mengintai, Guru Besar UKDW Ungkap Faktanya
- Satpol PP Bantul Tertibkan Reklame Ilegal di Titik Strategis
Advertisement
Advertisement




