Advertisement
Evakuasi Korban Likuifaksi di Sulteng Butuh Ekskavator Sebanyak Ini
Foto udara rumah-rumah warga yang hancur akibat gempa 7,4 skala Richter di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). - Antara/Hafidz Mubarak
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan perlu enam ekskavator amfibi untuk mengevakuasi korban yang tertimbun lumpur dari proses likuifaksi akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.
"Untuk di wilayah yang mengalami likuifaksi, yaitu di Jono Oge di Kabupaten Sigi ini memerlukan ekskavator amfibi karena lumpurnya masih basah, masih belum kering semuanya sehingga harus menggunakan ekskavator amfibi sebanyak enam unit. Kalau tidak, akan kesulitan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers "Update Tanggap Bencana Sulawesi Tengah" di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu (7/10/2018).
Advertisement
Sutopo menuturkan diperkirakan ada 366 unit bangunan rusak di Jono Oge, dan area yang terdampak oleh likuifaksi atau tertutup lumpur di daerah itu mencapai 202 hektar. "Oleh karena itu, tim SAR (pencarian dan penyelamatan) memerlukan enam unit ekskavator amfibi," tuturnya.
Dia menuturkan, kondisi lumpur basah menyebabkan sulitnya evakuasi korban di Jono Oge sehingga menurut data sementara sampai Minggu (7/10) pukul 13.00 WIB, baru 33 orang yang berhasil ditemukan, yakni 31 selamat dan dua meninggal dunia. Padahal data tersebut juga mencakup informasi bahwa tidak ada korban yang berhasil dievakuasi dari 4-6 Oktober 2018 di Jono Oge.
BACA JUGA
"Kita meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mencari atau menyewa nantinya untuk ekskavator amfibi, mungkin sulit mencarinya tapi kita berkejaran dengan waktu untuk penanganan bencana ini," tuturnya.
Wilayah yang terdampak likuifaksi antara lain Jono Oge, Balaroa dan Petobo.
Sutopo menjelaskan likuifaksi adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatandan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah menjadi cairan.
Syarat terjadinya likuifaksi adalah lapisan tanah berupa pasir, kerikil, batuan apung dan tidak lengket, bersifat lepas atau gembur; kedalaman muka air tanah tergolong dangkal atau kurang dari 10 meter dari permukaan tanah; goncangan gempabumi lebih dari 6 skala richter; durasi goncangan gempa bumi lebih dari satu menit; serta percepatan gempa bumi lebih dari 0,1 g.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 51 alat berat dikerahkan untuk membantu dalam penanganan evakuasi korban dan pembersihan puing-puing bangunan dan longsor.
Sementara itu, bantuan alat berat lain masih dalam perjalanan yang didatangkan dari Balikpapan, Makassar, Poso, Jakarta dan daerah lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ada Diskon Tol 30 Persen Saat Mudik Lebaran 2026, Ini Daftar Ruasnya
- Pejabat Kongres: AS Belum Punya Pertahanan Memadai Hadapi Drone Shahed
- BGN Pecat Kepala SPPG Tanjung Kesuma Terkait Dugaan Pencabulan Anak
- YouTuber Resbob dan Bigmo Jadi Tersangka Fitnah Azizah Salsha
- ABK Penyelundup 2 Ton Sabu di Batam Divonis 5 Tahun Penjara
Advertisement
Hindari Motor, Bus Ringsek Tabrak Pohon di Ring Road Selatan Bantul
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jelang Idulfitri Pemotongan Sapi di Sleman Bisa Naik Dua Kali
- Akademisi UGM Kritik Dominasi AS dalam Board of Peace
- Gubernur Ahmad Luthfi Resmikan Jajaran Pengurus Baru Bank Jateng
- Warteg Gratis Alfamart Hadir di Jogja, Siap Bagi 55 Paket Buka Puasa
- Delpedro Marhaen Puji Putusan Bebas Majelis Hakim PN Jakpus
- Wali Kota Magelang Perkuat Literasi Kebencanaan Warga
- Viral Influencer Kena Campak Tetap Keluar Rumah, Ini Kata Kemenkes
Advertisement
Advertisement








