Advertisement
Media Asia Sentinel Minta Maaf Tuduh SBY Terlibat Pencucian Uang Kasus Bank Century
Bank Century. - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA- Tuduhan kepada Susilo Bambang Yudhoyono terlibat dalam kasus Bank Century oleh pemberitaan media luar negeri Asia Sentinel akhirnya ditarik.
Asia Sentinel, media yang berbasis di Hong Kong, meminta maaf kepada Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atas pemberitaan mengenai dugaan Ketua Umum Partai Demokrat itu terkait skandal Bank Century.
Advertisement
Sebagai bentuk permintaan maaf, Asia Sentinel menyatakan telah menarik artikel berjudul “Indonesia’s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy” (Pemerintahan SBY: Konspirasi Kriminal Terbesar), yang diunggah pada Senin, 11 September 2018.
“Asia Sentinel menarik kembali artikel di laman tentang mantan Presiden RI SBY dan kasus Bank Century di Indonesia. Dalam artikel yang ditulis sendiri oleh pimred kami, John Berthelsen, Asia Sentinel secara tidak adil menempatkan banyak tuduhan terkait gugatan yang sedang berlangsung mengenai dampak dari Bank Century,” tulis redaksi Asia Sentinel pada lamannya, Rabu (19/9/2018).
BACA JUGA
Asia Sentinel mengakui, tidak memuat komentar secara adil dari orang-orang yang tertulis dalam artikel tersebut.
“Kami akui artikel itu hanya satu sisi dan melanggar praktik jurnalistik yang adil. Kami ingin meminta maaf sepenuhnya kepada SBY dan Partai Demokrat, dan siapa saja yang dihina oleh artikel tersebut.”
“Akhirnya, Asia Sentinel ingin menyatakan rasa hormatnya yang tinggi kepada Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah melayani negaranya, dan dihormati sebagai negarawan Asia,” demikian pernyataan resmi Asia Sentinel.
Sebelumnya, dalam artikel yang ditulis John Berthelsen, termuat cuplikan hasil investigasi kasus di balik Bank Century hingga menjadi Bank Mutiara, yang akhirnya jatuh ke tangan J Trust.
Nama SBY juga tercantum dalam artikel itu sebagai salah satu dari 30 pejabat negara yang diduga terlibat konspirasi pencurian uang negara hingga USD 12 miliar tau setara Rp 177 triliun dan melakukan praktik pencucian uang di sejumlah bank internasional.
Artikel itu membuat Partai Demokrat dan SBY secara pribadi tersinggung. Mereka menilai artikel itu berisi fitnah.
Partai Demokrat juga resmi mengadukan kepada Dewan Pers terkait pemberitaan Asia Sentinel. Sekretaris Jenderal Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan, meminta Dewan Pers untuk berkomunikasi dengan dewan pers di Hongkong.
Bahkan, Partai Demokrat juga mengajak Dewan Pers ke Hong Kong untuk melaporkan Asian Sentinel.
"Kami meminta Dewan Pers untuk mengontak Dewan Pers Hong Kong dan mengajak Dewan Pers bersama-sama kami untuk pergi atau melaporkan Asia Sentinel ini ke Dewan Pers Hong Kong," ujar Hinca di Kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018).
Hinca menyatakan, apa yang diberitakan oleh Asia Sentinel tak ada kaitannya dengan SBY maupun Partai Demokrat. Artikel yang ditulis John Berthelsen itu menyimpulkan jika Bank Century adalah tempat SBY melakukan pencucian uang.
"Itulah yang menjadi soal. Secara jurnalistik, kaidahnya kan harus dikonfirmasi, cek dan ricek, tidak boleh beropini, karena wartawan menyampaikan fakta," Hinca menjelaskan.
Menurut Hinca, apa yang diberitakan oleh Asia Sentinel merupakan kasus yang telah ditutup baik secara hukum maupun politik. Pihaknya juga akan mencari Asia Sentinel untuk memastikan kebenaran pemberitaan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tabrakan Maut di Sedayu Bantul, 3 Remaja Tewas
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan bagi 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Advertisement
Advertisement









