Kuota Nikel 2027 Dipangkas, Biaya Smelter Diprediksi Melonjak
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Seorang petani tembakau di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Suparjo, merawat tanaman tembakau miliknya, Minggu (12/8/2018).Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, MAGELANG-Sistem tata niaga tembakau yang ada selama ini kurang berpihak pada petani, kata Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat, Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati.
"Hasil penelitian Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan data bahwa hampir 90 persen petani tembakau di Kabupaten Temanggung menyampaikan sistem tata niaga yang ada kurang berpihak pada petani," katanya di Magelang, Sabtu (8/9/2018).
Ia mengatakan hal tersebut pada workshop Membangun Jaringan Petani Tembakau Indonesia untuk Meningkatkan Kesejahteraan. Ia menuturkan di tengah kondisi yang kurang menguntungkan ini ternyata mulai ada perubahan pergeseran alih tanam maupun diversifikasi dimana petani tembakau mulai mencari alternatif tanaman lain selain tembakau.
Ia mengatakan di Jawa Tengah yang merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau terbesar di Indonesia kesejahteraan petani tembakaunya juga kurang begitu signifikan.
"Hal ini karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi tembakau seperti cuaca atau musim yang tidak menentu dimana musim hujan susah diprediksi, kemudian sistem tata niaga yang tidak berpihak pada petani tembakau," katanya.
Melihat fakta kesejahteraan petani tembakau yang kurang signifikan tersebut, katanya UMM mengumpulkan para petani tembakau maupun mantan petani tembakau di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk saling berdiskusi, menyampaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan menanam tembakau serta menyampaikan kisah sukses bagi yang telah beralih tanam ke jenis tanaman lain.
"Hal ini dimaksudkan agar petani dan mantan petani tembakau memiliki jaringan yang luas dalam upaya peningkatan produksi pertanian dan kesejahteraan mereka," katanya.
Ia mengatakan provinsi penghasil tembakau di Indonesia adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat dengan luas lahan sekitar 206.200 hektare atau 90% dari total luas lahan tembakau di Indonesia.
Ia menyampaikan secara umum melihat produksi tembakau Indonesia tentunya harus seimbang dengan kesejahteraan petani tembakau yang ada. Namun, sangat berbanding terbalik dengan pencapaian industri tembakau.
"Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan besar kenapa Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi produksi tembakau belum seimbang dengan kesejahteraan petani tembakau," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Simak tujuh tips memilih baju lari wanita, mulai dari bahan, sports bra, ukuran, jahitan, hingga outfit sesuai cuaca.
Carlos Alcaraz menyelamatkan dua match point Taylor Fritz dan mencetak sejarah dengan lolos ke semifinal Paris Masters 2026.
Veda Ega Pratama menerima empat hukuman di Moto3 2026, mulai dari Long Lap Penalty hingga penalti turun enam posisi start.
Polda DIY memperkuat Satgas Pagar untuk mencegah premanisme, kejahatan jalanan, tawuran, hingga perusakan fasilitas umum.
Apple dirumorkan menggabungkan fungsi Action Button dan Camera Control pada iPhone keluaran paruh kedua 2027.