Kebanyakan Wisatawan di DIY Berkantong Cekak

Wisatawan berlarian saat gelombang tinggi menerjang di Pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Jumat (20/7/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
08 Agustus 2018 17:00 WIB Holy Kartika Nurwigati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pariwisata DIY menjadi magnet bagi generasi milenial. Namun kebanyakan dari mereka adalah wisatawan berkantong cekak sehingga kurang berkontribusi meningkatkan perputaran uang.

Berdasarkan analisis pengeluaran wisatawan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, wisatawan dengan rentang usia 18-35 tahun mencapai 51% pelancong di provinsi ini. Selain itu, dari jenis kelamin, kebanyakan merupakan perempuan dengan persentase mencapai 55%.

Kepala KPw BI DIY Budi Hanoto mengungkapkan kajian itu berdasarkan survei terhadap 550 wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, di sejumlah objek wisata pada 2017.

“Dari beberapa riset yang kami lakukan, kebanyakan wisatawan yang datang ke Jogja masih berusia muda,” ujar Budi, Selasa (7/8).

Budi menuturkan wisatawan yang datang ke Jogja umumnya berbujet rendah. Nyaris tiga perempat pelancong di DIY berpenghasilan kurang dari Rp10 juta. Segmen wisatawan ini lebih banyak daripada dua tahun lalu. Pada 2016, hanya 60% wisatawan low budget dan tahun lalu meningkat menjadi 72%. Rata-rata pengeluaran wisatawan per hari pun hanya Rp1,7 juta.

“Pengeluaran per hari wisatawan Nusantara sebesar Rp1,5 juta, sedangkan wisatawan mancanegara Rp1,9 juta. Sebagian besar pengeluaran dihabiskan untuk transportasi,” kata Budi.

Pengamat Ekonomi dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY Amiluhur Soeroso saat mengisi Forum Discussion Group (FGD) Mendorong Kinerja Pariwisata DIY belum lama ini di KPw BI DIY mengungkapkan ada tiga jenis pengeluaran terbanyak yang dilakukan wisatawan selama berkunjung ke Jogja. Pengeluaran tertinggi yakni untuk transportasi, disusul penginapan dan cinderamata.

Adapun pengeluaran berdasarkan jenis belanja wisatawan kebanyakan untuk pangan, cenderamata dan hasil pertanian. Amiluhur juga menyebutkan pengeluaran tertinggi berdasarkan data yang diolah dari Dinas Pariwisata DIY pada 2017 didominasi oleh orang-orang milenial dengan rentang usia 25-34 tahun.

“Wisatawan mancanegara pengeluarannya sekitar US$1.101 sedangkan wisatawan Nusantara sekitar Rp376.250,” ujar Amiluhur.

Pengeluaran turis asing di DIY masih lebih rendah ketimbang rata-rata nasional. Menurut laporan Kementerian Pariwisata pada Februari lalu, turis asing di Indonesia yang paling banyak keluar duit adalah para pelancong dari Timur Tengah. Rata-rata mereka membelanjakan US$1.918 per orang per kunjungan, disusul turis dari Eropa dan Tiongkok (lihat grafis).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Juni 2018 mencapai 1,32 juta, naik 15,21% dari periode sama pada 2017 ketika jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 1,14 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dari Januari dampai Juni 2018, turis asing yang berkunjung di Indonesia mencapai 7,53 juta orang. Angka tersebut naik 13,08% dibandingkan dengan jumlah periode yang sama tahun lalu, yakni hanya 6,66 juta.

Menurut Suhariyanto, peningkatan ini cukup menggembirakan dan memacu geliat perekonomian.

“Lebih banyak yang datang berarti pengeluarannya pun lebih besar dan bisa menggerakkan perekonomian. Ke depan, pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang baru,” jelas Suhariyanto.

Wisatawan mancanegara berasal dari wilayah Asia Tenggara (482.900), Asia di luar Asia Tenggara (470.500) dan Eropa (147.800). Turis asing di Indonesia berasal dari Malaysia (223.200), Tiongkok (185.100), Singapura (145.000), Timor Leste (132.900), dan Australia (115.600).