LONG-FORM: Remaja Gaza Serang Israel dengan Layang-Layang Berapi, Ratusan Hektare Lahan Terbakar

Pemuda Palestina bersiap menerbangkan layang-layang yang sudah dibanduli material berdaya bakar untuk diarahkan ke sisi Israel, dekat perbatasan Israel-Gaza di pusat Jalur Gaza, Senin (4/6/2018). - Reuters/Ibraheem Abu Mustafa
06 Juni 2018 21:05 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, Reuters-GAZA-Para pemuda dan remaja Palestina di Jalur Gaza membuat taktik penyerangan anyar namun cukup membahayakan bagi permukiman Israel. Mereka mengirimkan sejumlah layang-layang dan balon yang dimuati api dan mengarahkannya ke hutan dan lahan pertanian di sisi Israel.

Taktik baru ini membuat otoritas Israel menyatakan para pelaku penyerang dengan layang-layang harus dibalas dengan target mati.

Sedikitnya 120 warga Palestina telah terbunuh oleh serangan tentara keamanan Israel dalam aksi demonstrasi massal sejak 30 Maret lalu. Para demonstran mengganti taktik serangan dengan mengirim layang-layang melintasi pagar perbatasan yang dianggap sebagai senjata baru nan efektif.

"Ini kami mulai dengan spontan. Kami tidak pernah menyangka hasilnya sungguh bagus," kata Shadi, satu dari lima remaja yang menyiapkan layang-layang yang dimuati buntelan goni yang telah direndam dalam solar dan oli disel di medan Gaza.

"Idenya sangat sederhana: memakai peralatan paling simpel namun bisa berdampak rusak dan kehilangan di pihak Penjajah (Israel)," kata Shadi, 19, yang mengenakan topeng “V for Vendetta”.

Selain layang-layang, para pemuda juga memakai balon yang diikat dengan bahan yang mampu membakar untuk diarahkan ke sisi Israel, dekat perbatasan Israel-Gaza di pusat Jalur Gaza, Senin (4/6/2018). (Reuters-Ibraheem Abu Mustafa)

Tidak terdapat korban terluka akibat serangan api dari pihak Palestina itu. Namun sekitar 910 hektare lahan dan hutan lindung terbakar. Kebakaran kian parah karena bertepatan dengan musim dingin kering dan angin Mediterania. Kejadian itu menyebabkan kerusakan dengan nilai kerugian sekitar US$2,5 juta (Sekitar Rp34,7 miliar).

 

Tembak Mati

Merespons kejadian itu, Menteri Keamanan Publik Israel Gilad Erdan mengatakan, penembak jitu Israel semestinya dikerahkan untuk menembak penerbang layang-layang dan balon.

“Saya berharap IDF [Israel Defence Force/Tentara Pertahanan Israel] mengatasi para penerbang layang-layang ini. Sebab apa yang mereka lakukan adalah tindakan teroris. Tembak mati adalah sebuah keharusan untuk mereka yang menerbangkan layang-layang dan balon itu.”

Sebuah traktor tampak di balik lahan terbakar di area di mana para pemuda Palestina menjatuhkan layang-layang dan balon yang dibanduli material berapi di perbatasan Gaza-Israel dekat kibbutz Nir Am, Jalur Gaza, Selasa (5/6/2018). (Reuters/Amir Cohen)

Seorang jendral Israel mengatakan, Israel sudah menempatkan sejumlah penerbang drone sipil untuk turut membantu para tentara, dan memerintahkan mereka menerbangkan drone guna menghalau layang-layang.

 “Jika drone mereka terjatuh atau rusak dalam misi itu, kami akan menggantinya,” kata jendral yang tak mau disebut namanya itu kepada Reuters.

Dia juga mengatakan, tentara juga dibekali drone surveilans yang lebih besar dengan garis pancing atau pisau yang dapat merobek atau memotong senar layang-layang di udara.

Namun dia mengakui taktik itu sangat terbatas efektivitasnya, sehingga katanya, "Kami mungkin akan berakhir dengan harus menembak para penerbang layang-layang juga."

Daniel Ben-David, seorang pejabat kehutanan untuk Dana Nasional Yahudi Israel, mengatakan beberapa layang-layang telah dihiasi swastika atau warna nasional Palestina, tetapi belakangan ini terbuat dari lembaran nilon transparan. Beberapa dilampiri selebaran. “Persiapkan diri untuk musim panas yang terik,” bacalah satu, dalam bahasa Ibrani.

Seorang tentara Israel menerbangkan drone untuk menghalau layang-layang dan balon yang dimuati material pembakar. Foto diambil di sisi Israel di perbatasan Israel-Jalur Gaza, dekat Kissufim, Selasa (5/6/2018). (REUTERS/Amir Cohen)

Di Gaza, pembuat layang-layang Shadi mengatakan kelompoknya tidak pernah menggunakan swastika pada layang-layang mereka. Plastik transparan, kata dia, dipilih karena merupakan bahan terbaik untuk membuat layang-layang penyerang, sebab ia tak terlihat kontras dengan warna langit.

Shadi mengatakan, jikapun gelombang protes di Gaza mereda, dia dan teman-temannya akan terus mengirim layang-layang melintas ke perbatasan Israel. Beberapa di antaranya akan membawa foto-foto warga Palestina yang tewas dalam demonstrasi.

“Setiap layang-layang berharga 10 shekel (US$ 2,80). Kami membayarnya dari kantong kami sendiri, ”kata Shadi.

Seorang utusan senior Gedung Putih, Jason Greenblatt, mendeskripsikan layang-layang itu sebagai "permainan atau metafor yang tidak berbahaya bagi kebebasan (tetapi) merupakan sebuah propaganda dan senjata yang sembarangan".

  

Ditulis oleh reporter Reuters Dan Williams; Disunting oleh Jeffrey Heller dan Robin Pomeroy, diterjemahkan oleh Wartawan Harian Jogja Nugroho Nurcahyo

Sumber : Reuters.com