Ular Kobra 1,2 Meter Masuk Rumah Warga Prambanan Klaten
Seekor ular kobra sepanjang 1,2 meter dievakuasi dari rumah warga di Prambanan, Klaten. Polisi mengimbau warga tidak menangkap ular sendiri.
Petugas Dinas Pertanian KPP Klaten mengecek kadar keasamaan daging sapi di Pasar Induk Klaten, Senin (4/6/2018) pagi. (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)
Harianjogja.com, KLATEN -- Daging tak layak konsumsi ditemukan petugas dijual di Pasar Klaten. Konsumen diminta waspada.
Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (KPP) Klaten mewanti-wanti warga agar lebih jeli saat membeli daging. Peringatan itu disampaikan menyusul masih adanya pedagang yang menjual daging semigelonggongan.
Temuan itu berdasarkan inspeksi mendadak (sidak) petugas Dinas Pertanian KPP Klaten ke sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Induk Klaten, Senin (4/6/2018). Selain mengecek kondisi daging dari penampakannya, petugas mengukur kadar keasaman setiap daging yang dijual menjelang Lebaran 2018 ini.
Hasilnya, mayoritas daging sapi yang dijual mengandung kadar air tinggi atau pH di bawah 6. "Ada lima pedagang yang menjual daging dengan kadar air tinggi. Sementara yang diketahui menjual daging kering ada dua orang. Kalau daging kering itu idealnya memiliki ukuran pH 6," kata Kasi Pengembangan Usaha Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKPP Klaten, Tri Yanto, saat ditemui wartawan di sela-sela sidak.
Selain daging semigelonggongan, petugas mendapati kulit ayam yang dijual pedagang diduga mengandung formalin. Beratnya sekitar 5 kg. "Ciri-cirinya tidak ada lalat yang hinggap ke kulit ayam. Pedagang kulit ayam berformalin sudah kami peringatkan agar tidak menjualnya. Pedagang mengaku mendapatkan kulit itu dari Magelang," jelas dia.
Daging semigelonggongan di pasar itu, menurut Tri Yanto, berasal dari pemasok asal Boyolali. Daging asal Klaten ia jamin merupakan daging kering atau berkualitas bagus.
Daging semigelonggongan kerap kali ditemukan saat petugas sidak terutama di Pasar Induk Klaten apalagi menjelang Lebaran. Selama ini, pedagang mengaku mendapat daging itu dari pemasok asal Boyolali. Peringatan sudah kerap kali disampaikan ke pedagang. Namun, pedagang masih menjual daging-daging tersebut.
"Kami mengharapkan daging semigelonggongan bisa lebih diantisipasi dari Boyolali. Kalau kami berencana membuat label di setiap tempat jualan daging mereka berasal dari mana saja biar konsumen lebih cermat. Daging dari Klaten kami pastikan daging kering," jelasnya.
Lebih lanjut, Tri Yanto meminta warga agar lebih teliti ketika membeli daging. Cara paling mudah bisa dilakukan dengan melihat penampakan daging. Ciri daging semigelonggongan cenderung berwarna putih pucat. Sementara daging sehat ciri-cirinya berwarna merah.
Tri Yanto mengatakan harga daging semigelonggongan lebih murah dibanding daging kering. Saat ini, harga daging semigelonggongan sekitar Rp90.000/kg sementara daging kering Rp120.000/kg.
"Sebenarnya daging semigelonggongan itu juga membuat konsumen rugi meskipun murah. Banyaknya kandungan air membuat daging menyusut drastis saat dimasak. Daging semigelonggongan juga mudah busuk dibanding daging kering," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Seekor ular kobra sepanjang 1,2 meter dievakuasi dari rumah warga di Prambanan, Klaten. Polisi mengimbau warga tidak menangkap ular sendiri.
BGN membuka ruang bagi mitra MBG mengganti yayasan yang dinilai tak berkontribusi. Mitra dapat mengajukan yayasan baru melalui portal registrasi.
Kesehatan ginjal anak perlu dijaga sejak dini. Simak tujuh cara merawat ginjal anak untuk membantu mencegah masalah kesehatan di kemudian hari.
Prakiraan cuaca Jogja Minggu 4 Oktober 2026 didominasi berawan. Suhu tertinggi mencapai 33°C, sementara Kulon Progo cerah.
Luis de la Fuente memuji Lamine Yamal sebagai calon legenda sepak bola setelah Spanyol menang 3-1 atas Republik Ceko.
Indonesia menyampaikan sikap soal excess capacity, kerja paksa, dan MFN dalam Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Amerika Serikat.