Menristekdikti Harap Pesawat Terbang N-219 Segera Dikomersialisasikan

Menristekdikti M Nasir - Harian Jogja/Desi Suryanto
31 Maret 2018 15:37 WIB Abdalah Gifar News Share :

Soal pesawat N-219, Nasir mengakui sempat kekurangan dana untuk melakukan uji kelayakan terbang

Harianjogja.com, SEMARANG-Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir menargetkan sepeda motor listrik Gesits produk domestik dapat diproduksi massal pada akhir 2018. Selain itu, pesawat terbang N-219 buatan anak bangsa juga diharapkan dapat dikomersialkan sebelum 2019.

Soal pesawat N-219, Nasir mengakui sempat kekurangan dana untuk melakukan uji kelayakan terbang. Pesawat ini membutuhkan biaya sekitar Rp81 miliar, tetapi sekarang pesawat itu sudah tahap uji.

"Pesawat N-219 sekarang sudah tahap uji. Mudah-mudahan akhir 2018 sudah komersialisasi. Ini adalah pesawat rancang bangun dari putra-putri Indonesia, tanpa melibatkan orang asing. Local conten sekitar 40 persen, sementara 60 persennya, seperti engine masih impor," katanya.

Kemudian, kata dia, peralatan pilot yang berada bagian depan kokpit masih impor sehingga ke depan membutuhkan pengembangan riset untuk bisa memproduksi sendiri.

Apabila akhir 2018 pesawat N-219 selesai uji kelayakan terbang dan mendapatkan sertifikat, kata dia, proses produksi akan dilakukan. Menurut dia, permintaan pasar terhadap pesawat dengan spesifikasi seperti N-219 sudah dikaji dengan mengumpulkan industri penerbangan dari luar negeri yang ternyata pasarnya potensial.

"Bagaimana demand-nya kami sudah kumpulkan, undang, industri penerbangan luar negeri. Potensialnya 200 unit. Namun, kapasitas produksi baru bisa 24 unit per tahun," katanya.

Artinya, kata dia, perlu melakukan inovasi dan ekspansi yang dilakukan untuk mempercepat produksi agar bisa memenuhi kebutuhan pasar pesawat terbang yang sangat potensial.

"Berarti, kalau 200 unit selesainya sekitar delapan tahun. Ya, bagaimana ekspansi untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan pasar itu nantinya," katanya.

Sepeda Listrik

"Insyaallah akhir 2018 sudah mass production di bawah koordinasi PT Wikon dan Garansindo. Kalau risetnya, dari Universitas Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)," katanya seusai menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Membangun Reputasi Internasional Perguruan Tinggi Merekat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (29/3/2018).

Menurut mantan Rektor terpilih Universitas Diponegoro Semarang (Undip) itu, riset yang dilakukan perguruan tinggi saat ini harus mengarah kepada kebutuhan industri. "Kami berkoordinasi dengan seluruh kementerian dan lembaga di bawah koordinasi Menristekdikti untuk membuat rencana induk riset nasional. Lebih pas kalau riset ke depan hilirisasi dan komersialisasi untuk dunia industri," katanya.

Nasir mencontohkan rancangan motor listrik saat ini sangat dibutuhkan seiring dengan konsumsi energi sepeda motor dan mobil sekitar 35% dari total konsumsi energi nasional. "Semua orang pakai motor dan mobil menggunakan bahan bakar minyak. Kalau bisa dihemat dengan listrik bisa bergeser ke listrik, berarti kita mampu melakukan penghematan energi yang luar biasa," katanya.

Gesits Technologies Indo adalah anak perusahaan Garansido Group yang khusus mengurusi segala hal terkait motor listrik Gesits. Tak hanya motor listrik, Mensristek mengatakan mobil listrik nasional (molina) juga sudah disiapkan untuk mengurangi beban energi, termasuk penyiapan suplai listrik yang mencukupi.

"Problemnya, siapa yang menyediakan listrik? Kami sudah panggil PLN, panggil Pertamina. Bagaimana penyediaan energi listriknya supaya nanti charging [pengisian listrik] bisa di mana-mana," katanya.

Diakui Nasir, proses pengisian daya motor dan mobil listrik masih membutuhkan waktu lama, sekitar 3-4 jam per kendaraan. Sedangkan di luar negeri proses pengisian daya listrik hanya 5-7 menit. "Peneliti saya tantang, ke depan bagaimana recharge kalau di negara lain cukup 5-7 menit per kendaraan, sangat cepat sekali. Apa yang harus dilakukan, kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri," katanya.