REKTOR BERBICARA : Rektor STEI Yogyakarta, Muhammad Pertahankan Pendidikan Ekonomi Syariah

Ketua STEI Yogyakarta, Profesor Muhammad. (Joko Nugroho/JIBI - Harian Jogja)
15 Februari 2016 15:24 WIB News Share :

Rektor berbicara kali ini menampilkan Rektor Islamic Banking School, Profesor Muhammad.

Harianjogja.com, JOGJA-Islamic Banking School yang menjelma menjadi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta tetap mempertahankan pengajaran perbankan syariah. Meskipun sudah banyak perguruan tinggi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuka fakultas ekonomi syariah, Ketua STEI Yogyakarta, Profesor Muhammad masih yakin STEI Yogyakarta mampu bersaing. Berikut ulasan wartawan Harianjogja.com Joko Nugroho seputar perguruan tinggi yang ada di Jalan Sukonandi Kotabaru, Jogja itu.

Selamat pagi Profesor Muhammad. Bisa diceritakan awal berdirinya STEI Yogyakarta?
STEI Yogyakarta awalnya hanya berupa lembaga kursus. Itu sekitar tahun 1992. Waktu itu sedang booming bank syariah di Indonesia. Melihat banyaknya minat, pada 1996 kami mulai merintis sekolah tinggi. Pada 1998, ada reformasi dan ada perubahan mendasar soal perbankan syariah. Perbankan syariah bahkan mulai diakui. Kami menyambut baik dengan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syariat. Perkembangan kami sangta terlihat karena berdampingan dengan tumbuhnya Bank Perkreditan Rakyat syariah.
Peminatnya waktu itu bukan hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saja, bahkan investor yang ingin mendirikan bank syariah juga tertarik. Mereka mengikuti beberapa kelas singkat kami untuk mengetahui dasar pendirian bank syariah.
Akhirnya pada 2000, Kementrian Agama memberikan peluang untuk membuka sekolah tinggi. Kami manfaatkan kesempatan ini dengan merubah diri menjadi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Yogyakarta hingga kini.

Ada berapa program studi (prodi) di STEI Yogyakarta?
Awal terbentuknya STEI Yogyakarta kami mempunyai  dua prodi, yakni Manajemen Lembaga Keuangan Syariah dan Manajemen Bisnis Syariah. Waktu itu memang harapannya bukan hanya mencetak orang yang ahli di bidang lembaga keuangan syariah namun penyalurannya untuk entrepreneur berbasis syariah. Namun perjalanan waktu membuat kami meleburkan dua prodi ini menjadi satu. Dan kini kami lebih fokus dengan prodi Perbankan Syariah.

Kenapa hanya memilih fokus pada bidang perbankan syariah saja?
Tujuan utama saat kami masih menjadi lembaga kursus memang ingin mencetak orang yang ahli dalam perbankan syariah. Kami tidak hanya ingin menyediakan tenaga ahli diperbankan namun juga koperasi semacam Baitul Maal wa Tamwil (BMT).
Fokus pada satu bidang ini membuat kami semakin dikenal masyarakat luas. Makanya kami tidak ingin melebarkan ke prodi yang lain terlebih dulu. Kalaupun ada pengembangan arahnya juga tidak akan jauh dengan ekonomi syariah.

 

Selanjutnya : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/15/rektor-berbicara-rektor-stei-yogyakarta-muhammad-pertahankan-pendidikan-ekonomi-syariah-691386/2" target="_blank">Tawaran apa hingga akhirnya banyak mahasiswa ingin belajar perbankan syariah?

Tawaran apa hingga akhirnya banyak mahasiswa ingin belajar perbankan syariah?

 

Tawaran apa hingga akhirnya banyak mahasiswa ingin belajar perbankan syariah?
Dulu kami memilki tawaran yang menarik, yakni kuliah hanya tiga tahun saja. Waktu itu kami memakai sistem catur wulan, jadi hanya memangkas waktu libur mahasiswa bukan mengurangi ilmu yang didapatkan mereka.
Makanya meskipun kami memiliki satu prodi, selama 15 tahun ini kami telah meluluskan 1.500 mahasiswa. Namun kini aturan memang lebih ketat, dan kami mengikuti sistem semester.
Lulusan kami juga tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan kerja. Paling lama empat bulan mereka sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan banyak diantara mahasiswa kami mengerjakan skripsi sambil bekerja.
 
Promosi yang selama ini dijalankan seperti apa?
Promosi kami lebih mengarah ke jaringan alumni. Sebab alumni sendiri yang merasakan saat kuliah hingga akhirnya diterima kerja. Mereka yang akan mempengaruhi adik-adik mereka nantinya. Lewat alumni kami mendapatkan 85% mahasiswa murni atau bukan pelarian dari perguruan tinggi lain. Selain itu kami juga melakukan presentasi ke sekolah-sekolah untuk semakin memperluas jangkauan.

Dukungan terhadap pengembangan dosen seperti apa Prof?
Dukungan kami sangat besar. Bahkan hingga kini kami sudah tidak memiliki dosen dengan gelar S-1, semuanya telah lulusa S-2. Kalau dirata-rata, 60% diantara dosen ini sudah memiliki gelar doktor.

Selanjutnya : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/15/rektor-berbicara-rektor-stei-yogyakarta-muhammad-pertahankan-pendidikan-ekonomi-syariah-691386/3" target="_blank">Apakah ada dukungan khusus untuk penelitian dosen?

Apakah ada dukungan khusus untuk penelitian dosen?

 

Apakah ada dukungan khusus untuk penelitian dosen?
Dukungan lebih kami arahkan untuk menciptakan teori-teori baru tentang perbankan syariah. Sebab dengan pemikiran baru di perbankan syariah, kami bisa mencetaknya menjadi buku. Dan buku itu bisa menjadi acuan perkuliahan.
Sebab hingga kini buku-buku tentang perbankan syariah itu masih sangat minim. Khususnya buku perbankan syariah yang memiliki identitas perbankan syarah Indonesia. Itu jelas akan sangat beda dnegan perbankan syariah di Malaysia atau Timur Tengah. Buku-buku referensi perbankan syariah yang beredar kebanyakan dari luar negeri. Padahal jika diajarkan di Indonesia tidak semuanya bisa sesuai.

Dengar-dengar STEI Yogyakarta juga membuka perkuliahan untuk pekerja, benar begitu?
Kami memang ada kelas untuk pegawai. Kami juga memodifikasi kurikulum agar sesuai dengan yang mereka butuhkan. Setiap tahunnya kami bisa menerima satu kelas khusus pekerja ini. Mereka kebanyakan kuliah dari sore hingga malam.
Kebanyakan mahasiswa di kelas ini lulusan SMK yang sudah menjadi pegawai perbankan syariah. Bukan hanya karyawan yang ingin mengembangkan pendidikan, bahkan pemilik bank juga merekomendasikan karyawannya kuliah di sini.

Dukungan STEI Yogyakarta dalam kegiatan mahasiswa?
Untuk kegiatan mahasiswa banyak yang kami dukung, mulai dari bakti sosial, olah raga dan seni serta budaya. Namun kami juga memiliki kegiatan bernama entrepreneur centre. Jadi mahasiswa yang ikut di sini bisa mengembangkan diri dalam dunia entrepreneur.
Hingga kini kami memiliki 20 mahasiswa yang telah bergabung di sini. Mereka belajar mengemas produk dan memasarkannya. Dua produk yang sudah jalan adalah gula semut dan wedang uwuh. Kami sedang mengembangkan biogas.

Selanjutnya : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/15/rektor-berbicara-rektor-stei-yogyakarta-muhammad-pertahankan-pendidikan-ekonomi-syariah-691386/3" target="_blank">Sejauh ini program beasiswa apa saja yang dijalankan di STEI Yogyakarta?

Sejauh ini program beasiswa apa saja yang dijalankan di STEI Yogyakarta?

 

Sejauh ini program beasiswa apa saja yang dijalankan di STEI Yogyakarta?
Beasiswa kami ada dari beberapa, yakni dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja dan Kementerian Agama (Kemenag). Total beasiswa mahasiswa di kampus mencapai 15% dari total mahasiswa.
Masih ada beasiswa dari bank syariah yang kami ajak kerja sama. Bank syariah ini banyak yang sudah mengincar mahasiswa kami untuk bekerja di tempatnya, salah satu caranya mengikat dengan program beasiswa.

Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tantangan ke depan di bidang perbankan syariah seperti apa Prof?
Saya melihat Indonesia belum mampu jika bersaing di bidang perbankan syariah. Salah satunya karena pemerintah belum memiliki komitmen kuat. Beda dengan Malaysia yang sejak 1986 sudah mengeluarkan Undang-Undang Perbankan sSariah.
Indonesia itu baru mulai memiliki membicarakan perbankan syariah pada 1992. Sedangkan 1998 baru mulai ada peraturan presiden dan 10 tahun berikutnya kita baru memiliki Undang-Undang Perbankan Syariah. Melihat dari hal itu saja, kita sudah kalah beberapa tahun dengan Malaysia.
Meskipun demikian, sebenarnya Indonesia memiliki peluang yang besar untuk bisa bersaing dalam dunia perbankan syariah. Salah satunya dengan cara mengubah satu bank milik pemerintah atau badan usaha milik negera (BUMN) menjadi perbankan syariah.
Misalkan saja BRI, asetnya sudah besar dan ada dimana-mana. Jika BRI menjadi perbankan syariah maka target pemerintah yang ingin pertumbuhan bank syariah mencapai 5% dibandingkan bank konvensional akan terwujud.

Selanjutnya : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/15/rektor-berbicara-rektor-stei-yogyakarta-muhammad-pertahankan-pendidikan-ekonomi-syariah-691386/5" target="_blank">Dengan kondisi itu, lantas tantangan dunia kerja di bidang perbankan syariah ke depan seperti apa Prof?


Dengan kondisi itu, lantas tantangan dunia kerja di bidang perbankan syariah ke depan seperti apa Prof?

 

Dengan kondisi itu, lantas tantangan dunia kerja di bidang perbankan syariah ke depan seperti apa Prof?
Tantangan terbesar dunia kerja perbankan syariah itu ada pada tawaran dari luar. Karena perkembangan perbankan syariah yang lebih maju di Malaysia, tidak menutup kemungkinan pekerja terbaik dari Indonesia akan hijrah ke Malaysia.

Target STEI Yogyakarta ke depan?
Kami merencanakan tahun ini kembali membuka satu prodi baru, yakni Ekonomi Syariah. Konsentrasinya pada pengajaran pendanaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sasaran kami dengan prodi baru ini adalah penyediaan tenaga kerja untuk BMT.
Jika perbankan syariah kini sudah ikut diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maka tidak menutup kemungkinan BMT juga akan diawasi. Jika pengawasannya ketat, maka akan dibutuhkan tenaga kerja yang kredibel di bidang keuangan syariah.

Bisa digambarkan STEI Yogyakarta dalam lima kata?
Syariah, Profesional, Unggul, Integritas dan Alumni