SABDA RAJA JOGJA : Romo Tirun : Jangan Ewuh Pakewuh

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOSARASEHAN KEISTIMEWAAN -- KRT. JATININGRAT atau yang akrab dipanggil Romo Tirun (baju batik) berbicara di depan puluhan Relawan dan Pejuang Ijab Qobul dari berbagai daerah di DIY dalam sebuah acara sarasehan Keistimewaan di Posko Ijab Qobul di sisi timur Alun-Alun Utara Yogyakrta, Sabtu (28 - 1). Romo Tirun membeberkan sejarah berdirinya NKRI dan peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam membangun NKRI.
20 Mei 2015 16:44 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Sabda Raja Jogja diharapkan Romo Tirun tidak disikapi dengan rasa tidak enak.

Harianjogja.com, BANTUL-Terkait polemik Kraton Jogja, Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII, KRT Jatiningrat mengimbau warga tidak bersikap ewuh pekewuh.

Pengageng Tepas Dworo Puro (semacam Humas) Kraton ini mengatakan masyarakat DIY tidak seharusnya hanya menerima atau setuju-setuju saja dengan apa yang diinginkan Kraton. Warga pun tak seharusnya berdiam diri, tidak peduli dengan permasalahan yang terjadi di Kraton. Pasalnya, sistem kepemimpinan yang ada dalam Kraton Yogyakarta itu adalah monarki dan demokrasi yang sudah menjadi satu.

"Jadi rakyat pun harus ikut menyuarakan hal ini. Jangan hanya diam dan setuju-setuju saja dengan apa yang diperintahkan. Karena kalau kita ingat apa yang dipesankan oleh Sultan HB XI, tahta kraton itu adalah untuk rakyat. Dan rakyat jogja tidak boleh ewuh pakewuh dengan kondisi dan permasalahan yang mungkin terjadi di dalam Kraton," ungkap pria yang biasa disapa dengan nama Romo Tirun,  saat menjadi pembicara dalam seminar dan diskusi hasil penelitian tentang Suksesi dan Paugeran Kraton Yogyakarta, yang diselenggarakan pada hari ini, Rabu (20/5/2015) di ruang seminar gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) lantai 4 Kampus Terpadu UMY seperti rilis yang Harianjogja.com, terima.

Persoalan Kraton Jogja dinilainya harus dilihat dari berbagai sudut pandang dan perspektif. Sementara sikap ewuh pakewuh justru menjadi penghalang nalar masyarakat yang baik. Sebab, menurut Romo Tirun, masyarakat cenderung beranggapan membantu dengan menerima dan ikhlas dengan apa yang diputuskan Kraton.

"Jangan seperti itu. Mari jaga Kasultanan Ngayogyakarta dan Paugeran asli yang sudah ada sejak zaman Sultan Hamengku Buwono yang pertama," terangnya.