PENDAKI JATUH KE KAWAH MERAPI : Banyak Foto Tak Akurat Beredar, Ini Penjelasan Pihak Kampus

Eri Yunanto, pendaki yang jatuh ke kawah Merapi (Instagram Erry Yunanto)
18 Mei 2015 19:30 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Pendaki jatuh ke kawah merapi yakni Eri Yunanto, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)

Harianjogja.com, JOGJA- Pihak Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)  menegaskan bahwa pendakian yang dilakukan Erri Yunanto, mahasiswa yang jatuh di kawah Merapi, merupakan inisiatif sendiri.

Pihak kampus menjelaskan pendakian yang melibatkan enam orang itu bukan mengatasnamakan mapala (mahasiswa pecinta alam) kampus tapi atas nama pribadi.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor III UAJY, R. Sigit Widiarto, dalam jumpa pers di kampus II UAJY Babarsari, Depok, Senin (18/5/2015).

"Erri berangkat dengan Dicky, seorang mahasiswa Teknik Industri [TI], dan empat teman lainnya yang merupakan teman SMA Erri di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Mereka ingin mendaki untuk menikmati long weekend meski dia [Erri] bukan anak Palawa [mapala UAJY]. Jadi pendakian ini tidak mengatasnamakan universitas," tutur Sigit.

Dalam jumpa pers yang dihadiri Rektor UAJY Sri Suhartanto, Martin Yanuar yang merupakan relawan dan alumni UAJY, serta dosen pembimbing Erri yakni Ratna Tungga Dewa itu, Sigit mengatakan pihaknya menerima informasi Erri jatuh ke kawah Merapi pada Sabtu (16/5/2015) malam.

Saat itu, universitas sedang menggelar pentas seni. "Malam itu juga kami bersama mapala universitas langsung menentukan langkah-langkah tindak lanjut dengan mengirimkan tim assesment ke Selo yang dilakukan pada hari berikutnya," ucap Sigit.

Sejak beredarnya berita jatuhnya Erri di media massa, beredar pula foto-foto yang diklaim adalah foto Erri menjelang detik-detik ia jatuh. Untuk hal ini, Sigit menjelaskan bahwa hanya ada satu foto yang akurat.

"Foto yang ada garis-garisnya itu benar foto Erri tapi kalau yang lain belum bisa kami verifikasi," kata dia.

Menurutnya, Dicky hanya menyerahkan satu buah foto kepada BASARNAS. Dicky berperan mengambil gambar Erri yang berfoto di bibir kawah sebelum akhirnya ia terpeleset dan jatuh ke kawah. Jika ada foto versi lain, bisa dipastikan itu bukan foto Erri.

Sementara itu, Martin menjelaskan bahwa mulai Sabtu (16/5/2015) lalu telah dikirimkan tiga search rescue unit (SRU) sebanyak 70 personil untuk observasi medan di mana survivor (Erri) diperkirakan jatuh.

SRU membawa drone dan juga binocular (teropong) untuk mengetahui kepastian titik korban. Karena drone tidak berfungsi maksimal mengingat medan magnet yang cukup tinggi maka tim hanya mengandalkan binocular.

Martin menjelaskan, teknik evakuasi korban menggunakan teknik vertical rescue. Teknisnya satu rescuer masuk ke dasar kawah hingga mencapai titik lokasi korban berada.

"Setelah mencapai lokasi, korban diikat pada dragbar untuk dinaikkan ke atas dengan cara ditarik," papar Martin saat menjelaskan skenario evakuasi yang dilakukan.

Ia mengatakan, evakuasi mahasiswa Prodi Teknik Industri angkatan 2012 ini membutuhkan skenario yang tepat pasalnya peristiwa korban masuk kawah baru pertama kali terjadi di Gunung Merapi.

Rescuer harus berhati-hati karena uap panas pada dinding kawah dapat menyembur setiap saat. Gas beracun dari kaldera juga bisa saja mengancam.

"Rescuer dilengkapi dengan tabung oksigen namun hanya mampu bertahan sekitar 15 menit," kata Martin.

Oleh karena itu, ketepatan waktu dan penguasaan medan memang dipersiapkan sebelum rescuer terjun ke dasar kawah.

Di mata para dosen, Erri adalah sosok mahasiswa yang tidak banyak berulah. "Dia sopan dan di kelas bukan seseorang yang suka menonjolkan diri," kata Ratna.

Erri juga memiliki hubungan baik dengan teman kuliah maupun dengan dosen. Sedangkan untuk sisi akademik, Erri termasuk mahasiswa dengan nilai rata-rata.