SABDA RAJA : Sultan Sebut Poin Sabda Raja yang Dimuat Media Salah

Raja Kasultanan Ngayogjakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengkubuwono X seusai mengucapkan Sabda Tama atau penyataan resmi saling memberi salam kepada Sri Paduka Pakualam IX di Bangsal Kencana, Kompleka Keraton Jogja, Jumat (6/3/2015). Pengucapan sabda Sultan yang berisi delapan butir pernyataan tersebut dihadiri oleh Permaisuri G.K.R. Hemas, para putra, saudara-saudara dan Adipati Pura Pakualaman, Sri Paduka Paku Alam IX serta para abdi dalem. (Gigih M. Hanafi/JIBI - HarianJogja)
07 Mei 2015 18:06 WIB Uli Febriarni News Share :

Sabda Raja yang ditulis media, menurut Sultan, salah.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Raja Kraton Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan bahwa lima poin sabda raja yang beredar di masyarakat melalui media masa tidak sesuai apa yang dikeluarkannya pada 30 April 2015 lalu.

Penegasan tersebut diucapkan saat dijumpai usai menanam pohon nyamplung populasi dari Dompu, Nusa Tenggara Barat di Gubugrubuh, Playen, Kamis (7/5/2015).

"Yang dimuat di media tentang lima poin [sabda raja] itu salah semua," ujarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu juga menyayangkan sikap adik-adiknya yang sudah berkomentar di media terkait sabda raja. Padahal diketahui, mereka tidak ikut saat dirinya mengucapkan sabda raja tersebut.

"Mereka diundang dua kali tidak hadir, bagaimana mereka tahu. Bagaiman saya mau menjelaskan dan bagaimana mereka tahu isi sabda raja, sementara isi sabda yang dimuat di media itu salah," lanjutnya.

Pernyataan adik-adiknya, kemudian menyebabkan banyaknya spekulasi terkait sabda raja dan berakibat semakin meluasnya tanggapan yang berbeda-beda di kalangan masyarakat.

"Adik-adik itu jangan hanya menggunakan ini [menunjuk kepala], tapi juga harus menggunakan ini [menunjuk dada]. Kalau baca menggunakan ini [menunjuk kepala], mesti kleru [salah], maka seharusnya menggunakan ini (kembali menunjuk dada)," imbuhnya.

Ia menjelaskan, dalam falsafah Jawa, membaca situasi tidak pernah menggukan pikiran tetapi menggunakan perasaan.

"Orang Jawa itu tidak pernah berbicara, mbok kita berpikir tetapi mbok kita menggalih," ucapnya lagi.

Di samping itu, ia mengaku sudah mengetahui sejak awal akan munculnya pro kontra di dalam internal kraton, dan masyarakat, usai diucapkannya sabda raja.

Sultan menambahkan, mulai besok, akan banyak masyarakat yang meminta klarifikasi terkait sabda raja yang telah ia keluarkan sebanyak dua kali. Yakni pada 30 April dan 5 Mei 2015 lalu. Dirinya tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Selain itu, ia berencana mengundang lagi adik-adiknya jika sabda raja sudah selesai dibahas.

Pihaknya enggak mengomentari terkait adanya pertemuan adik-adiknya untuk membahas masalah sabda raja. Dirinya akan menggelar jumpa pers terkait masalah ini.

"Bagi saya tidak masalah, pro kontra itu biasa. Tapi yang jelas, saya selama ini menghindari dengan pers, dengan harapan adik-adik saya tidak tahu, dan komentar mereka salah," paparnya.

Disinggung mengenai isu bahwa dirinya menggunakan jasa dukun atau seorang pembisik, ia dengan tegas membantahnya.

"Saya ini tidak punya dukun," sebutnya sambil tertawa.

Menurutnya, sejak dari dahulu dirinya selalu diminta oleh ayah handanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk datang ke makam leluhur, karena ayahnya lebih banyak di Jakarta.

"Saya sejak dahulu sejak swargi HB IX masih ada,  kami diminta karena beliau [HBIX] banyak di Jakarta. Saya bicara spritual sejak dari dahulu," ungkapnya dengan nada bicara santai.

Atas tudingan tersebut, ia meminta adik-adiknya untuk berpikir secara spiritual Jawa agar tidak menimbulkan pro kontra.