Warga Desa Ini Lestarikan Kenduri Malam Tujuh Likur..

Newswire
Newswire Sabtu, 01 Juni 2019 02:57 WIB
Warga Desa Ini Lestarikan Kenduri Malam Tujuh Likur..

Warga Batu Limau, Karimun, Kepulauan Riau, menyantap makanan berhidang saat kenduri malam tujuh likur atau malam ke-27 bulan puasa./Antara

Harianjogja.com, TANJUNGPINANG – Sejumlah rumah warga di Desa Batu Limau, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, menggelar acara kenduri menyambut malam tujuh likur atau malam ke-27 bulan puasa pada Jumat (31/5/2019) malam.

Menurut warga bernama Awang, kenduri malam tujuh likur ini merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar saat memasuki 10 hari terakhir Ramadan atau mulai malam ke-21.

Die enceritakan selama 10 malam terakhir itu, warga di kampungnya secara bergantian melaksanakan kenduri dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

Hajatan pada umumnya dilaksanakan selepas salat magrib, tetapi ada pula yang melakukannya usai salat Tarawih.

"Biasanya malam ke-27 itu puncaknya karena warga yang akan menggelar kenduri lebih banyak. Malam ini ada sekitar 10 rumah," kata Ibrahim, warga lainnya.

Awang menambahkan bahwa kenduri malam tujuh likur merupakan bentuk rasa gembira masyarakat karena sebentar lagi akan memasuki Idulfitri 1440 Hijriah. Di samping itu, juga sebagai wujud syukur atas rezeki yang diperoleh, serta menjalin silaturahmi antarwarga di desa tersebut.

"Dalam kenduri itu juga dibacakan pula doa yang terbaik untuk arwah keluarga dan sanak saudara dari yang punya hajat," kata Ibrahim.

Pada praktiknya, lanjut dia, kenduri tujuh likur dilengkapi bacaan-bacaan ayat suci Alquran dan doa.

Doa kenduri dipimpin langsung oleh pemimpin doa atau warga setempat menyebutnya "Pak Mudim".

Usai doa, pihak yang menggelar kenduri akan menjamu tamu yang hadir dengan jamuan hidangan berupa nasi dan lauk-pauk, kuih-muih, serta aneka minuman tawar maupun manis.

Makanan dihidang dalam sebuah wadah (nampan). Satu hidangan dapat disantap empat hingga lima orang dengan membentuk lingkaran.

Menurut Prof Zainal, tokoh setempat, orang semacam ini tidak risau kalaupun harus ditempatkan di neraka. Bahkan, orang-orang seperti ini umumnya merasa tidak layak menerima ganjaran surgawi lantaran rasa fakirnya di hadapan keagungan Allah SWT.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online