Pesta Miras di Permukiman Solo Digerebek, Empat Pria Ditangkap
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
Rapat membahas persiapan kereta menuju NYIA./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Pengalihan dua penerbangan internasional, yakni Jogja-Singapura dan Jogja-Kuala Lumpur, Malaysia seiring beroperasinya New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada April 2019 nanti menimbulkan konsekuensi yang harus diatasi. Persoalan terbesar adalah konektivitas dari Bandara Adisutjipto ke NYIA untuk penumpang connecting flight penerbangan domestik yang akan transit ke penerbangan internasional.
Direktur Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati mengatakan rencana pemisahan wilayah terbang masing-masing bandara di DIY ini bisa membingungkan pengguna jasa, khususnya mereka yang transit penerbangan internasional melalui salah satu bandara tersebut.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diminta memiliki mitigasi risiko untuk penumpang transit. Jika tidak, jadwal perjalanan penumpang akan berantakan, terlebih manakala terjadi penundaan penerbangan di bandara transit.
“Apalagi perjalanan dari Bandara Adisutjipto ke Kulonprogo membutuhkan waktu hingga lebih dari satu jam. Bisa runyam kalau terjadi penundaan penerbangan,” kata dia kepada Harian Jogja, Jumat (11/1/2019).
Arista Atmadjati mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan terkait untuk segera menyelesaikan pembangunan jalur kereta api baru ke arah Temon, Kulonprogo. Sebab dari berbagai pilihan moda transportasi, kereta api yang paling lancar dan cepat membawa penumpang dari Adisutjipto ke NYIA.
Kereta api bebas macet karena mempunyai lintasan sendiri yang berbeda dengan jalan raya. Hal ini penting karena rentang waktu untuk transit dari penerbangan domestik ke mancanegara (connecting flight) biasanya terbatas. Apalagi penumpang perlu check in maksimal 30 menit sebelum jam keberangkatan. Penumpang juga harus mempertimbangkan ada kemungkinan jadwal penerbangan sebelumnya tertunda (delay) karena beberapa alasan.
“Jangan sampai waktunya terbatas malah terjebak macet di jalan. Kalau menggunakan mobil atau bus tentu saja hal ini bisa terjadi. Kereta relatif lebih aman karena punya rel sendiri,” ujar dia.
Menurut dia, pembangunan jalur kereta sampai ke NYIA harus dikebut.
Arista menyatakan jadwal kereta antarbandara harus diatur dengan waktu yang cukup padat. Paling ideal setiap 30 menit sekali ada kereta yang berangkat. Sebab bukan tidak mungkin saat penerbangan makin banyak yang dialihkan ke NYIA, makin banyak pula penumpang yang lalu lalang dari bandara lama ke bandara baru.
Bus yang bakal menghubungkan dua bandara bisa menjadi opsi kedua. Bus bisa mengisi kekosongan jam antarkereta sehingga penumpang bisa berangkat menggunakan bus sesuai kebutuhan.
“Bus tidak bisa jadi opsi utama, ia hanya pelengkap. Tetapi jika memang kereta belum siap, bus harus siap dulu sambil menunggu jalur kereta ini bisa digunakan,” dia.
Harapan senada juga disampaikan oleh District Area Manager Lion Air Jogja Jateng, Widi Wiyanti. Dia mengakui bukan tidak mungkin Lion Air akan membuka rute internasional seperti yang telah dilakukan di Kertajati Majalengka - Madinah untuk keperluan umrah.
Maskapai berlambang kepala singa ini mengharapkan pemerintah segera merampungkan konektivitas Adisutjipto dan NYIA ini untuk memudahkan penumpang maupun operator.
“Kami sebagai operator bertanggung jawab mengembangkan rute dan menyediakan transportasi berupa pesawat, sedangkan kewenangan konektivitas antarbandara ini ada di pemerintah. Kami berharap jika bandara baru sudah digunakan, kami sebagai operator tidak dibebani urusan konektivitas,” kata dia.
Skema konektivitas antarbandara sebenarnya telah disiapkan oleh Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Rencananya, kereta api penghubung ini akan berhenti di stasiun Kedundang yang dekat dengan NYIA. Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Zulmafendi mengatakan Kemenhub saat ini tengah menyiapkan jalur kereta dari stasiun Kedundang untuk mendukung operasional NYIA. Jalur ini ditargetkan akan selesai tahun depan. Selama menunggu tahap pembangunan, akses dari Jogja ke NYIA akan menggunakan Stasiun Wojo untuk sementara waktu.
Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, sebelumnya juga menyatakan tengah menyelesaikan pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Kedundang menuju bandara. Perusahaan pelat merah ini optimistis jalur baru bisa selesai tahun depan karena akan dibangun landed, bukan melayang.
“Pengerjaannya relatif lebih mudah. Penyediaan kereta api pun tidak ada masalah. Nanti tersambung juga dengan Bandara Adi Semarmo, Solo,” ucap dia.
Namun, untuk jalur dari NYIA menuju Bandara Adi Soemarmo masih menunggu penyelesaian pembebasan lahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
Kasus kematian Naura di RSUD Prambanan disepakati selesai secara damai. Keluarga menerima penjelasan medis dan akan mencabut laporan ke Polda DIY.
Sebanyak 197 pemuda dari 17 kelurahan di Kota Magelang dibekali menjadi Local Champion untuk mengembangkan wisata, budaya, dan ekonomi kreatif.
Aston Villa menjalani latihan di GBK jelang menghadapi Indonesia All Stars. John McGinn, Alejandro Garnacho, dan Joao Gomes ikut berlatih.
Spanyol menutup perbatasan Beni Ansar di Melilla setelah gelombang migran meningkat. Pengamanan diperketat di Ceuta dan Melilla.
Orang tua korban Little Aresha Daycare meminta Presiden Prabowo mengawal penanganan kasus dan mendorong pengusutan pihak struktural.