Bahlil Siapkan Skema Dana Bioetanol, E10 Dimulai pada 2027
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Mantan Ketua MPR Amien Rais berjalan keluar seusai mendatangi Pansus Angket KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/7)./ANTARA-M Agung Rajasa
Harianjogja.com, JAKARTA- Politikus senior Amien Rais kembali meliontarkan pernyataan yang menyerang pemerintah.
Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menilai jargon revolusi mental yang digaungkan Presiden Jokowi tak mempunyai kejelasan dalam praktik.
Bahkan, Amien Rais menyebutkan rezim pemerintahan Jokowi malah menetaskan budaya baru, yakni budaya tipu-tipu atau lying culture.
Pada awal pemerintahan Jokowi, Amien mengakui revolusi mental adalah wacana baik. Sebab, ia teringat Presiden pertama RI Soekarno juga mengedepankan revolusi mental.
Namun, Amien kekinian menilai revolusi mental yang digaungkan Jokowi malah tidak jelas lantaran tidak memiliki dokumen otentik yang bisa menjelaskan detail konsep tersebut.
"Menurut saya revolusi mental Pak Jokowi itu memang tidak jelas, tidak ada dokumen otentik yang mengenai [itu], apa sih maksudnya?" kata Amien dalam acara peluncuran bukunya \'Hijrah, Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral\' di kawasan Jalan Daksa I, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2018).
Amien juga mengatakan, selama ini rezim Jokowi tidak terlihat memiliki kompas moral dalam memimpin negara. Padahal, kompas moral itu sangat diperlukan bagi seorang pemimpin.
Moral yang dimaksudnya ialah kemampuan seseorang bisa membedakan salah maupun benar. Kapasitas untuk itu, kata Amien, tak dimiliki Jokowi, sehingga kala melakukan kebohongan, tidak akan dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya.
"Sepertinya enteng kalau orang tidak punya kompas moral, berjanji sebanyak mungkin, itu enggak apa-apa. Kemudian bohong juga enggak apa-apa, karena enggak punya kompas moral, kemudian jadi permisif," ujarnya.
Karena itulah, Amien menilai rezim Jokowi malah melahirkan budaya baru, yakni budaya tipu-tipu.
"Jadi ini yang menyebabkan lantas di masyarakat bangsa kita ini muncul semacam a new culture, budaya tipu-tipu. Lying culture, budaya menipu," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
WhatsApp menghadirkan Meta Business Agent untuk bisnis Indonesia. Agen AI ini membantu melayani pelanggan 24 jam dan mempercepat respons hingga penjualan.
Jetty Muara Sungai Bogowonto di Kulonprogo rusak akibat gelombang tinggi. BBWSSO menyebut kerusakan sekitar 2 persen dan fungsi masih aman.
Ferran Torres dikabarkan pindah dari Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 48,5 juta euro. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
DPRD Kota Jogja meminta penyaluran bansos beras tak hanya terpaku DTSEN agar warga yang baru jatuh miskin tidak terlewat.