NYIA Sudah Kantongi Kode Bandara dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, Ini Perinciannya

Sri Sultan HB X (kiri) mendengarkan pemaparan progres pembangunan NYIA dalam peninjauan di lokasi bandara NYIA, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (8/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
11 Januari 2019 17:05 WIB Rheisnayu Cyntara News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Persiapan pengoperasian New Yogyakarta International Airport (NYIA) semakin matang. Kode lokasi aerodrome untuk NYIA juga sudah dikeluarkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO).

PT Angkasa Pura (AP) I sudah mengajukan kode empat huruf (four letter code) serta kode tiga huruf (three letter code). Kode empat huruf akan ditentukan oleh ICAO, sedangkan kode tiga huruf ditentukan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA). Kantor pusat dua organisasi aviasi sipil global itu itu berada di Montreal, Kanada.

Kode empat huruf menunjukkan lokasi aerodrome atau indikator lokasi bandara yang dibuat ICAO dan dipakai oleh pengendali lalu lintas udara (air traffic control) dan maskapai saat mengisi formulir rencana penerbangan.

General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional Adisutjipto, Agus Pandu Purnama mengatakan kode empat huruf untuk NYIA telah diterbitkan ICAO pada 7 Maret 20108. NYIA memiliki kode  WAHI.

Sementara, kode ICAO untuk Bandara Adisutjipto adalah WARJ yang sudah diganti menjadi WAHH.

Kode tiga huruf ditentukan oleh IATA untuk menunjukkan letak bandara-bandara di dunia. Kode tiga huruf akan dipublikasikan sebagai airport information publication (AIP) atau publikasi secara internasional. Kode ini digunakan untuk rute penerbangan atau kelengkapan lainnya seperti yang akan tertera pada tiket.

Berbeda dengan kode ICAO yang sudah dikantongi NYIA, kode IATA belum dirilis. Pandu mengatakan Airnav, perusahaan pelayanan navigasi penerbangan Indonesia, sudah memilih tiga kode untuk NYIA, yakni YIA, KPO, dan YKP.

“KPO berarti Kulonprogo, YIA berarti Yogyakarta Intenational Airport, dan YKP berarti Yogyakarta Kulonprogo. Tiga pilihan kode IATA itu sudah diajukan dan sekarang masih diproses oleh Garuda Indonesia selaku perwakilan IATA di Indonesia,” kata dia kepada Harian Jogja, Kamis (10/1/2019).

Tiga pilihan kode IATA yang diajukan Airnav ini, menurut Pandu, sesuai dengan aturan yang berlaku secara internasional. Belum ada satu pun bandara di dunia yang memakai kode-kode tersebut sehingga tidak akan ada kerancuan data yang terjadi.

Pandu mengatakan nama NYIA tidak akan memengaruhi kode bandara.  “NYIA akan dipublikasikan sebagai nama bandara bukan kode bandara.”

Nama bandara akan ditentukan oleh pemerintah daerah.

Saat meninjau perkembangan pembangunan bandara baru di Kulonprogo, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan bandara ini kelak tetap bernama NYIA.

NYIA awalnya adalah nama proyek pembangunan bandara baru. Namun, Sultan menganggap nama ini sudah baik daripada memunculkan opsi nama lain yang malah bisa memicu polemik.

AP I mengharapkan Pemda DIY segera mengusulkan nama NYIA secara tertulis dan resmi kepada AP I untuk diajukan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sehingga bisa segera ditetapkan.

“Kalau kemarin baru sebatas statement saja belum resmi secara tertulis. Kami harap baik kode bandara maupun nama bandara bisa klir akhir Januari mendatang. Kami juga akan melaporkan teknis bandara seperti berapa luas dan panjang lintasan ke Kemenhub untuk dicatat sebagai data resmi,” kata dia.

Setuju NYIA

AP I sepenuhnya menyetujui NYIA sebagai nama bandara baru di Kulonprogo karena penamaan menjadi wewenang pemda. Pandu mengatakan tidak ada kriteria khusus yang mengatur ihwal penamaan.

Namun, hampir 90% bandara di Indonesia diberi nama pahlawan daerah setempat. “NYIA adalah nama proyek yang disematkan untuk bandara baru ini. Tetapi jika akan digunakan untuk nama, tidak masalah. Memang sebenarnya ada pertimbangan lain yang diajukan pemerintah daerah seperti Nyi Ageng Serang tapi dengan pertimbangan pro kontra yang mungkin akan terjadi, NYIA yang dipilih,” dia.

Pandu menuturkan tidak ada aturan yang menentukan penggunaan nama bandara. Setiap negara boleh menentukan nama bandaranya masing-masing. Boleh berupa nama kota ataupun nama khusus seperti nama pahlawan nasional. Pandu memberi contoh nama kota yang disematkan pada bandara di Indonesia seperti Lombok International Airport atau beberapa bandara di Amerika Serikat.

Sementara, NYIA dipilih karena coraknya yang universal. Nama NYIA akan mudah diingat baik oleh masyarakat lokal ataupun orang asing yang bepergian melalui bandara baru tersebut.

Adapun nama pahlawan berpotensi menyulitkan wisatawan mancanegara untuk mengingatnya. Pandu mencontohkan internasional di Mumbai, India, yang dinamai Chhatrapati Shivaji Maharaj, raja yang memerintah India  dari 1674 hingga 1680.

“Sampai sekarang saya kesusahan untuk mengingat nama pahlawan Indianya yang panjang sekali. Jika diganti menjadi Mumbai Airport saya rasa akan lebih mudah, begitu pula dengan NYIA. Lagipula ada unsur nama Yogyakarta, ini akan memudahkan orang asing,” ucapnya.