Prabowo Sebut Impor BBM RI Capai Rp535 Triliun per Tahun

Akbar Evandio
Akbar Evandio Kamis, 13 Agustus 2026 23:17 WIB
Prabowo Sebut Impor BBM RI Capai Rp535 Triliun per Tahun

Petugas SPBU hendak melayani pembelian Pertamax Green 95. - Antara

Harianjogja.com, CIKARANG—Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia masih mengeluarkan dana hingga US$28 miliar-US$30 miliar atau sekitar Rp535 triliun per tahun untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah berupaya menekan ketergantungan energi dari luar negeri dengan mempercepat elektrifikasi transportasi, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), serta pemanfaatan sumber energi domestik.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat meluncurkan Motor Listrik Nasional beserta ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Menurutnya, penggunaan energi listrik pada berbagai kendaraan dan peralatan dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus mengurangi devisa yang keluar untuk membeli BBM dari luar negeri.

"Jadi saudara-saudara, dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik, dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama, kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera," kata Prabowo dalam pidatonya.

Impor BBM Tembus US$30 Miliar

Prabowo mengatakan kebutuhan impor BBM masih menjadi salah satu sumber pengeluaran devisa dalam jumlah besar. Dia memperkirakan nilai impor BBM Indonesia berada di kisaran US$28 miliar-US$30 miliar setiap tahun.

"Kita mengirim uang US Dollar untuk BBM kita melebihi kadang-kadang US$30 miliar. Antara US$28 miliar sampai US$30 miliar—bener Menteri ESDM? Tiap tahun, US$30 miliar," ujarnya.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi alasan pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri. Prabowo menegaskan pemerintah telah bertekad untuk menekan pengeluaran tersebut melalui berbagai kebijakan energi.

"Kita bertekad ini kita kurangi," tegasnya.

Elektrifikasi menjadi salah satu strategi yang didorong pemerintah. Tidak hanya kendaraan penumpang, penggunaan energi listrik juga diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari motor, mobil, bus hingga traktor.

B50 Jadi Upaya Kurangi Impor Diesel

Selain kendaraan listrik, Prabowo menyinggung implementasi program biodiesel B50. Program tersebut menggunakan campuran minyak sawit dan disebut menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

"Dengan Solar sekarang B50 kita sudah mengurangi, bahkan harusnya kita tidak impor lagi diesel dari luar," kata Prabowo.

Meski demikian, Prabowo mengakui Indonesia masih bergantung pada beberapa sumber energi dari luar negeri. Pemerintah pun tengah menyiapkan langkah lain untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Salah satu rencana yang disampaikan ialah pengalihan penggunaan LPG ke compressed natural gas (CNG).

"Kita akan segera ganti LPG menjadi CNG," katanya.

Target Bangun PLTS 100 GW

Upaya memperkuat kemandirian energi juga diarahkan pada pengembangan energi terbarukan. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW).

"Kita juga akan membangun listrik dari tenaga surya sebesar 100 Gigawatt," ujar Prabowo.

Target pembangunan kapasitas PLTS tersebut ditetapkan untuk diselesaikan dalam empat tahun. Bahkan, pemerintah memasang target pembangunan yang agresif pada tahun pertama.

"Dan ini harus kita laksanakan dalam 4 tahun, tapi tahun ini saja target kita adalah 30 Gigawatt tahun ini," katanya.

Prabowo juga meminta PT PLN (Persero) mempercepat pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel. Menurutnya, terdapat sekitar 13 GW kapasitas pembangkit diesel yang harus segera ditinggalkan dan digantikan dengan sumber energi yang sesuai dengan arah transisi energi nasional.

"PLN harus tinggalkan pembangkit listrik dari diesel, kurang lebih 13 Gigawatt harus segera kita tinggalkan," ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki sumber energi yang beragam dan berpotensi untuk terus dikembangkan. Karena itu, transisi energi tidak hanya bergantung pada satu jenis teknologi.

"Dan sumber-sumber energi lainnya ternyata sungguh sangat banyak, sungguh sangat banyak," katanya.

Prabowo Ungkap Temuan Hidrogen Alam

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengungkapkan perkembangan penelitian sumber energi baru di Indonesia. Dia mengatakan para ilmuwan dan peneliti Indonesia terus menemukan potensi energi yang dinilai menjanjikan.

Salah satu temuan yang disebut Prabowo ialah cadangan hidrogen alam dalam jumlah besar. Temuan tersebut menjadi bagian dari potensi energi yang menurutnya masih perlu terus diteliti dan dikembangkan.

"Dari minggu ke minggu para ilmuwan kita, para peneliti kita menemukan hasil-hasil luar biasa. Cadangan hidrogen, hidrogen alam, sangat besar," ujar Prabowo.

Prabowo mengatakan masih terdapat berbagai potensi sumber energi lain yang perlu dikembangkan. Menurutnya, kemampuan riset dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting agar potensi sumber daya tersebut dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi.

Dia pun optimistis Indonesia dapat mencapai tingkat kemandirian energi dalam beberapa tahun mendatang. Prabowo memperkirakan waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama untuk mendorong Indonesia benar-benar bangkit dalam sektor energi.

"Cadangan-cadangan lain saudara-saudara, kita butuh saya kira tidak terlalu lama 3, 4, 5 tahun kita akan bangkit bener-bener. Sekarang kita sudah mulai bangkit," tandas Prabowo.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri melalui elektrifikasi, biodiesel B50, pengembangan PLTS, pengurangan pembangkit diesel, serta eksplorasi sumber energi baru. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online