Indeks Kebahagiaan Dunia Turun ke Level Terendah

Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho Rabu, 12 September 2018 14:10 WIB
Indeks Kebahagiaan Dunia Turun ke Level Terendah

Ilustrasi stres/Reuters

Harianjogja.com, JAKARTA--Tingkat kebahagiaan di dunia berada pada tingkat terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir, seiring meningkatnya jumlah orang yang mengatakan mereka merasa stres dan khawatir, menurut survei yang dipublikasikan pada Rabu (12/9/2018).

Dilansir Reuters, lembaga survei Gallup mencatat Republik Afrika Tengah (CAR) yang tengah dilanda konflik menjadi tempat terburuk di dunia tahun lalu, dengan Irak di tempat kedua.
"Secara kolektif, dunia lebih tertekan, khawatir, sedih, dan kesakitan hari ini daripada yang pernah kami saksikan sebelumnya," ucap Mohamed Younis, redaktur pelaksana Gallup, dalam kata pengantar untuk studi tersebut, seperti dikutip Reuters.

Gallup melakukan survei kepada lebih dari 154.000 orang di 146 negara mengenai apakah mereka merasakan sakit, khawatir, stres, marah atau sedih. Dikatakan, suasana global sedang suram sejak survei pertama pada 2006.

Wilayah Afrika Sub-Sahara memimpin, dengan 24 dari 35 negara yang disurvei mencapai posisi terendah dalam 10 tahun pada 2017, yang didominasi kerusuhan masyarakat yang melumpuhkan sistem perawatan kesehatan dan menyebabkan orang-orang kelaparan.

"Di CAR dan beberapa negara lain, persentase penduduk yang hanya berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar cukup tinggi," kata penulis utama studi tersebut, Julie Ray.
CAR telah dirusak oleh kekerasan, dengan sebagian besar negara sekarang berada di luar kendali pemerintah, dan sekitar tiga dari empat penduduk mengatakan mereka mengalami rasa sakit dan khawatir.

Negara-negara kaya pun tidak kebal terhadap penurunan indeks kebahagiaan. Sekitar setengah warga AS yang diwawancarai mengatakan mereka tertekan.

Ekonom Jan-Emmanuel De Neve mengatakan melihat suasana global yang memburuk dengan latar belakang meningkatnya kekayaan dan kemajuan material terlihat cukup mengganggu.

"Mungkin ada indikator yang lebih struktural di sekitar peningkatan kekayaan yang tidak cukup inklusif," kata De Neve, seorang profesor di Universitas Oxford yang menulis tentang hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online