Kisah Timbul Sopir Becak Jadi Korban Carut Marut Data BPS, Desil 1 Berubah Jadi 9
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Suasana bedah buku berjudul “Sastra dan Politik” serta “Ballada Arakian” di Auditorium Pusat Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Indonesia USD, Jumat (6/11/2015). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)
Kampus Jogja, USD meluncurkan buku baru.
Harianjogja.com, SLEMAN – Tragedi Gerakan 30 september 1965 membuat dosen Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD), Yoseph Yapi Taum fokus meneliti peristiwa pembantaian jutaan orang. Ketertarikannya ini dibukukannya. Dia menulis dua buku bersamaan untuk menggambarkan peristiwa berdarah itu. Dua buku itu berjudul “Sastra dan Politik” serta “Ballada Arakian”.
“Tragedi 1965 memang selalu mengusik saya. Saya berbeda pikiran dengan partai komunis, namun saya sesalkan jutaan nyawa melayang tanpa ada proses pengadilan. Sementara alim ulama, budayawan dan banyak yang lainnya seakan tidak bisa berbicara waktu itu,” kata Taum saat bedah buku berjudul “Sastra dan Politik” serta “Ballada Arakian” di Auditorium Pusat Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Indonesia, USD, Jumat (6/11/2015).
Taum mengaku sejarah akan berulang, untuk itu tugasnya sebagai akademisi untuk terus mengingatkan lewat penelitiannya. Ingatan yang bergulir ini diharapkan tidak ada lagi kejadian yang serupa.
Taum mengaku dua buku yang diterbitkan bersamaan ini seperti anak kembar. Sebab proses penulisannya bersamaan. Keduanya memang saling melengkapi.
“Buku ‘Sastra dan Politik’ itu adalah disertasi saja dan bicara soal tinjauan akademis. Sedangkan di sela-sela menuliskan disertasi ini saya juga menulis puisi, jadinya buku ‘Ballada Arakian’. Buku pertama memang ingin membuktikan keyakinan saya dan kumpulan puisi ini sebagai olah rasa,” kata Taum.
Pembedah buku, Wiyatmi mengatakan bahwa keseriusan Taum akan tragedi 1965 ini seakan ingin meluruskan sejarah Indonesia. Dia berhasil mencatat, memaknai dan mensyukuri catatan jejak tragedi 1965 tersebut.
“Jika Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa di kala jurmalisme bungkam sastralah yang bicara. Yoseph Yapi Taum mungkin akan mengatakan bahwa di kala sejarah bengkok, maka sastralah yang meluruskan,” kata Wiyatni.
Wiyatni mengatakan buku “Ballada Araika” yang diterbitkan Lamalera ini ada dua kelompok kisah, yakni bertutur dan membela orang-orang. Rekaman sejarah penulis juga tergambarkan dengan jelas di sini.
“Buku kumpulan puisi ini sebenarnya terdiri dari tiga buku namun temanya menuju pada satu, yakni tragedi 1965. Cukup menarik dan menjadi bahan untuk merefleksikan sejarah Indonesia saat orde baru,” kata Wiyatni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
BPJS Ketenagakerjaan menargetkan kepesertaan pekerja informal mencapai 20% pada 2026 melalui strategi 3R dan penguatan literasi jaminan sosial.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya, berdasarkan data resmi KAI Access.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 29 Agustus 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 29 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Tujuh tim dance terbaik siap bertarung di Grand Final Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 di Prambanan, Jogja, 30 Agustus.