Bulog Bidik Pengadaan 1 Juta Ton Jagung Sepanjang 2026

Newswire
Newswire Minggu, 01 November 2026 16:47 WIB
Bulog Bidik Pengadaan 1 Juta Ton Jagung Sepanjang 2026

Panen jagung di Celep, Srigading. - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin

Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog menargetkan pengadaan 1 juta ton jagung sepanjang 2026. Untuk mencapai sasaran tersebut, Bulog mengoptimalkan jaringan pergudangan dan fasilitas pengeringan guna menyerap peningkatan produksi nasional sekaligus menjaga kepastian pasar bagi petani.

Direktur Pemasaran Perum Bulog Rahmanto Amin Jatmiko mengatakan pengadaan jagung terus dilakukan melalui kerja sama dengan petani, kelompok tani, mitra pengolahan, serta berbagai pihak terkait.

“Pada prinsipnya, Bulog mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat swasembada jagung melalui dua peran yang saling melengkapi, yaitu menjaga kepastian pasar dan harga bagi petani, sekaligus mendukung ketersediaan jagung pakan dengan harga terjangkau bagi peternak,” kata Rahmanto kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (1/11/2026).

Menurut Rahmanto, optimalisasi jaringan pergudangan dan fasilitas pengeringan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas penyerapan serta menjaga kualitas jagung. Bulog juga menjalin kerja sama dengan mitra untuk mengantisipasi peningkatan produksi nasional.

Bulog Beli Jagung Rp5.500 per Kilogram

Dalam proses pengadaan, Bulog mengacu pada ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Harga pembelian jagung pipilan kering dengan kadar air 18%–20% di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram.

Setiap jagung yang diterima Bulog akan menjalani pemeriksaan kuantitas dan kualitas, termasuk pengukuran kadar air. Komoditas tersebut kemudian ditangani agar memenuhi standar penyimpanan pemerintah, yakni kadar air maksimal 14% dan kandungan aflatoksin maksimal 50 ppb.

Rahmanto mengatakan pembayaran kepada pemasok dilakukan berdasarkan hasil penerimaan yang telah diverifikasi sesuai prosedur pengadaan.

Di sisi lain, Bulog mengoptimalkan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung untuk mendukung kebutuhan peternak. Penyaluran tersebut mengacu pada data penerima sasaran, alokasi, serta harga yang ditetapkan Bapanas melalui petunjuk teknis.

Distribusi Jagung Disesuaikan Kebutuhan Peternak

Untuk menekan biaya logistik, Bulog mengatur penempatan stok dan distribusi ant wilayah dengan mempertimbangkan kebutuhan aktual, ketersediaan pasokan, serta efisiensi pengiriman.

Wilayah dan peternak yang paling membutuhkan menjadi prioritas dalam penyaluran. Bulog juga mendorong percepatan distribusi jagung kepada peternak maupun melalui koperasi yang ditetapkan dalam petunjuk teknis Bapanas.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan waktu penyimpanan sehingga biaya penyimpanan dan distribusi lebih terkendali.

“Biaya pengeringan, penyimpanan, penanganan, dan distribusi dikelola secara efisien sesuai karakteristik komoditas dan kondisi wilayah," ujarnya.

Dia menegaskan harga penyaluran SPHP jagung tetap mengacu pada ketentuan Bapanas. Dengan demikian, harga yang dibebankan kepada peternak tidak ditentukan berdasarkan pembebanan langsung seluruh biaya operasional Bulog.

Lebih lanjut, Rahmanto mengatakan keberhasilan program penguatan jagung nasional tidak hanya diukur dari besarnya volume pengadaan. Bulog juga memperhatikan penyerapan hasil produksi petani dengan harga sesuai kebijakan pemerintah serta akses peternak terhadap jagung pakan yang cukup dan terjangkau.

Pengelolaan cadangan jagung pemerintah juga diharapkan dapat mendukung stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

“Bulog berupaya memastikan peningkatan produksi jagung nasional memberikan manfaat nyata bagi seluruh ekosistem, bukan hanya dari besarnya volume yang diserap, tetapi juga dari terjaganya harga petani, keterjangkauan pakan bagi peternak, serta efisiensi pengelolaan cadangan pangan pemerintah,” tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online