Abidin Fikri Sebut Pemuda Terdampak Problem Bangsa, Bukan Biang Masalah

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Sabtu, 24 Oktober 2026 17:17 WIB
Abidin Fikri Sebut Pemuda Terdampak Problem Bangsa, Bukan Biang Masalah

Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertema “Pemuda di Tengah Problem Kebangsaan” yang bekerja sama dengan komunitas Sastra Bulan Purnama di SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada (CBH) Jogja, Sabtu (24/10/2026).

Harianjogja.com, JOGJA — Generasi muda kerap menjadi sorotan ketika muncul berbagai persoalan sosial dan kebangsaan. Namun, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abidin Fikri, mengingatkan bahwa pemuda justru menjadi kelompok yang ikut menanggung dampak dari berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Menurut Abidin, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak bisa dilepaskan dari kondisi negara dan kesiapan para pemimpin dalam menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, pembahasan mengenai pemuda seharusnya tidak berhenti pada tuntutan, pidato, atau narasi kebangsaan, tetapi diwujudkan melalui persiapan yang konkret.

Hal tersebut disampaikan Abidin dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertema “Pemuda di Tengah Problem Kebangsaan” yang bekerja sama dengan komunitas Sastra Bulan Purnama di SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada (CBH) Jogja, Sabtu (24/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Abidin juga menyoroti krisis figur teladan yang dinilainya menjadi tantangan bagi generasi muda saat ini. Ia mengingatkan bahwa orang tua, pemimpin, guru, aparat penegak hukum, hingga politisi memiliki tanggung jawab memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.

“Anak-anak muda kita sekarang krisis teladan. Sudah semestinya kita sebagai orang tua, para pemimpin, guru, aparat penegak hukum hingga politisi mampu memberi teladan yang baik, bukan sekadar menuntut,” kata Abidin.

Pemuda Hadapi Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045

Abidin menilai isu kepemudaan semakin penting jika dikaitkan dengan bonus demografi dan cita-cita Indonesia pada 2045. Besarnya jumlah penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan pendidikan, keterampilan, karakter, serta kesempatan untuk berkembang.

Ia mengingatkan bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya akan menghadapi persaingan di dalam negeri. Mereka juga harus bersiap menghadapi kompetisi dengan generasi muda dari berbagai negara.

“Karena bangsanya yang punya problem, jadi pemudanya terdampak. Saya kira kita semua musti sadar, di tangan pemuda lah bangsa ini ke depan dipertaruhkan. Jadi kalau kita sampai gagal menyiapkan generasi muda, jangan salahkan mereka kalau ke depan akan dikuasai asing. Sebab ke depan generasi muda kita tidak hanya bersaing dengan sesama, tapi juga berkompetisi dengan generasi muda dari seluruh penjuru dunia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menempatkan pengembangan generasi muda sebagai tanggung jawab bersama. Persoalan kebangsaan, menurut pandangan yang disampaikan dalam forum itu, perlu dihadapi dengan pembenahan nyata, bukan sekadar membebankan harapan kepada anak muda.

Sejarah Membuktikan Pemuda Punya Peran Penting

Tokoh pemuda sekaligus mantan aktivis, M. Thoriq, mengajak peserta melihat kembali peran generasi muda dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ia menyebut perjuangan kemerdekaan melibatkan anak-anak muda yang berani mengambil peran pada zamannya.

“Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan di usia 40-an. Bahkan Adam Malik mendirikan Kantor Berita ANTARA di usia 19 tahun—seumuran adik-adik SMK di sini. Perintis kemerdekaan kita rata-rata berusia 20 sampai 30 tahun,” kata Thoriq.

Ia mendorong para siswa agar tidak bersikap apatis ketika kelak memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurutnya, generasi muda tetap memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memikirkan persoalan bangsa.

“Ketika jadi mahasiswa, Anda punya tanggung jawab moral untuk ikut memikirkan dan memperbaiki berbagai kebobrokan pengelolaan negeri,” ujarnya.

Pesan tersebut mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam kehidupan sosial. Mereka diharapkan berani mengembangkan pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan berkontribusi sesuai bidang masing-masing.

Krisis Identitas di Tengah Disrupsi Digital

Sementara itu, Guru Besar Universitas Sanata Dharma, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, menyoroti tantangan kebudayaan yang dihadapi anak muda di tengah perkembangan teknologi digital. Menurutnya, derasnya arus informasi membawa risiko disinformasi, hoaks, fanatisme digital, serta krisis identitas.

Ia juga mengingatkan bahwa pencitraan di media sosial dapat membuat seseorang lebih mementingkan tampilan daripada kenyataan.

“Problem pemuda sekarang berbeda. Ada krisis kebudayaan di mana personal branding atau pencitraan dianggap jauh lebih penting daripada kenyataan. Misal di media sosial, tampil seolah pasangan harmonis, padahal kenyataannya tidak,” ujar Yapi.

Karena itu, ia mengajak generasi muda menjaga hubungan dengan kebudayaan dan memperlakukan sesama manusia serta alam secara bermartabat. Kemajuan teknologi, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diimbangi kesadaran identitas dan tanggung jawab sosial.

“Pemuda bukan sekadar pewaris kebudayaan. Kalian adalah arsitek sejarah Indonesia di masa depan yang sanggup mengubah arah bangsa ini menjadi jauh lebih baik,” katanya.

Sosialisasi Empat Pilar Diikuti 200 Peserta

Ketua penyelenggara, Sonia Prabowo, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan bertepatan dengan Bulan Pemuda. Forum itu bertujuan menghidupkan kembali semangat perjuangan generasi muda pada masa sebelum kemerdekaan serta nilai persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda 1928.

Menurut Sonia, kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari siswa-siswi SMK serta aktivis sastra dari Jogja dan sekitarnya.

Sebagai tindak lanjut, gagasan dan semangat kemanusiaan yang dibahas dalam pertemuan itu direncanakan dituangkan dalam sebuah buku puisi yang ditargetkan terbit pada 2027.

“Acara ini dihadiri 200 peserta dari siswa-siswi SMK serta para aktivis Sastra Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagai wujud konkretnya, output dari pertemuan ini akan diterbitkan dalam bentuk buku puisi bertema Kemanusiaan yang dirancang meluncur pada 2027 mendatang,” jelas Sonia.

Melalui forum tersebut, para pembicara menggarisbawahi bahwa masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mereka menghadapi perubahan zaman. Keteladanan dari orang dewasa, ruang untuk berpartisipasi, serta keseriusan menyiapkan pendidikan dan karakter juga menjadi bagian penting dalam membangun masa depan bangsa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online