BGN Tanggapi Kritik Siswa Cuci Ompreng di Program MBG, Bandingkan dengan China

Newswire
Newswire Rabu, 21 Oktober 2026 06:37 WIB
BGN Tanggapi Kritik Siswa Cuci Ompreng di Program MBG, Bandingkan dengan China

Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA/Anita Permata Dewi\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Gizi Nasional (BGN) menguji coba konsep prasmanan dalam penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG). Skema ini memungkinkan siswa terlibat dalam kegiatan penyajian makanan sebagai bagian dari edukasi, tetapi membutuhkan penyesuaian dan kesiapan sekolah.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan penerapan konsep tersebut membuat penyelenggara dapur dan pihak sekolah perlu menyiapkan tenaga serta melakukan penyesuaian dalam pelaksanaannya.

Uji coba atau piloting dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja dan kendala yang muncul di lapangan. Hasilnya juga menjadi bahan evaluasi sebelum metode prasmanan diterapkan lebih luas.

"Makanya kan namanya piloting kan kita lihat kita lihat kan kerepotannya di sebelah mana, terus butuh tenaga kerja berapa orang, sehingga kita betul-betul, sudah ada sih beberapa tadi sudah di disampaikan kepada saya hasil piloting-nya beberapa kajian-kajiannya, misalnya tambahan berarti harus ada edukasi terhadap sekolah yang lebih gitu," kata Sudaryono kepada awak media di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).

BGN Sebut Pelibatan Siswa Bagian dari Edukasi

Sudaryono menyebut pelibatan siswa dalam pelaksanaan MBG prasmanan tidak menutup kemungkinan dilakukan. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan kesiapan sekolah dan kebutuhan edukasi kepada peserta didik.

Ia menanggapi perbincangan di media sosial mengenai keterlibatan anak-anak dalam kegiatan pendukung program MBG. Menurutnya, praktik tersebut juga ditemukan di negara lain, termasuk China.

"Misalnya kan sekarang kan di medsos ramai, 'Wah ini kok anak-anak dilibatkan?' Ya, memang begitu bagian dari edukasi kita. Kalau kita lihat di banyak negara begitu. Bahkan kalau kita lihat di medsos juga, orang kagum sama MBG di China di mana anaknya nyuci ompreng. Sementara di sini dihujat kok nyuci ompreng, kan gitu," sambung dia.

Menurut Sudaryono, konsep prasmanan merupakan salah satu bentuk inovasi dalam pelaksanaan program MBG. BGN mengacu pada praktik yang telah diterapkan di sejumlah negara, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan di Indonesia.

BGN Targetkan hingga 5.000 Dapur Terapkan MBG Prasmanan

BGN menargetkan sebanyak 1.000 hingga 5.000 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat menerapkan metode prasmanan dalam program MBG hingga akhir 2026.

Target tersebut ditetapkan setelah pelaksanaan uji coba selama dua minggu. Saat ini, metode MBG prasmanan telah diterapkan oleh 62 SPPG di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Merauke, Pulau Madura, Jawa, hingga Riau.

"Kalau tidak terjadi masalah yang begitu signifikan, kami rencananya sampai dengan akhir tahun menargetkan paling tidak minimal 1.000 sampai dengan 5.000 dapur sudah bisa melaksanakan MBG dengan cara prasmanan,” kata Sudaryono dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (14/10/2026).

Metode Prasmanan Dinilai Bisa Meningkatkan Konsumsi Makanan

Menurut Sudaryono, metode prasmanan memiliki sejumlah keunggulan, terutama berkaitan dengan tingkat konsumsi makanan oleh peserta didik.

Melalui sistem ini, siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan masing-masing. Mereka juga dapat menambah porsi apabila makanan masih tersedia.

Meski demikian, pelaksanaan metode prasmanan membutuhkan evaluasi selama masa uji coba. BGN menggunakan tahap tersebut untuk melihat kebutuhan tenaga kerja, mengidentifikasi kendala, dan menentukan edukasi tambahan yang diperlukan sekolah sebelum penerapan diperluas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online