Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal, Status Waspada

Newswire
Newswire Minggu, 11 Oktober 2026 11:07 WIB
Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal, Status Waspada

Gunung Lokon berstatus Level II Waspada dengan 277 gempa vulkanik dangkal pada 16–30 September 2026. Masyarakat dilarang mendekati kawah dalam radius 1,5 kilometer. /Antara.

Harianjogja.com, MANADO—Aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara didominasi gempa vulkanik dangkal selama periode evaluasi 16–30 September 2026. Meski demikian, hasil pengamatan visual dan seismik belum menunjukkan peningkatan aktivitas gunung api tersebut.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan hasil evaluasi menunjukkan tingkat aktivitas Gunung Lokon masih berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati kawah Tompaluan dalam radius 1,5 kilometer.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan hasil pengamatan instrumental tersebut dalam laporan yang dibagikan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lokon, Armando Manguleh, melalui grup percakapan BMKG dan pemangku kepentingan di Manado, Sabtu.

"Berdasarkan pengamatan instrumental, terekam sebanyak 110 kali gempa embusan, dua kali gempa tornillo, 277 kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa tektonik lokal, dan 43 kali gempa tektonik jauh," sebut Lana Saria dalam laporan tersebut.

Gunung Lokon Terekam Ratusan Gempa Vulkanik Dangkal

Selama periode 16–30 September 2026, aktivitas kegempaan Gunung Lokon didominasi gempa vulkanik dangkal atau VB. Sementara itu, gempa vulkanik dalam atau VA relatif jarang terekam.

Berdasarkan pengamatan visual, asap berwarna putih tipis terlihat keluar dari kawah dengan ketinggian maksimum sekitar 150 meter di atas kawah.

Data Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan pola energi yang meningkat sejak 24 Agustus hingga 30 September 2026. Kenaikan tersebut berasal dari aktivitas gempa permukaan.

Sementara itu, data Global Positioning System (GPS) yang terpasang menunjukkan deformasi dengan pola inflasi berkecepatan rendah sejak Juni 2025 hingga Januari 2026.

Pada periode 1 Januari hingga 30 September 2026, deformasi tidak mengalami perubahan berarti dan polanya masih mendatar.

Berdasarkan evaluasi data visual dan seismik, aktivitas vulkanik Gunung Lokon belum menunjukkan peningkatan.

Ancaman Gas Beracun hingga Erupsi Freatik

Meski aktivitasnya belum menunjukkan peningkatan, Gunung Lokon masih memiliki sejumlah potensi ancaman. Bahaya yang perlu diwaspadai antara lain kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah sewaktu-waktu serta erupsi freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

Masyarakat yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diminta mewaspadai potensi lahar. Ancaman tersebut terutama perlu diperhatikan saat musim hujan atau ketika terjadi hujan deras dengan durasi panjang.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 30 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon tetap berada pada Level II atau Waspada. Rekomendasi keselamatan disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.

Pengunjung Dilarang Mendekati Kawah Tompaluan

Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas atau mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Apabila terjadi letusan yang disertai hujan abu, masyarakat diimbau tetap berada di dalam rumah. Jika harus berada di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan pelindung hidung dan mulut berupa masker serta pelindung mata.

Kewaspadaan juga diperlukan terhadap potensi gas beracun dan lahar, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung serta aliran sungai yang berhulu dari puncaknya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online