Dua Pimpinan OPM Tewas dalam Kontak Senjata di Maybrat

Newswire
Newswire Minggu, 04 Oktober 2026 20:07 WIB
Dua Pimpinan OPM Tewas dalam Kontak Senjata di Maybrat

Foto ilustrasi senapan angin dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, MAYBRAT—Panglima Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto mengatakan dua pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) tewas dalam kontak senjata dengan aparat TNI di Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Kedua orang yang disebut tewas tersebut yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon TPNPB-OPM Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY. Keterangan tersebut disampaikan Lucky dalam keterangan yang diterima di Timika, Minggu. (Antara News)

Menurut Lucky, kontak senjata terjadi pada Sabtu (3/10) malam di kawasan hutan di bagian utara Distrik Aifat. Pasukan gabungan Denkul IV Satgas Rajawali V Koops Habema dan Satgas Yonif Marinir yang diperkuat Yonif 764-I B di bawah kendali Kogabwilhan III terlibat kontak senjata dengan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya pimpinan Manfret Fatem.

TNI Sebut Kontak Senjata Berawal dari Pantauan BIN

Lucky mengatakan keberadaan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya pimpinan Manfret Fatem diketahui berdasarkan hasil pantauan BIN. Kelompok tersebut disebut terpantau bergerak ketika hendak masuk ke pemukiman warga di Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat.

"Keberadaan Kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Pimpinan Manfret Fatem, diketahui dari hasil pantauan BIN, yang menemukan pergerakan mereka saat hendak masuk ke dalam pemukiman warga Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat," ujarnya.

Sebelum kontak senjata berlangsung, pasukan TNI disebut terlebih dahulu melakukan upaya persuasif dengan meminta kelompok tersebut menyerah dan meletakkan senjata. Menurut Lucky, imbauan itu kemudian dijawab dengan tembakan peluru tajam secara membabi buta ke arah pasukan Satgas TNI.

Ia menegaskan bahwa Manfret Fatem-lah yang pertama kali menghujani pasukan TNI dengan peluru tajam, lalu diikuti oleh seluruh anggota TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya.

"Seluruh pasukan kami selamat, sementara duo pentolan yang menjadi kaki tangan Manfret Fatem, yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY tewas dalam kontak senjata tersebut," ujarnya.

Manfret Fatem Disebut Melarikan Diri

Lucky mengatakan setelah Arso Aisnak dan Yohanes KY tewas dalam kontak senjata, pimpinan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Manfret Fatem memilih melarikan diri bersama sisa anggota kelompoknya ke dalam hutan.

Dalam keterangannya, Lucky menyebut Arso Aisnak dan Yohanes KY sebagai duet maut atau pasangan algojo yang disebut selalu menjadi eksekutor setiap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya.

Di lokasi kontak senjata, pasukan TNI disebut menemukan sejumlah barang yang menurut Lucky merupakan milik OPM. Barang tersebut antara lain satu pucuk senjata api jenis revolver beserta pelurunya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa bilah senjata tajam, alat komunikasi, dan dua lembar bendera bintang kejora.

" Di lokasi kami temukan sejumlah barang milik OPM, antar lain satu pucuk senjata api jenis revolver beserta pelurunya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa bilah senjata tajam, alat komunikasi dan dua lembar bendera bintang kejora," ujarnya.

Pasukan TNI Disebut Masih Mengejar

Lucky mengatakan pasukan saat ini terus melakukan pengejaran terhadap Manfret Fatem beserta sisa anggota TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Ia mengatakan pengejaran dilakukan untuk menangkap mereka dalam keadaan hidup atau mati.

Menurut Lucky, langkah tersebut ditujukan agar kejahatan kemanusiaan yang disebutnya antara lain pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, dan pembunuhan tidak lagi terjadi di tanah Papua, khususnya di Sorong, Papua Barat Daya.

"Saya ingatkan kembali kepada seluruh Anggota TPNPB-OPM, dimanapun kalian berada. TNI-Polri bersama seluruh aparat penegak hukum akan terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua, baik dalam keadaan hidup atau mati," ujarnya.

Ia mengatakan seluruh personel TNI di bawah kendali Kogabwilhan III akan mengambil tindakan berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Menurut dia, Rules of Engagement (ROE) senantiasa dikedepankan untuk memastikan seluruh tindakan prajurit tetap profesional serta menjunjung tinggi hukum dan HAM.

Pangkogabwilhan juga memastikan Satgas TNI tidak akan ragu mengambil tindakan tegas dan terukur ketika menghadapi situasi tertentu, khususnya dalam kondisi mendesak.

Prinsip keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi atau salus populi suprema lex esto, kata Lucky, senantiasa menjadi pedoman Satgas TNI, terutama dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai kekejian OPM.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online