Perempuan 64 Tahun Selamat Setelah 10 Hari Tertimbun Reruntuhan di Nepal

Newswire
Newswire Minggu, 06 September 2026 17:57 WIB
Perempuan 64 Tahun Selamat Setelah 10 Hari Tertimbun Reruntuhan di Nepal

Perempuan 64 tahun di Nepal ditemukan selamat setelah 10 hari tertimbun reruntuhan akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Rasuwa. /Instagram.

Harianjogja.com, INTERNASIONAL— Seorang perempuan berusia 64 tahun di Nepal ditemukan dalam kondisi selamat setelah 10 hari terjebak di bawah reruntuhan bangunan akibat banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut. Perempuan itu ditemukan di lantai teratas sebuah bangunan empat lantai yang tertimbun material reruntuhan di Betrawati, Nuwakot.

Laporan Kathmandu Post, Sabtu (5/9/2026), yang mengutip Kepolisian Bersenjata Nepal menyebut perempuan tersebut ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tim penyelamat kemudian mengevakuasinya menggunakan helikopter untuk mendapatkan penanganan medis.

Perempuan itu dibawa ke sebuah pangkalan militer Nepal sebelum menjalani perawatan lebih lanjut. Penyelamatan tersebut menjadi kabar menggembirakan di tengah operasi pencarian korban banjir bandang yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Nepal.

Banjir Bandang Terjang Nepal

Banjir bandang menerjang wilayah utara Nepal pada Rabu (26/8/2026) pagi setelah aliran air deras masuk ke Sungai Bhotekoshi. Bencana tersebut berdampak besar terhadap kawasan pegunungan di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet, China.

Arus air yang datang secara tiba-tiba menyapu permukiman, bangunan, hingga berbagai infrastruktur. Sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air turut mengalami kerusakan akibat derasnya aliran banjir.

Bencana juga menyebabkan akses transportasi dan komunikasi di sejumlah titik perbatasan terganggu. Beberapa jembatan runtuh, sementara sejumlah rumah dan bangunan lainnya tersapu arus.

Kawasan Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Banjir juga mencapai Pelabuhan Perbatasan Gyirong di Shigatse, Tibet.

Ratusan Orang Masih Hilang

Besarnya dampak banjir bandang membuat proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan oleh aparat Nepal bersama pihak berwenang China.

Data yang tercantum dalam laporan mengenai bencana tersebut menunjukkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai sedikitnya 160 orang, sementara ratusan lainnya masih belum ditemukan.

Otoritas Nepal mencatat sedikitnya 384 orang masih dinyatakan hilang. Sebagian di antaranya merupakan warga negara asing, termasuk wisatawan dari India, Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Operasi pencarian korban menghadapi berbagai kendala. Cuaca buruk dan kondisi aliran sungai yang masih berbahaya membuat proses evakuasi, termasuk menggunakan helikopter, tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah.

Aparat kepolisian dan militer Nepal bersama pihak berwenang China terus berupaya menemukan warga maupun wisatawan yang masih hilang di kawasan terdampak.

Banjir Datang Secara Tiba-Tiba

Rangkaian bencana tersebut bermula sekitar pukul 09.00 waktu setempat ketika debit air di Sungai Lhende Khola meningkat secara mendadak. Sungai tersebut merupakan salah satu anak Sungai Bhote Koshi yang berada di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet.

Air kemudian meluap dengan cepat tanpa adanya peringatan awal yang memadai. Kondisi tersebut membuat masyarakat di kawasan lembah tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan diri ketika gelombang air bah menerjang.

Memasuki Rabu siang, aliran air berkecepatan tinggi menerjang lembah dan meluas ke Distrik Rasuwa di Nepal serta kawasan Pelabuhan Perbatasan Gyirong di Tibet.

Selain menghancurkan permukiman, banjir memutus akses jalan dan sejumlah pos perbatasan. Jaringan listrik dan komunikasi di wilayah terdampak juga mengalami gangguan hingga terputus.

Diduga Dipicu Longsoran Gletser

Penyebab pasti bencana masih dalam penyelidikan. Namun, laporan mengenai bencana tersebut mengaitkan banjir bandang dengan kemungkinan runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya.

Longsoran es dan batu dari kawasan hulu diduga membawa material dalam jumlah besar dan memengaruhi aliran sungai. Material tersebut kemudian berpotensi membentuk bendungan alami yang menahan air di kawasan pegunungan.

Ketika tekanan air meningkat, bendungan alami tersebut diduga jebol dan melepaskan volume air dalam jumlah besar secara mendadak ke wilayah hilir.

Fenomena semacam itu dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF) atau banjir akibat jebolnya tampungan air yang berkaitan dengan gletser. Aliran air bertekanan tinggi dapat membawa lumpur, batu, dan material lain sehingga meningkatkan daya rusak ketika mencapai kawasan permukiman.

Pencarian Korban Masih Berlangsung

Hingga kini, tim penyelamat masih melakukan pencarian di sepanjang wilayah yang terdampak banjir, termasuk kawasan bantaran Sungai Trishuli hingga perbatasan Tibet.

Penyelamatan perempuan berusia 64 tahun setelah 10 hari tertimbun reruntuhan menjadi salah satu temuan penting dalam operasi tersebut. Kondisinya menunjukkan bahwa kemungkinan menemukan korban yang masih bertahan hidup tetap menjadi perhatian tim penyelamat meskipun bencana telah berlangsung selama beberapa hari.

Sementara itu, proses pencarian warga dan wisatawan yang masih hilang terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan medan pegunungan yang sulit.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online