Anak Krakatau Tetap Siaga Usai Erupsi Menerus 25 Jam

Newswire
Newswire Minggu, 06 September 2026 16:37 WIB
Anak Krakatau Tetap Siaga Usai Erupsi Menerus 25 Jam

PVMBG memastikan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau setelah erupsi menerus 25 jam. Statusnya masih Level III atau Siaga. /Antara.

Harianjogja.com, JAKARTA— Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih terus dipantau setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Meski episode tersebut telah berakhir, aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berada pada tingkat tinggi sehingga statusnya tetap Level III atau Siaga.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan episode erupsi menerus memang telah berhenti. Namun, berdasarkan hasil evaluasi aktivitas vulkanik, kemungkinan terjadinya letusan susulan masih tergolong tinggi.

"Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB," ujar Siti dalam konferensi pers, Minggu.

Erupsi Susulan Terjadi

Setelah episode erupsi menerus berakhir, PVMBG masih mencatat aktivitas erupsi susulan. Pada Minggu pukul 03.53 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami satu kali erupsi bertipe Strombolian dengan durasi sekitar 30 detik.

PVMBG untuk sementara menginterpretasikan erupsi tersebut sebagai penanda berakhirnya episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung selama sekitar 25 jam.

Pemantauan visual pada periode 5-6 September 2026 menunjukkan kondisi Gunung Anak Krakatau dapat terlihat jelas meskipun sesekali tertutup kabut.

Melalui CCTV, PVMBG mengamati kolom erupsi berwarna merah yang terlihat dominan pada malam hari. Sementara pada siang hari, kepulan berwarna kehitaman tampak membumbung dari kawasan gunung api.

Aktivitas Vulkanik Masih Dinamis

Selain mengandalkan pengamatan visual, PVMBG terus memantau perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui instrumen kegunungapian.

Energi aktivitas vulkanik yang diukur menggunakan rerata amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat meningkat pada 5 September 2026. Namun, pada 6 September 2026, indikator tersebut menunjukkan tren penurunan.

Sementara itu, data Tiltmeter Stasiun Tanjung masih memperlihatkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus 2026. Berbeda dengan Stasiun Tanjung, Stasiun Lava93 menunjukkan pola yang relatif mendatar atau konstan.

Siti menegaskan berakhirnya episode erupsi menerus tidak berarti aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah sepenuhnya berhenti.

Dinamika vulkanisme masih berlangsung sehingga potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan tetap tergolong tinggi.

Bahaya Erupsi Anak Krakatau

PVMBG menyebut terdapat sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai apabila aktivitas erupsi kembali meningkat. Bahaya tersebut antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Selain itu, apabila erupsi menerus kembali terjadi, terdapat kemungkinan munculnya aliran lava.

Atas dasar evaluasi tersebut, PVMBG mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Warga Pesisir Diminta Tetap Tenang

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang berada di pesisir Pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang. Warga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, termasuk informasi hoaks mengenai potensi tsunami akibat aktivitas erupsi.

Masyarakat masih dapat menjalankan aktivitas secara normal dengan tetap mengikuti arahan dari BPBD setempat dan memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber informasi resmi.

"Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus kami evaluasi secara berkala. Selama laporan evaluasi berikutnya belum diterbitkan, status Level III Siaga dan seluruh rekomendasinya tetap berlaku," sebut Siti.

PVMBG dan instansi terkait akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung api di Selat Sunda. Masyarakat juga disarankan memperoleh informasi terbaru melalui kanal resmi PVMBG Badan Geologi maupun aplikasi Magma Indonesia.

Dengan status Level III Siaga yang masih berlaku, rekomendasi untuk tidak mendekati radius tiga kilometer dari pusat aktivitas tetap harus dipatuhi. Evaluasi selanjutnya akan menjadi dasar bagi PVMBG untuk menentukan perkembangan status dan rekomendasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online