Prabowo Targetkan Swasembada Daging, Danantara Gandeng JBS

Anggara Pernando
Anggara Pernando Jum'at, 14 Agustus 2026 12:47 WIB
Prabowo Targetkan Swasembada Daging, Danantara Gandeng JBS

Foto ilustrasi daging sapi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada daging dalam lima tahun ke depan. Pemerintah akan mengandalkan peningkatan produksi domestik sekaligus mengakses teknologi dan pengetahuan dari perusahaan peternakan kelas dunia.

Target tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Jumat (14/8/2026). Menurut dia, Indonesia telah mencapai swasembada protein untuk komoditas perikanan, telur, dan ayam, sedangkan kebutuhan daging sapi dan kerbau masih dalam proses menuju swasembada.

"Untuk daging sapi dan kerbau sedang menuju [swasembada]," kata Prabowo.

Pemerintah Bidik Teknologi Peternakan Dunia

Untuk mempercepat pengembangan peternakan nasional, Prabowo mengatakan pemerintah akan membeli perusahaan-perusahaan terbaik di dunia. Langkah tersebut ditujukan untuk memperoleh teknologi sekaligus hak kekayaan intelektual (IP) yang dapat digunakan dalam pengembangan peternakan Indonesia.

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian pemerintah adalah cloning untuk mempercepat pengembangbiakan ternak.

"Kita akan beli perusahaan terbaik dunia untuk membawa teknologi hingga pengetahuannya," ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan pengumuman terbaru Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) terkait pembelian perusahaan sapi untuk mengakses teknologi tersebut.

Danantara Gandeng JBS

Upaya memperkuat ekosistem protein nasional juga dilakukan melalui kemitraan Danantara Investment Management (DIM) dengan JBS Group, produsen protein global.

Pada 7 Agustus 2026, DIM mengumumkan kemitraan strategis jangka panjang dengan JBS dengan nilai investasi awal US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.

Melalui transaksi tersebut, Danantara akan memiliki 25 persen saham pada perusahaan patungan atau joint venture (JV) baru yang mengelola operasional JBS di Australia dan Selandia Baru.

JV tersebut juga mempunyai kapasitas investasi tambahan hingga US$2,5 miliar secara bertahap. Dengan demikian, total modal yang tersedia dapat mencapai US$5 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai akuisisi dan investasi greenfield di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Danantara Buka Akses Jaringan JBS

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Patria Sjahrir mengatakan kemitraan dengan JBS membuka akses terhadap ekosistem bisnis perusahaan di pasar internasional.

Selain pengalaman, kerja sama tersebut juga memberikan akses terhadap jaringan distribusi perusahaan protein global tersebut.

“Selain mendapatkan akses terhadap ekosistem bisnis yang telah mapan di pasar internasional yang maju, kemitraan ini diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman sekaligus jalur distribusi dari perusahaan protein global terkemuka yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan jangka panjang sektor protein Indonesia,” kata Pandu dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).

Global Chief Executive Officer JBS Gilberto Tomazoni mengatakan kerja sama dengan Danantara merupakan bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang JBS di Asia Tenggara.

Menurut Gilberto, bisnis JBS di Australia dan Selandia Baru memiliki operasional dan standar yang kuat serta potensi pertumbuhan.

“Bersama Danantara, kami berada pada posisi yang tepat untuk memperluas kehadiran kami di Indonesia dan Asia Tenggara, memperkuat rantai pasok protein regional, memperluas akses pasar, serta mempercepat pengembangan sektor protein Indonesia,” ujar Gilberto.

Danantara menyatakan transaksi tersebut masih bergantung pada persetujuan regulator dan penyelesaian sejumlah persyaratan transaksi.

Pemerintah Targetkan 1.038 Kampung Nelayan

Selain daging sapi dan kerbau, Prabowo mengatakan pemerintah juga akan memperkuat sektor perikanan.

Pemerintah menargetkan pembangunan 1.038 kampung nelayan hingga akhir 2026. Kawasan tersebut dirancang sebagai kawasan terpadu yang mencakup fasilitas pelelangan, pendinginan, serta fasilitas sosial.

Pembangunan berbagai infrastruktur tersebut ditujukan untuk memperkuat ekosistem produksi dan distribusi hasil perikanan nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis