AS Lirik Peluang Investasi di RI, dari Nuklir hingga Infrastruktur

Newswire
Newswire Rabu, 08 Juli 2026 11:47 WIB
AS Lirik Peluang Investasi di RI, dari Nuklir hingga Infrastruktur

Foto ilustrasi investasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Korporasi Pembiayaan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (U.S. International Development Finance Corporation/DFC) melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama investasi di Indonesia, khususnya di sektor energi nuklir hingga layanan keuangan.

Kepala Bidang Kebijakan DFC, Caroline Vik, menyampaikan bahwa potensi tersebut muncul setelah pihaknya melakukan pertemuan dengan pelaku sektor swasta di Indonesia.

“Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta mengungkapkan berbagai peluang menarik, terutama di bidang energi nuklir dan jasa keuangan,” ujarnya dalam konferensi pers daring, Rabu (8/7/2026).

Peluang di Infrastruktur hingga Energi

Selain sektor swasta, DFC juga melihat prospek kerja sama yang luas dengan pemerintah Indonesia. Beberapa sektor yang dinilai potensial antara lain transportasi, pembangunan infrastruktur, pelabuhan baru, serta pengelolaan mineral kritis.

Menurut Vik, pemerintah Indonesia juga tengah berfokus pada peningkatan ketahanan energi nasional, termasuk melalui penguatan sektor hulu (upstream) dan infrastruktur energi tingkat menengah (midstream).

“Kami membahas upaya peningkatan ketahanan energi melalui eksplorasi hulu serta pengembangan infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi,” jelasnya.

Kapasitas Investasi DFC Meningkat

DFC merupakan lembaga keuangan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat yang berperan penting dalam diplomasi ekonomi negara tersebut. Lembaga ini menyalurkan pembiayaan untuk mendukung pembangunan ekonomi strategis sekaligus kebijakan luar negeri AS.

Seiring perluasan kewenangan dari Kongres AS, kapasitas investasi DFC meningkat signifikan, dari sebelumnya 60 miliar dolar AS menjadi 205 miliar dolar AS.

Kunjungan Caroline Vik ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dilakukan pada 19–25 Juni 2026. Dalam lawatan tersebut, ia bertemu pejabat pemerintah dan pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan ekonomi serta menjajaki peluang investasi di berbagai sektor prioritas.

Sektor-sektor tersebut meliputi energi, teknologi, mineral kritis, keamanan rantai pasok, farmasi, hingga infrastruktur strategis dan digital.

RI-AS Perkuat Kemitraan Industri

Di sisi lain, Indonesia dan Amerika Serikat terus memperkuat kemitraan industri melalui peningkatan investasi dan pengembangan rantai pasok global.

Hal ini menjadi fokus dalam pertemuan Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, bersama KBRI Washington DC dengan US Chamber of Commerce dan AmCham Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menawarkan berbagai peluang investasi, termasuk besarnya pasar domestik serta pesatnya pertumbuhan ekonomi digital yang diproyeksikan meningkat dari 82 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 99 miliar dolar AS pada 2025.

“Indonesia memiliki talenta yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan siap mendukung investasi serta transfer pengetahuan,” kata Indroyono.

Reformasi Regulasi dan Proyek Prioritas

Pemerintah Indonesia juga terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi, termasuk penerapan PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

Selain itu, pemerintah menyediakan daftar proyek prioritas melalui Blue Book Bappenas yang dapat diakses oleh investor asing, termasuk dari Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah perusahaan global seperti Boeing, Nike, Hamilton Beach, dan Freeport-McMoRan.

Peluang di Sektor Penerbangan

Di sektor penerbangan, Boeing melihat peluang bagi industri Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok global perusahaan.

Kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia menjadi salah satu contoh kolaborasi yang telah berjalan.

Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi pasar penumpang pesawat terbesar keempat di dunia pada 2036, dengan kebutuhan sekitar 600 pesawat baru sekelas Boeing 737.

Selain itu, Boeing juga bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam program pengembangan kepemimpinan serta menjalin kolaborasi dengan Pertamina untuk pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online