Bapanas Gelar 5.597 GPM Sepanjang 2026, Harga Pangan Mulai Terkendali

Newswire
Newswire Rabu, 08 Juli 2026 09:27 WIB
Bapanas Gelar 5.597 GPM Sepanjang 2026, Harga Pangan Mulai Terkendali

Komoditas beras SPHP dan minyak goreng yang dijual dalam Gerakan Pangan Murah (GPM). ANTARA/HO-Dokumentasi Bapanas.

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah terus menggencarkan operasi stabilisasi harga melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Badan Pangan Nasional mencatat sebanyak 5.597 GPM telah digelar di 37 provinsi dan 378 kabupaten/kota.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, langkah masif ini menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas harga pangan, menekan inflasi, serta memperkuat daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi.

“Selama Januari sampai Juni 2026 telah terlaksana GPM sebanyak 5.597 kali di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Tiga provinsi dengan pelaksanaan GPM terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sementara itu, Papua Pegunungan tercatat belum melaksanakan program tersebut.

Program GPM menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, mulai dari beras, telur, gula, minyak goreng, hingga bawang dan cabai. Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi lintas sektor, termasuk dukungan Perum Bulog dan ID FOOD sebagai penyedia stok pangan dalam skala besar.

Selain itu, keterlibatan TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha swasta turut memperkuat distribusi pangan agar lebih merata dan tepat sasaran.

Amran menegaskan, ketersediaan pangan nasional saat ini sebagian besar masih ditopang produksi dalam negeri. Hal ini membuat Indonesia relatif tidak bergantung pada impor dan mampu menjaga stabilitas harga dari hulu hingga hilir.

Dampaknya mulai terlihat pada tren inflasi pangan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pangan tahunan (year-on-year) turun dari 6,24% pada Mei 2026 menjadi 5,58% di Juni 2026. Angka ini semakin mendekati target pemerintah di kisaran 3–5%.

Sementara itu, inflasi pangan bulanan juga menurun dari 0,22% menjadi 0,14%. Komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Adapun secara tahunan, tekanan inflasi masih dipengaruhi beras, cabai merah, cabai rawit, serta daging ayam ras.

Untuk inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd), capaian juga menunjukkan perbaikan. Hingga Juni 2026, inflasi pangan tercatat 1,61%, turun dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 2,15%. Penurunan ini menandakan kondisi harga pangan nasional semakin stabil.

Ke depan, pemerintah akan terus memperluas cakupan GPM guna memastikan akses pangan murah bagi masyarakat tetap terjaga. Program ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus menekan gejolak harga di pasar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online