1.300 tewas Karena Gelombang Panas, WHO Sebut sebagai Pembunuh Senyap

Jumali
Jumali Senin, 29 Juni 2026 17:57 WIB
1.300 tewas Karena Gelombang Panas, WHO Sebut sebagai Pembunuh Senyap

Ilustrasi cuaca panas./ Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa sejak 21 Juni 2026 memicu krisis kesehatan dan kemanusiaan yang kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat suhu yang memecahkan rekor di berbagai wilayah, sementara jutaan lainnya menghadapi risiko kesehatan serius.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut panas ekstrem sebagai “pembunuh senyap” karena dampaknya yang sering kali tidak terlihat langsung, tetapi berakibat fatal bagi kesehatan masyarakat.

“Tekanan panas sering disebut sebagai pembunuh senyap — rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu seperti ini,” tulis Tedros melalui media sosial.

Peringatan tersebut muncul ketika sekitar satu juta warga berada di kawasan terdampak gelombang panas. Sejumlah sekolah ditutup, sementara sistem kelistrikan di beberapa wilayah menghadapi tekanan akibat lonjakan penggunaan pendingin ruangan.

Fenomena cuaca ekstrem ini memecahkan berbagai rekor suhu di Eropa. Di Jerman, suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di Coschen dekat perbatasan Polandia, menjadi rekor tertinggi yang tercatat selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Republik Ceko mencatat suhu 41,1 derajat Celsius di Doksany.

BBC melaporkan, negara-negara yang biasanya memiliki iklim lebih sejuk juga mengalami kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Denmark mencatat suhu 37 derajat Celsius di Ødum, menjadi suhu tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1874. Di Polandia, suhu mencapai 40,5 derajat Celsius di Słubice, sementara Swiss mencatat 38,8 derajat Celsius di Basel.

Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan sektor kesehatan, tetapi juga infrastruktur. Jalan tol Autobahn A2 di Jerman mengalami kerusakan akibat suhu tinggi hingga memaksa penutupan sementara. Operator kereta nasional Jerman juga mengimbau masyarakat menunda perjalanan yang tidak mendesak karena gangguan operasional.

Sebuah panti jompo di Dormagen, Jerman, bahkan harus dievakuasi setelah suhu di dalam bangunan mencapai 35 derajat Celsius dan membahayakan penghuni lanjut usia.

Di Prancis, situasi menjadi salah satu yang paling serius. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni, mayoritas terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Jumlah kematian di rumah meningkat hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal.

Rumah sakit di Paris juga mengalami lonjakan pasien. Dalam kurun 24 jam, hampir 3.000 pasien darurat ditangani, meningkat lebih dari sepertiga dibandingkan rata-rata harian. Panggilan ke layanan medis darurat juga melonjak hampir 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah di Prancis, Swiss, Jerman, Austria, dan Hongaria telah menetapkan status kewaspadaan tertinggi untuk menghadapi kondisi tersebut. Sejumlah kegiatan publik turut terdampak. Festival musik besar Defqon.1 di Belanda dibatalkan, sementara beberapa agenda publik di Paris harus dijadwal ulang demi alasan keselamatan.

WHO menegaskan bahwa Eropa saat ini merupakan kawasan dengan tingkat pemanasan tercepat di dunia, mencapai dua kali rata-rata global. Menurut Tedros, perubahan iklim membuat fenomena yang dahulu dianggap terjadi sekali dalam seratus tahun kini muncul hampir setiap tahun.

“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang dulu dianggap 'sekali dalam seratus tahun' kini terjadi hampir setiap tahun,” tegasnya.

WHO mengingatkan bahwa paparan suhu ekstrem dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari serangan panas, dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis diminta membatasi aktivitas luar ruangan, memperbanyak konsumsi cairan, dan menghindari paparan panas pada jam-jam puncak. Para ahli memperkirakan gelombang panas akan terus bergerak ke wilayah timur laut Eropa dalam beberapa hari ke depan dan berpotensi memunculkan dampak yang lebih luas apabila suhu tetap bertahan di level ekstrem.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online