Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 2026, Bromo Ditutup 4 Hari

Newswire
Newswire Sabtu, 30 Mei 2026 16:47 WIB
Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 2026, Bromo Ditutup 4 Hari

Wisata Gunung Bromo. /Antarafoto

Harianjogja.com, PROBOLINGGO—Rangkaian sakral Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 Masehi resmi dimulai melalui pelaksanaan ritual Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kabupaten Probolinggo, Jumat (29/5/2026). Prosesi yang menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Suku Tengger itu sekaligus diikuti dengan penutupan sementara kawasan wisata Gunung Bromo selama empat hari untuk menghormati pelaksanaan upacara keagamaan tersebut.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menetapkan penutupan kawasan wisata Gunung Bromo pada 30 Mei hingga 2 Juni 2026. Kebijakan itu dilakukan agar seluruh rangkaian ritual Yadnya Kasada dapat berlangsung khidmat tanpa gangguan aktivitas wisata.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menjelaskan ritual Mendak Tirta merupakan tahapan penting dalam rangkaian Yadnya Kasada karena melambangkan penyucian diri, alam semesta, sekaligus sarana peribadatan bagi masyarakat Tengger.

"Ritual Mendak Tirta merupakan tahapan penting dalam rangkaian Yadnya Kasada, karena menjadi simbol penyucian diri, alam semesta dan sarana peribadatan," kata Bambang Suprapto dalam keterangannya di Probolinggo, Sabtu.

Dalam prosesi tersebut, puluhan warga Tengger berjalan kaki menuju sumber mata air suci di kawasan Madakaripura untuk mengambil tirta atau air suci. Air tersebut nantinya digunakan dalam prosesi penyucian berbagai perlengkapan ibadah menjelang puncak Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten yang berada di Lautan Pasir Gunung Bromo.

Ritual berlangsung dengan penuh khidmat. Kegiatan diawali dengan doa bersama dan persembahan sesaji hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Tengger. Prosesi kemudian dipimpin oleh pemangku Desa Ngadas, Slamet, yang membacakan mantra-mantra suci sebelum pengambilan air dilakukan para pandita dan tokoh adat Tengger.

"Air suci yang diambil dari empat sumber mata air sakral dikumpulkan menjadi satu dan digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum puncak pelaksanaan Yadnya Kasada," katanya.

Bambang menjelaskan, selain Madakaripura, terdapat tiga sumber mata air sakral lain yang menjadi lokasi pengambilan tirta, yakni Sumber Watu Klosot dan Ranu Pane di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, serta mata air Widodaren yang berada di kawasan Gunung Bromo.

“Pengambilan tirta dilakukan serentak oleh masyarakat Tengger dari tiga wilayah. Warga Probolinggo menuju Madakaripura, warga Kabupaten Pasuruan mengambil tirta di Widodaren dan warga Kabupaten Lumajang di kawasan Ranu Pane,” katanya.

Pemilihan Madakaripura sebagai lokasi ritual bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Tengger karena diyakini sebagai tempat moksa Patih Gajah Mada setelah menerima tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk, sebagaimana tercatat dalam Kitab Negarakertagama.

"Kepercayaan itu menjadikan sumber mata air Madakaripura dianggap memiliki kesucian dan keberkahan yang diwariskan oleh para leluhur," ujarnya.

Sementara itu, Camat Sukapura, Nur Rachmat Sholeh, mengatakan pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian tradisi dan budaya masyarakat Tengger yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.

“Mendak Tirta adalah ritual tahunan masyarakat Tengger yang memiliki nilai spiritual dan budaya sangat tinggi. Pemerintah akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ritual Mendak Tirta menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian Yadnya Kasada yang berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Tradisi tersebut dijalankan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus penghormatan terhadap amanat leluhur Tengger yang terus dijaga hingga kini.

Puncak Yadnya Kasada akan berlangsung di Pura Luhur Poten dan Kawah Gunung Bromo melalui prosesi pelarungan hasil bumi serta berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur masyarakat Tengger atas berkah yang diterima sepanjang tahun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online